Efek Traumatis Berita Terorisme Bagi Anak TK dan Cara Mengatasinya Ilustrasi (Pixalbay)

ISU pengeboman menjadi headline hampir di semua media di Indonesia. Berita tersebut tak hanya menarik perhatian masyarakat yang masuk kategori cukup umur, tetapi juga anak-anak di bawah umur. Seberapapun kuatnya para orang tua mengontrol, derasnya arus informasi membuat anak-anak tetap mengetahui berita tentang terorisme yang akhir-akhir ini terjadi. Belum lagi arus informasi terorisme dari media social.

Ironisnya, informasi yang beredar terkadang memuat konten yang tidak layak disaksikan anak-anak di bawah umur. Isu terorisme yang diunggah di media sosial memuat foto korban atau rekaman CCTV detik-detik kejadian. Konten tersebut tentu mengundang respon berbeda dari tiap anak. Respon tersebut ditentukan oleh sejumlah faktor salah satunya usia dan nalar mereka.

Anak-anak usia TK tentu lebih sulit memahami apa yang dilihat di media daripada anak-anak SD, SMP atau SMA.

Psikolog Rena Masri menjelaskan bahwa pemahaman anak TK terhadap terorisme berbeda dengan anak SMP dan SMA. Efek traumatis yang dihasilkan pun akan berbeda.

anak
Ajak anak mengapresiasi kerja aparat keamanan. (foto: dailyexpress)

“Anak TK yang belum terpapar informasi terorisme, saat melihat foto korban terorisme efek traumatisnya lebih mendalam,” ujar Rena. Tingkat kecemasan yang mereka alami pun lebih tinggi dibandingkan anak remaja tingkat SD lanjutan (usia 10 tahun ke atas), SMP ataupun SMA.

Dalam perjalanan hidupnya, anak-anak usia 10 tahun ke atas sudah terpapar gambar-gambar kekerasan sehingga lebih familiar dengan aksi terorisme. Mereka juga bisa bertukar informasi dengan temannya di sekolah mengenai hal yang terjadi. Saat bertukar informasi, anak-anak usia 10 tahun ke atas ini mendapat informasi tambahan sehingga bisa menyimpulkan sendiri. “Diskusi yang mereka lakukan juga bisa mereduksi ketegangan,” tutur Rena.

Berbeda dengan anak-anak yang masih TK. Informasi yang didapatkan anak TK terbatas. Mereka tidak tahu harus sharing kepada siapa. Kesulitan dalam mengungkapkan emosi membuat memori otak mereka merekam informasi tersebut secara utuh dan akan terbayang-bayang. Pendampingan orang tua pascateror sangat dibutuhkan oleh mereka.

“Ketika anak menanyakan tentang berita teror yang ia lihat atau baca, jelaskan saja secara logis dan sederhana sehingga dapat dimengerti anak,” demikian saran Rena.

Ilustrasi. (Pixabay)

Sebelum menjelaskan, kita dapat bertanya kepada anak mengenai perasaan mereka saat melihat berita tersebut. Dengarkan penjelasan mereka. Setelah anak bercerita mengenai perasaannya dan apa yang mereka ketahui, kita bisa memberi penjelasan yang singkat, padat dan jelas. Usahakan tetap tenang ketika memberi penjelasan mengenai terorisme kepada anak.

“Penjelasan tersebut bisa disesuaikan dengan usia dan daya tangkap anak,” jelasnya.

Hindari paparan terhadap televisi dan media sosial yang kerap memperlihatkan adegan sadis yang tak layak dilihat anak di bawah usia 12 tahun.

Kita juga bisa mengajak anak untuk mengapresiasi usaha yang dilakukan polisi, TNI, dan tenaga medis dalam menghadapi hal ini. Kesigapan mereka dalam menangani tindak terorisme membuat anak mendapat gambaran lain yang lebih positif. Keberanian dan ketangguhan mereka dalam bekerja akan lebih membuat anak terkesan dibandingkan aksi yang dilakukan para teroris. (Avia)


Tags Artikel Ini

Thomas Kukuh

LAINNYA DARI MERAH PUTIH