Dugaan Pelanggaran Hak Eksklusif, PN Jakpus Gelar Sidang Sushi Tei Lawan Mantan Dirutnya Sidang gugatan merek PT Sushi Tei (Ist)

Merahputih.com - Sushi-Tei Pte Ltd (Singapura) dan PT Sushi-Tei Indonesia menggugat PT Boga Inti (Boga Group) dan Kusnadi Rahardja selaku pemilik dan Presiden Direktur Boga Inti atas dugaan pelanggaran hak ekslusif merek Sushi-Tei.

Perbuatan para tergugat dinilai menimbulkan kesalahan persepsi di publik bahwa Sushi-Tei merupakan bagian dari Boga Group sehingga merugikan penggugat. Atas kerugian tersebut, Sushi-Tei menuntut ganti rugi sebesar total USD 250 juta (Rp 3,5 triliun). Sidang dipimpin Hakim Makmur dengan perkara nomor 59/Pdt.Sus-Merek/2019/PN.Niaga.Jkt.Pst.

Kuasa Sushi-Tei, James Purba mengatakan, para tergugat tanpa persetujuan dari penggugat telah membuat pernyataan yang tidak benar dan menyesatkan publik bahwa merek-Sushi Tei merupakan bagian dari Boga Group.

Baca Juga:

Pemkot Jakpus Bantu Pedagang Hewan Kurban Cari Lahan Kosong

Bentuk penyesatan tersebut antara lain berupa pernyataan di situs Boga Group mengenai salah satu pencapaian perusahaan adalah pencapaian restoran Sushi-Tei.

Kemudian, banyak produk dari restoran Boga Group yang memiliki kemasan fisik dengan mencantumkan merek Sushi-Tei. Selain itu, Kusnadi Rahardja dalam sejumlah wawancara dengan media, menyatakan bahwa Sushi-Tei merupakan bagian dari Boga Group.

“Ini menyesatkan karena Restoran Sushi-Tei tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi bagian dari Grup Boga. Para tergugat tidak pernah mendapatkan persetujuan baik dari Sushi-Tei Singapura maupun Sushi-Tei Indonesia untuk menggunakan nama Sushi-Tei dalam situs, brosur maupun kartu nama Grup Boga. Juga tidak pernah ada persetujuan untuk menyampaikan pernyataan ke media bahwa Sushi Tei merupakan bagian dari Grup Boga,” jelas James di PN Jakarta Pusat, Senin (18/9).

Menurut James, perbuatan para tergugat merupakan pelanggaran atas hak ekslusif kliennya atas merek Sushi-Tei dan bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 20/2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (Undang-Undang Merek).

“Para tergugat telah menyalahgunakan merek Sushi-Tei tanpa persetujuan, seolah-olah merek tersebut adalah bagian dari Grup Boga, selama sedikitnya 10 tahun,” ujarnya.

Kuasa hukum PT Sushi Tei, James Purba (Ist)

James melanjutkan, penggunaan merek tanpa izin itu telah menguntungkan para tergugat karena citra dan kualitas tinggi Sushi-Tei yang sudah diakui.

Sebaliknya, hal itu menimbulkan sejumlah kerugian bagi Sushi-Tei (Singapura) dan Sushi-Tei Indonesia. Pertama, kerugian atas kehilangan investasi untuk kegiatan promosi merek Sushi-Tei sebesar USD 100 juta.

Kedua, kehilangan keuntungan pendapatan karena para tergugat telah mendapatkan keuntungan sebesar USD 50 juta dari penggunaan mereka atau penyesatan informasi bahwa Sushi-Tei bagian dari Boga Group.

Ketiga, rusaknya reputasi Sushi-Tei yang jika dikalkulasikan kerugiannya tidak kurang dari USD 100 juta.

“Atas kerugian tersebut, kami menuntut ganti rugi senilai total USD 250 juta,” jelas James.

Baca Juga:

MA Akan Periksa Independensi Sunarso Hakim PN Jakpus yang Dipukul saat Sidang

Selain ganti rugi, Sushi-Tei juga menuntut para tergugat untuk membuat klarifikasi setengah halaman di situs Boga Group dan memasang iklan satu halaman penuh di semua surat kabar utama di Indonesia dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang mengklarifikasi bahwa Boga Group bukan dan tidak pernah menjadi pemegang waralaba utama (master franchisee) merek Sushi-Tei di Indonesia.

Sementara itu, kuasa hukum tergugat Oktavianus Wijaya mengaku belum bisa berkomentar karena masih mempelajari berkas gugatan. Rencananya pihak tergugat akan menyampaikan jawabannya saat sidang berikutnya pada 25 September 2019.

"Nanti saja pas tanggapan," ucapnya. (*)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH