Ecotourism Primata Belum Dikelola Maksimal untuk Pikat Wisatawan Peneliti Konservasi Primata dari UI Jatna Supriatna (MP/Teresa Ika)

MerahPutih.Com - Wisata alam melihat kehidupan hewan primata menjadi daya tarik wisata baru yang patut dikembangkan. Peneliti Konservasi Primata dari UI Jatna Supriatna mengatakan hewan primata berpotensi menarik wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia.

Tren wisata menikmati kehidupan hewan primata sudah populer di luar negeri. Terutama di negara yang memiliki beragam primata unik. Sayangnya potensi ini belum digarap maksimal di Indonesia.

Baca Juga:

Orchid Forest Cikole Lembang Membuka Tangan untuk Nomadic Tourism dan Ecotourism

Padahal Indonesia adalah negara ketiga dengan jumlah primata terbanyak di dunia. Peringkat pertama diduduki oleh Madagaskar dan disusul oleh Brazil.

"Indonesia punya banyak hewan primata unik yang tidak ada di wilayah lainnya. Ada sekitar 61 spesies primata di Indonesia Ada peluang ekonomi wisata primata yang besar," ujar Jatna di simposium dan kongres primata Indonesia kelima di UGM Yogyakarta, Rabu (18/9).

Peneliti Primata ungkap bahwa hewan ini berpotensi pikat wisatawan mancanegara
Peneliti Konservasi Primata dari UI Jatna Supriatna (kiri batik coklat) (MP/Teresa Ika)

Ia mencontohkann Gorila tourism di Madagaskar dan Brazil.

"Di luar negeri, orang-orang ditarik biaya USD $ 150 perorang untuk menyaksikan kehidupan Gorila. Dan selalu penuh. Banyak peminatnya," katanya.

Ia mendorong investor dan pemerintah untuk lebih menggembangkan primata ecotourism. Primata yang dipilih adalah hewan endemik asli Indonesia seperti Orangutan, Tarsius, Lutung Jawa, Yaki dan Kukang.

Hewan Primata bisa pikat wisatawan
Hewan Primata (Foto: antaranews)

"Jadi kita ambil beberapa ekor saja. Masukkan dalam tempat wisata. Lalu pengunjung yang mau lihat kehidupan mereka dibatasi jumlahnya dan waktunya supaya primata tidak terganggu," beber dia.

Baca Juga:

Berkaca dari Prestasi Nihiwatu, Kementerian Pariwisata Dorong Ecotourism

Ia yakin jika diberdayakan dengan maksimal, hasil pendapatan pariwisata primata ini dapat menggairahkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat disekitarnya. Selain itu sebagian hasil wisata bisa dipakai untuk merawat dan melindungi primata dari kepunahan.

Dirjen Konservasi, Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemen LHK Wiratno menyambut baik saran ini. Ia akan menawaekan konsep ecotourism primata pada investor.(*)

Berita ini ditulis berdasarkan laporan Teresa Ika, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Yogyakarta.

Baca Juga:

Talaga Bestari Jungle Walk Kembangkan Eco Wisata dan Taman Rusa

Kredit : patricia


Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH