Ketika Dua Pasukan Terbesar TNI Berperang, Perwira Diculik Pasukan Divisi Siliwangi saat hijrah ke Jawa Tengah.

BELUM genap tiga tahun berdiri, Tentara Nasional Indonesia dihadapkan pada perpecahan. Saudara sekandung bertukar peluru. Divisi IV atau Pasukan Panembahan Senopati baku tikai dengan Divisi Siliwangi di Solo.

Pada bulan Februari 1948 Divisi Siliwangi meninggalkan kantong-kantong gerilya di Jawa Barat, berhijrah ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebanyak kurang-lebih 30.000 anggota TNI dan barisan-barisan perjuangan pada akhir Februari 1948 berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

KehadiranDivisi Siliwangi menimbulkan gesekan dengan Divisi IV Panembahan Senopati. Hijrahnya Siliwangi ke Jawa Tengah dibarengi isu, tulis Tjahyadi Nugroho dalam Soeharto: Bapak Pembangunan Indonesia, bahwa tentara Siliwangi atau disingkat SLW sebagai ‘Stoot Leger Wilhemina’ atau pasukan ratu Belanda.

Pada permulaan Juli 1948 Kolonel Sutarto, Komandan Divisi IV/TNI (Divisi Panembahan Senopati) tewas ditembak seorang penembak gelap ketika ia sedang turun dari mobil di depan rumahnya, di Solo. Tuding menuding pun terjadi di kedua divisi.

Isu pun berhembus pasukan Siliwangi ada di belakang pembunuhan Soetarto, sebab dari keterangan Mayor Omom Abdoerachman menyebutkan terdapat peci dengan lencana Siliwangi di samping mayat Soetarto.

Memasuki September 1948, suasana dalam kota Solo memanas. Aksi penculikan pun merebak. Dari jumlah 24 korban penculikan, tulis Julianto Ibrahim dalam Bandit dan Pejuang di simpang Bengawan: Kriminalitas dan Kekerasan Masa Revolusi di Surakarta, terdapat 4 orang dari PKI, 4 Pasukan Panembahan Senopati, 12 dari Pesindo, Dr. Muwardi dan 3 orang Barisan Banteng.

“Mayor Slamet Riyadi, Komandan Brigade Solo, bersama 2 Batalyon TLRI bersiap-siap dalam kota untuk bertindak. Penjagaan dan perondaan diperkeras. Jenderal Soedirman datang ke Solo. Beliau bertemu dengan Komando Pertempuran Surakarta, berkeyakinan bahwa Lukas Kustaryo dan kawan-kawan dari Siliwangi tersangkut dalam penculikan perwira-perwira Panembahan Senopati dan anggota-anggota PKI di Solo. Maka Jenderal Soedirman memanggil Brigadir Sadikin secara langsung,” seperti ditulis dalam Sekitar perang kemerdekaan Indonesia: Pemberontakan PKI 1948. Sadikin adalah Komandan Brigade II KRU (Kesatuan Reserve Umum) Siliwangi yang ada di Solo.

Jendral Soedirman pun berangkat ke Solo, Loji Gandrung–kini rumahdinasWalikota Solo-untuk mencari keterangan atas ketegangan ini. Ia pun terlibat percakapan tak mengenakan dengan Sadikin.

“Jangan mikir apa-apa dulu, kecuali satu, bagaimana perasaanmu sebagai tentara jika perwiramu jadi korban penculikan?” tanya Soedirman kepada Sadikin.

“Tentu saja saya sangat marah dan tidak senang. Saya pasti akan menuntut balas,” jawab Sadikin, seperti ditulis Julius Pour dalam Ignatius Slamet Rijadi: Dari Mengusir Kempeitai sampai Menumpas RMS.

“Memang, semua juga tidak ada yang senang. Oleh karena itu bebaskan saja para perwira yang sudah terlanjur kau tahan,” ujar Soedirman.

“Maaf panglima, saya sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai penculikan. Saya juga tidak punya informasi sedikit pun mengenai persoalan yang diributkan. Justru dengan adanya perintah kepada saya untuk membebaskan, saya sudah merasa dituduh terlibat aksi penculikan dan dimintai bertanggung jawab. Apa kesalahan saya dan anak buah saya? Pokoknya, Siliwangi tidak pernah melakukan penculikan!,” tukas Sadikin keras.

“Slamet Rijadi anak saya!” jawab Soedirman tak kalah keras.

“Lantas..., saya anak siapa?” tanya Sadikin retoris. Percakapan keduanya tak membuahkan hasil. Solo tetap menegang.

18 September 1948, Sukarno memberi keterangan dari corong Radio Republik Yogyakarta bahwa kota Solo dalam kondisi bahaya. Gatot Subroto pun ditunjuk sebagai gubernur militer yang bertanggungjawab atas keamanan Solo hingga Madiun.

Ia segera mengeluarkan pengumuman bahwa setiap pihak harus menghentikan baku tembak paling lambat 20 September pukul 12.00 dan keesokannya diwajibkan pimpinan Siliwangi dan Panembahan Senopati untuk menghadap Gubernur Militer di Kantor Karesidenan Surakarta.

“Penerimaan yang kurang bersahabat terhadap kesatuan-kesatuannya (Siliwangi -red) terjadi karena kampanye fitnah PKI Moeso, yang melihat Siliwangi sebagai penghalang ke arah tujuannya. Pertempuran di Solo dengan licik ditiup-tiup oleh PKI, yang memanfaatkan perselisihan di tubuh TNI untuk bias menarik pasukan Senopati ke pihaknya,” tulis Harry A. Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak. (*) Vishal Rand



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH