Dulunya Kuliner ini Bentuk Perlawanan, kini Malah Jadi Favorit Kuliner khas Indonesia ada yang lahir dari perlawanan. (foto: pegipegi)

INDONESIA punya kekayaan kuliner yang beragam. Setiap daerah punya sajian khas masing-masing. Uniknya, beberapa kuliner punya sejarah di baliknya. Enggak melulu kisah bahagia, ada juga kuliner yang ternyata lahir dari keterbatasan dan penindasan kolonial.

Makanan ataupun minuman yang lahir dari keterbatasan itu laksana bentuk perlawan dari rakyat jelata. Berikut makanan dan minuman khas yang jadi bentuk perlawanan di masa lalu.

BACA JUGA: 4 Hidangan Serba Merah Putih Meriahkan Hari Kemerdekaan

1. Kawa Daun

kawa daun
Kawa daun disajikan di batok kelapa. (foto: Instagram @bukittingifoodies)


Di daerah Sumatra Barat, daun kopi yang enggak pernah dilirik ternyata bisa diolah jadi minuman nikmat, yakni kawa daun. Minuman yang dikenal warga Minang dengan nama aia kawa yang berarti 'air daun kopi'. Meskipun disebut 'kopi', kawa daun dibuat layaknya menyeduh teh.

Bahan pembuat kawa daun ialah daun kopi yang dikeringkan dengan teknik sangrai selama 12 jam. Daun kopi yang sudah kering nantinya diseduh lalu dihidangkan. Menurut warga lokal, kawa daun muncul karena pada masa kolonial, komoditas biji kopi lebih banyak dipergangkan. Sementara itu, warga lokal tidak bisa menikmati kopi. Sebagai gantinya, mereka membuat kawa daun.

Kini, kawa daun jadi minuman penghangat di saat udara dingin. Minuman ini biasanya tak dihidangkan di gelas, tapi di batok kelapa. Aromanya unik, perpaduan aroma teh dan kopi.

Jika kamu traveling ke Sumatra Barat, jangan lewatkan ya melancong ke daerah Tabek Patah untuk menikmati kawa daun lengkap dengan sajian gorengan hangat nan nikmat.

2. Thiwul

thiwul
Tiwul kini jadi camilan manis aneka rasa. (foto: Instagram @tiwulinstan_uecho)


Dulu, jauh sebelum Indonesia mengenal swasembada beras, makanan pokok orang Indonesia beragam. Ada sagu, jagung, dan singkong. Salah satu olahan singkong yang jadi makanan pokok ialah thiwul.

Tidak diketahui secara pasti kapan tiwul mulai dibuat. Namun, thiwul menjadi makanan pokok sebagian besar rakyat Jawa pada masa penjajahan Jepang. Pada saat itu, bahan makanan yang layak seperti nasi beras sangat sulit didapat dan tak mampu dibeli. Olahan singkong inilah yang akhirnya jadi bahan makanan lain sebagai pengganti nasi.

Singkong dipilih sebagai makanan pokok karena di masa itu, hasil kebun ini mudah ditanam dan dipanen. Bahkan nyaris enggak membutuhkan perawatan khusus. Selain itu, singkong juga bisa disimpan dalam waktu yang sangat lama. Setelah diolah dan dikeringkan, singkong bahkan bisa disimpan berbulan-bulan.

Teksturnya yang padat membuat singkong mengenyangkan. Meskipun demikian, singkong punya kalori lebih rendah daripada nasi. Kandungan seratnya lebih banyak, sehingga mengenyangkan dalam waktu lama.

Di masa sekarang, thiwul bangkit lagi. Meski enggak lagi jadi bahan makanan pokok, thiwul sekarang mulai dilirik sebagai camilan. Tampilannya pun enggak lagi plain kayak dulu. Ada yang diberi perasa pandan hingga keju.

BACA JUGA: Manis, Asam, dan Asin, Ramainya Rujak Khas Indonesia


3. Kopi Luwak

kopi luwak
Kopi luwak kini jadi komoditas berharga mahal. (foto: Instagram @olgabenesova)


Siapa sangka kenikmatan kopi luwak yang terkenal ternyata berawal dari kenakalan para penduduk lokal menyiasati praktik tanam paksa. Pada awal abad ke-18, Belanda membuka perkebunan tanaman komersial di koloni mereka di Hindia Belanda terutama di Pulau Jawa dan Sumatra. Salah satunya ialah perkebunan kopi arabika dengan bibit yang didatangkan dari Yaman.

Meski para penduduk pribumi dipaksa menanam kopi, Belanda enggak mengizinkan pekerja perkebunan pribumi memetik buah kopi untuk konsumsi pribadi. Biji kopi hanya diperdagangkan untuk keuntungan Belanda.

Penduduk lokal yang penasaran ingin mencoba minuman kopi yang terkenal itu pun memutar otak, mencari cara untuk bisa mencicipinya. Mereka kemudian menemukan ada sejenis musang yang gemar memakan buah kopi, tetapi hanya daging buahnya yang tercerna, kulit ari dan biji kopinya masih utuh dan tidak tercerna.

Dengan cerdik, mereka kemudian memunguti biji kopi dalam kotoran luwak. Biji-biji itu dicuci, disangrai, ditumbuk, lalu diseduh dengan air panas. Hasilnya, terciptalah kopi luwak yang nikmat.

Hingga kini, biji kopi dari kotoran luwak sering diburu para petani kopi. Diyakini, biji kopi luwak berasal dari biji kopi terbaik dan telah difermentasikan secara alami di dalam sistem pencernaan luwak. Aroma dan rasa kopi luwak memang terasa spesial dan sempurna di kalangan para penggemar dan penikmat kopi di seluruh dunia.

Itulah mengapa kopi luwak jadi salah satu varian kopi termahal dunia. Harganya bahkan mencapai US$100 per 450 gram.

4. Sate Kere

sate kere
Sate kere bentuk perlawanan terhadap feodalisme. (foto: Instagram @jajansolo)


Selain berkreasi dengan makanan pokok, rakyat jelata juga kreatif dengan sajian makanan mereka. Saat sate hanya jadi santapan mewah kalangan menengah ke atas, rakyat jelata memodifikasi sate dengan bahan dasar nondaging. Terciptalah sate kere.

Seperti namanya, sate kere jadi makanan rakyat kelas bawah. Istilah kere yang berarti gelandangan merupakan salah satu pencitraan terhadap kalangan bawah yang terlalu sayang untuk membeli setusuk sate.

Kuliner khas Solo ini terbuat dari tempe gambus yaitu tempe yang dibuat dari ampas tahu. Selain itu, ditambahkan juga jeroan sapi, seperti bagian usus dan paru sapi.

Di masanya, sate ini merupakan perwujudan perlawanan dari kalangan bawah kepada kalangan bangsawan dalam budaya feodal yang zaman dahulu masih sangat kental dirasakan masyarakat Jawa.(dwi)

BACA JUGA: Nyicip Jamu Yuk, Biar Kayak Presiden Jokowi



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH