Dua Kali Mangkir, Putra Menteri Yasonna Akhirnya Penuhi Panggilan KPK Putra Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly, Yamitema T Laoly akhirnya memenuhi panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (MP/Ponco)

MerahPutih.com - Putra Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly, Yamitema T Laoly akhirnya memenuhi panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia tiba sekitar pukul 10.25 WIB.

Direktur PT Kani Jaya Sentosa itu akan diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap terkait proyek dan jabatan di lingkungan pemerintahan Kota Medan tahun anggaran 2019 yang menjerat Wali Kota Medan nonaktif, Tengku Dzulmi Eldin.

Baca Juga

KPK Periksa Putra Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly

Yamitema tercatat dua kali mangkir pemeriksaan. Anak dari politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu pertama dipanggil Senin, 11 November 2019 lalu, tetapi tidak datang. Pada 12 November kembali dipanggul, tetapi Yamitema kembali mangkir.

"Rencana pemeriksaan ulang pada, Senin 18 November 2019," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah beberapa waktu lalu.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan Wali Kota nonaktif Medan Tengku Dzulmi Eldin (TDE) sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait dengan proyek dan jabatan di lingkungan pemerintahan Kota Medan tahun anggaran 2019.

Selain Dzulmi, KPK juga menjerat dua orang lainnya, yakni Kadis PUPR Kota Medan Isa Ansyari (IAN) dan Kabag Protokoler Kota Medan, Syamsul Fitri Siregar (SFI).

Juru Bicara KPK Febri Diansyah. (MP/Ponco Sulaksono)
Juru Bicara KPK Febri Diansyah. (MP/Ponco Sulaksono)

Dzulmi diduga menerima suap untuk menutupi ekses perjalanan dinas wali kota ke Jelang. Dalam perjalanan dinas, Dzulmi membawa serta keluarga dan beberapa kepala dinas. Dzulmi dan keluarganya memperpanjang waktu tinggal di Jepang selama tiga hari di luar waktu perjalanan dinas.

Akibat keikutsertaan pihak-pihak yang tidak berkepentingan, terdapat pengeluaran perjalanan dinas Walikota yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan tidak bisa dibayarkan dengan dana APBD.

Pihak travel kemudian menagih sejumlah pembayaran tersebut kepada Dzulmi. Dzulmi kemudian bertemu dengan Syamsul dan memerintahkannya untuk mencari dana dan menutupi ekses perjalanan ke Jepang tersebut dengan nilai sekitar Rp 800 juta.

Baca Juga

Anak Menkumham Yasonna Kembali Mangkir dari Pemeriksaan KPK

Syamsul kemudian membuat daftar target kepala-kepala dinas yang akan dimintakan dana, termasuk diantaranya adalah kadis-kadis yang ikut berangkat ke Jepang dan Isa meskipun tidak ikut berangkat ke Jepang. (Pon)

Kredit : ponco


Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH