Efektivitas PSBB Hanya 40 Persen, Saatnya Masuk Taktik New Normal? Warga memadati objek wisata saat libur lebaran Idul Fitri 1441 H di Pantai Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang, Banten saat pemberlakuaan PSBB menangkal penyebaran COVID-19. (MP/Rizki Fitrianto)

MerahPutih.com - Wacana pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan new normal 'berdamai' dengan COVID-19 tengah menguat di Indonesia. Publik tentu penasaran seberapa efektif PSBB selama lama. Terutama dalam menekan lanjut pertumbuhan kasus di Tanah Air dan perbandingannya dengan negara-negara lain.

Merujuk riset Lifepal dikutip Kamis (28/5), PSBB di Indonesia memang sukses mengurangi mobilitas masyarakat hingga 40%, tetapi belum mampu menurunkan jumlah kasus positif Covid-19 harian. Sebaliknya, riset yang sama menunjukkan penurunan kasus signifikan terjadi pada negara-negara yang membatasi mobilitas masyarakatnya hingga di atas 70%.

Baca Juga

Ketua MPR Peringatkan Pemerintah Tak Paksakan New Normal

Sejak 10 Maret hingga 19 Mei 2019, mobilitas atau pergerakan masyarakat ke berbagai pusat aktivitas di Indonesia mengalami penurunan. Contohnya aktivitas di taman dan ruang terbuka yang menurun hingga 36%, di pusat retail dan rekreasi yang menurun hingga 38%, di stasiun dan terminal transit yang menurun hingga 53%, dan di tempat kerja yang menurun hingga 36%. Total, rata-rata penurunan mobilitas masyarakat Indonesia adalah 40%.

kurva covid-19
Kurva COVID-19 di Indonesia. (Lifepal)

Penurunan mobilitas ini tentunya diharapkan akan menurunkan penambahan kasus positif COVID-19. Namun, faktanya belum terlihat adanya tren penurunan pada grafik kurva jumlah kasus positif COVID-19 harian.

Misalnya saja pada 20 Mei, di mana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melaporkan adanya tambahan 693 kasus terkonfirmasi positif COVID-19. Angka tersebut tidak lebih sedikit dari angka yang dicatat tepat sebulan sebelumnya, pada 20 April, di mana ditemukan 185 kasus terkonfirmasi positif. Artinya, alih-alih turun, tren yang ditunjukkan justru cenderung naik.

Jumlah kasus menurun signifikan apabila mobilitas ditekan hingga lebih dari 70%. Fakta menarik bisa kita lihat dari sejumlah negara di Eropa yang memberlakukan pembatasan sosial dalam bentuk kebijakan lockdown. Spanyol, Italia, dan Prancis sukses menekan mobilitas masyarakat hingga lebih dari 70%.


Indonesia Mirip AS, Inggris, Swedia, dan Kanada

Nyatanya Indonesia bukan satu-satunya negara yang penurunan mobilitasnya belum mampu menurunkan tren penambahan jumlah kasus harian. Amerika Serikat misalnya, hanya mencatat penurunan mobilitas sebanyak 36%. Kurva penambahan kasus harian di Negara Paman Sam pun cenderung naik turun, belum menunjukkan tren penurunan yang signifikan.

Kondisi serupa juga ditunjukkan pada kurva kasus harian di Inggris, Swedia, dan Kanada. Penurunan mobilitas masyarakat yang hanya di level 20% hingga 50% tidak mampu menurunkan penambahan jumlah kasus yang berarti. Terlihat dalam grafis di bawah, penurunan mobilitas yang signifikan di negara-negara berikut ini tidak efektif menekan penambahan kasus harian.

grafis covid
Tren kurva pertumbuhan kasus COVID-19. (Lifepal)


Indonesia Bisa Belajar dari Spanyol, Italia dan Prancis


Jika ingin menekan penyebaran Covid-19, yang kemudian menurunkan jumlah kasus positif harian, nampaknya Indonesia harus belajar dari Spanyol, Italia, dan Prancis. Menurunkan pergerakan masyarakat hingga di atas 70%, ketiga negara tersebut sudah mulai melonggarkan lockdown sejak awal Mei lalu.

Pelonggaran, seperti di Italia, dilakukan secara bertahap. Mulai 4 Mei lalu, pemerintah memperbolehkan masyarakat berkunjung ke rumah kerabat mereka di satu daerah, mengizinkan kafe dan restoran untuk memberikan layanan take away. Namun, semua harus dilakukan dengan protokol kesehatan ketat, seperti memakai masker dan menerapkan social distancing.

Tahap dua, mulai 18 Mei, peribadatan mulai diperbolehkan dilakukan di rumah ibadah, tetap dengan protokol kesehatan ketat. Jika semua berjalan lancar, pembukaan pusat kebugaran dan kolam renang akan dilakukan pada 25 Mei.

jokowi
Presiden Joko Widodo (tengah) meninjau salah satu pusat perbelanjaan di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (26/5/2020). ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/hp

Kondisi yang berbeda kita lihat saat ini di tanah air. Pada Kamis, 21 Mei, Indonesia mencatat rekor penambahan kasus dalam satu hari, yakni 973 kasus positif. Meski belum ada tren penurunan jumlah kasus positif Covid-19 harian, wacana pelonggaran PSBB sudah mulai dilontarkan pemerintah.

Misalnya saja dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang menyebutkan bahwa DKI Jakarta adalah salah satu provinsi yang dinilai paling siap untuk memberlakukan pelonggaran PSBB. Dasar pernyataan tersebut adalah tingkat penyebaran virus diukur dari angka reproduksi efektif (Rt) virus yang harus di bawah 1,0.

Rt di bawah 1,0 menunjukkan adanya penurunan kasus, sedangkan jika di atas 1,0 mencerminkan adanya penambahan kasus. Apabila DKI Jakarta dapat mempertahankan angka Rt di bawah 1,0 selama 14 hari ke depan sejak 18 Mei lalu, maka pelonggaran PSBB di provinsi ini mungkin untuk diterapkan.

Selain itu, angka tes di DKI Jakarta yang sudah mencapai 5.500 tes per satu juta penduduk, serta memadainya jumlah tempat tidur dan ruang IGD untuk merawat pasien Covid-19 juga dinilai sebagai syarat yang cukup untuk melonggarkan PSBB. (*)

Baca Juga:

Istana Jelaskan Maksud Jokowi Berdamai dengan COVID-19 Itu The New Normal


Tags Artikel Ini

Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH