Dwitra J Ariana, Petani yang Hobi Bikin Film Dwitra J Ariana. (foto: dadap.wordpress)

PEMUDA di masa kini memiliki kiprah yang tak kalah cemerlang dari pendahulunya. Tidak sedikit karya anak bangsa yang diakui dunia internasional. Salah satu karya anak bangsa yang mendapat apresiasi dari khalayak asing, yakni film dokumenter karya pembuat film asal Bali, Dwitra J Ariana.

Pemuda kelahiran Jeruk Mancingan, Bangli, Bali, 1 Juli 1983, ini memulai kiprahnya di dunia perfilman dari teater. Dwitra mengenal teater ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Meskipun demikian, menjadi pembuat film dokumenter tak lantas menjadi pilihan profesi ataupun karier bagi Dwitra. Ia lebih suka disebut petani ketimbang pembuat film.

Hal itu tidak mengherankan mengingat ia tumbuh besar dalam lingkungan keluarga yang agraris. Namun, tentunya pilihannya menjadi petani bisa dibilang tidak lazim untuk standar generasi muda di zamannya. Di saat anak muda lain memilih mengejar karier kantoran sebagai ekskutif muda berdasi, ia lebih memilih bermandi peluh mengolah tanah dan merawat kebun.

Dwitra bukan tak pernah mencoba dunia kantoran. Bahkan ia dulu sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Selain itu, ia juga sempat merasakan bekerja pada perusahaan asing dengan gaji yang menurut dia amat mennjanjikan. Namun, semua itu hanya sanggup ia jalani selama delapan bulan.

"Saya tidak suka jadi buruh. Jadi petani itu buat saya semacam menjadi raja kecil yang berdaulat. Meskipun sebagian besar lahan yang saya jadikan kebun masih mengontrak, menjadi petani memberi saya kebebasan," ujarnya ketika dihubungi merahputih.com, kemarin.

Di saat banyak orang menganggap bertani merupakan hal yang ketinggalan zaman, Dwitra merasa bertani memberinya tantangan dan peluang bereksplorasi. Selain itu, ia punya tujuan tersendiri yang ingin dicapai dalam bertani.

"Saya ingin mengajak warga di sini untuk kembali bertani. Desa saya ini dibayangi pariwisata, sehingga tak ada warga yang serius bertani. Kebanyakan warga desa saya hanya jadi buruh bangunan dan kuli ternak," ujarnya.

Keadaan warga desanya yang berubah akibat bayang-bayang pariwisata itulah yang menjadi alasannya untuk bertani serius. Ia melihat banyak warga yang beralih menjual suvenir, padahal banyak sekali toko suvenir di daerah tidak bertahan akibat persaingan dengan toko suvenir di bandara. Akibatnya, banyak lahan di desanya yang terbengkalai.

Keberadaan tanah 'menganggur' itu pun menarik minat investor untuk menanaminya dengan tanaman keras seperti jati dan sengon. Namun, hal itu justru membuat lahan tak lagi bisa ditanami sayu mayur karena akar pohon yang menjalar dan terlalu rindang.

"Hal seperti inilah yang coba saya lawan. Warga yang punya lahan, tapi tak sanggup menggarap, lahannya akan saya sewa. Biasanya untuk keluarga yang hanya punya ahli waris tunggal atau tanpa anak laki-laki," ujarnya.

Bersama teman-temannya, Dwitra mengumpulkan modal dengan sistem bagi hasil. Modal itu kemudian ia pakai untuk menyewa lahan. Dalam setiap lahan, ia menanam rempah-rempah seperti vanili, lada, dan kemukus. Semua pertanian itu ia jalankan dengan cara organik.

"Perkebunan ini bisa menyerap tenaga kerja. Saya sering mempekerjakan buruh borongan hingga puluhan orang. Kalau sektor kehutanan, bisa dibilang tidak menyerap tenaga kerja, karena cuma tanam dan tebang," jelasnya.

Ia pun menyebut berkebun rempah sudah pasti tidak mengganggu lahan tetangga. Saat ini, Dwitra punya empat bidang kebun dengan luas total 2,5 hektare.

"Kalau warga sudah mau ikut berkebun, saya sanggup bantu pascapanennya," ujarnya.

Di luar bertani, Dwitra juga aktif membuat film dokumenter. Film karyanya yang berjudul Sang Pembakar bahkan sudah diputar di ajang Cinemasia di Amsterdam. Meskipun demikian, Dwitra enggan disebut seniman.

"Orang Bali dulu tidak ada yang mengaku sebagai seniman. Bahkan bisa dibilang tak ada istilah kesenian. Mereka semua petani. Hanya sesekali mereka berkesenian. Menari, menabuh, melukis, ataupun membuat patung semuanya dilakukan untuk ritual, pesanan, atau hanya sebagai sarana bersenang-senang. Itulah yang saya ingin lakukan," jelasnya.

Pilihan berkesenian itu akhirnya ia jatuhkan pada membuat film. Bagi Dwitra, menjadi filmmaker itu penuh tantangan dan selalu memberinya petualangan baru. Ia pun mengaku banyak mendapat ilmu baru dan bertemu orang-orang baru.

"Bahkan saya belajar ilmu tani dari memproduksi film dokumenter," ujarnya.

Ikatan emosionalnya dengan dunia pertanian membuat Dwitra lebih sering mengangkat tema pertanian dalam setiap film garapannya. Hal itu sebab dunia tani memang amat dekat dengan kesehariannya.

Salah satu karyanya, yaitu Petani Terakhir, bahkan menjadi nominasi dalam ajang Festival Film Indonesia 2016. Di tahun yang sama, film Masean's Message yang mengangkat kisah rekonsiliasi korban tragedi G30S/PKI juga menjadi nominasi peraih Piala Citra.

Membuat sebuah film dokumenter tidaklah mudah. Selain butuh dana, ada proses panjang yang harus dilalui. Dwitra mengaku untuk pendanaan, ia hanya mengandalkan uang pribadi untuk film-filmnya. Selain tu, ia mengaku pernah mengalami hal unik saat mengerjakan proyek film Masean's Message. Karena isu yang diangkat dalam film itu amat sensitif, Dwitra mengaku amat susah menggali informasi dari warga sekitar. Ia pun sempat putus asa untuk menuntaskan proyek tersebut.

"Di hari keempat, saya minum arak bersama warga. Saya sampai tak sadarkan diri. Esok harinya, saya langsung jadi bagian dari komunitas itu. Bahkan jika saya belum datang, warga tidak akan memulai kegiatan ritual itu," ujarnya.

Ia mengakui bahwa membuat film dokumenter memang membutuuhkan riset mendalam. Bila perlu, hingga menyelami pribadi subjek film itu. Oleh karena itu, ia perlu membangun kepercayaan.

"Bagi beberapa warga di Indonesia, ternyata trust itu bisa dibangun dengan mabuk bareng," ujarnya sambil tertawa.

Kerja kerasnya itu membuahkan hasil. Film Masean's Message masuk nominasi Piala Citra FFI 2016. Pada November mendatang, film tersebut bahkan akan diputar di Singapore International Film Festival (SGIFF) 2017.

Karya-karya yang dihasilkan Dwitra memang sarat akan pesan sosial, tapi ia mengaku tak punya misi khusus dalam setiap film. Ia menyebut film sebagai media ekspresi untuk bersenang-senang.

"Saya enggak mau membebani karya yang saya buat dengan target. Ini ekspresi saya buat bersenang-senang. Senang-senang yang berguna buat orang," ujarya tertawa.

Ekspresi senang-senang itu ternyata mencatatkan nama Dwitra dalam sejumlah prestasi. Film Petani Terakhir karyanya terpilih sebagai film terbaik Festival Film Dokumenter Yogyakarta 2016. Filmnya juga pernah masuk kompilasi S-Express yang diputar di seluruh negara Asia Tenggara.

Selain bertani dan menghasilkan karya sendiri, Dwitra juga tak segan berbagi ilmu perfilman lewat Sanggar Siap Selem yang ia bina. Tiap tahun, sanggar itu menggelar workshop film untuk remaja.

Kini, Dwitra berencana fokus mengurusi pertanian selama dua tahun mendatang. Ia juga ikut aktif membantu pengungsi Gunung Agung dengan cara menampung hewan ternak para pengungsi di lahan perkebunannya.

"Ini film ada, tapi masih butuh pengembangan. Untuk saat ini, mau cari duit untuk bikin film dulu," ujarnya.

Dwitra ialah gambaran anak muda Indonesia yang berdaulat, kreatif, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.(*)


Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH