Edukasi Seks Kurang, Angka HIV/AIDS di Indonesia Bertambah Yayasan AIDS Indonesia mengampanyekan kesadaran akan HIV/AIDS. (foto: MP/Rizki Fitrianto)

EDUKASI seks di Indonesia masih sangat rendah dan dianggap sebagai hal yang tabu. Penjelasan seputar sistem reproduksi sering disalahartikan sebagai bentuk legitimasi atas seks bebas.

Informasi seputar kesehatan reproduksi hanya didapatkan di bangku sekolah. Itu pun minim. Banyak informasi seputar kesehatan reproduksi yang tidak tersampaikan secara maksimal. "Orangtua tidak pernah membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan seksual karena canggung dan tidak ingin dipandang negatif oleh anaknya," ujar Koordinator Yayasan AIDS Indonesia Andrian Yuliyanto saat ditemui di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Minggu (1/12).

BACA JUGA: Jumlah Penderita AIDS di Indonesia Tinggi, Pendidikan Seks Rendah

Kurangnya informasi seputar seksual membuat orang mencari tahu sendiri dengan cara yang salah. Mereka bereksplorasi. Beberapa di antara terjebak dalam aktivitas seksual berisiko. Akibatnya, penyakit menular seksual, salah satunya HIV/AIDS, mengintai mereka. "Edukasi tentang seks dan penanggulangan HIV AIDS sangat perlu supaya masyarakat lebih berhati-hati," ucap Andrian.

Selain mencegah terjangkitnya HIV, informasi dasar seputar HIV/AIDS juga perlu disampaikan agar stigma seputar ODHA (Orang dengan HIV AIDS) terhapuskan. "Tanpa informasi dasar, masyarakat akan mengucilkan penderita," tutur Andrian.

Pengetahuan HIV/AIDS
Pengetahuan seputar HIV/AIDS amat penting. (foto: MP/Rizki Fitrianto)

Mengucilkan penderita berarti meningkatkan potensi kematian pada mereka. Menurut bidan yang menangani anak dengan HIV/AIDS Ropina Tarigan, cemooh masyarakat membuat para ODHA tidak semangat menjalani hidup. "Mereka akan pikir, 'untuk apa saya hidup?'. Lebih baik mati," cetus perempuan yang akrab disapa Bidan Vina tersebut.

Ketika pasien tertekan dan kehilangan semangat hidup, mereka akan menghentikan pengobatan yang wajib dilakukan seperti mengonsumsi ARV (antiretroviral). "Kalau minum obat secara disiplin, mereka bisa hidup normal seperti kita. Sebaliknya, jika mereka enggan minum obat maka tubuh lebih rawan terjangkit virus," urainya.

Virus-virus tersebut akan berkembang dengan pesat dan menyerang organ tubuh mereka. Misalnya, mata, paru-paru, liver, dan lain-lain. "Risiko kematian pun akan meningkat," tambah Bidan Vina.

Hari AIDS
Momen Hari AIDS jadi saat mengampanyekan isu tersebut. (foto: MP/Rizki Fitrianto)

Untuk menghindari hal itu, Yayasan AIDS Indonesia secara konsisten terus mengedukasi masyarakat. "Cara yang kami lakukan adalah dengan penyuluhan setiap hari mulai dari Januari hingga saat ini." ungkap Andrian. Wilayah utama Yayasan AIDS Indonesia adalah Jabodetabek dengan targetnya anak-anak sekolah mulai SMP, SMA, Komunitas, Perguruan Tinggi dan lain-lain.

"Pada dasarnya siapa pun bisa selama mereka bersikap terbuka," kata Andrian. Andrian mengatakan ketika ia menawarkan orang-orang untuk mendapatkan penyuluhan, ada kalanya ia mendapatkan penolakan sejak awal.

"Mereka pikir lingkungan sekitarnya baik-baik saja, kehidupan seksualnya normal-normal saja sehingga enggan mendapatkan informasi mendalam tentang HIV AIDS," ujarnya berkeluh kesah.

"Penyuluhan pencegahan HIV AIDS itu agak susah. Dulu pun ketika mau datang ke sekolah agak susah karena berpikir muridnya baik-baik saja," imbuhnya. Sekarang, institusi pendidikan bersikap lebih terbuka karena sudah terpapar akan informasi seputar HIV AIDS.

Adapun topik yang dibagikan seputar informasi dasar seperti proses penularan, apa itu HIV AIDS, cara pencegahannya hingga risikonya.(avia)

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH