Dua Harapan Besar Investor Listrik kepada Kepala BKPM Bahlil Lahadalia Pengusaha Bahlil Lahadalia ditelepon oleh protokol dan bergegas datang ke Istana Kepresidenan dengan mengenakan kemeja putih, Selasa (22/10). ANTARA FOTO/Hanni Sofia.

MerahPutih.com - Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) mengapresiasi penunjukan mantan Ketua Umum BPP HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) Bahlil Lahadalia sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) baru. APLSI menilai, penunjukan Bahlil sangat tepat memecahkan kebuntuan investasi kelistrikan nasional.

“Dari track record beliau, ada segudang keberanian. Cara berpikir beliau juga out of the box dan punya relasi yang bagus dengan kepala-kepala daerah. Kita optimislah,” ujar Direktur Eksekutif APLSI Rizal Calvary Marimbo dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (27/10)

Baca Juga

Tugas Berat Kepala BKPM Bahlil Lahadalia Versi Ketum HIPMI

Rizal mengatakan, tantangan BKPM saat ini bukan lagi mendatangkan investor baru. Tetapi bagaimana merealisasikan berbagai komitmen investasi yang sudah ditandatangani namun terhenti sebab berbagai alasan.

“Investor itu sudah antri. Tapi cuma sampai di meja MoU di pusat. Masalahnya direalisasinya,” ucap Rizal.

Menurut Rizal, terdapat dua harapan besar investor atau pengusaha ketenagalistrikan kepada Bahlil. Pertama, adalah bagaimana Kepala BKPM baru menyederhanakan dan mempercepat perizinan di daerah. Terlalu lama dan berbelit-belit. Tergantung mood-nya kepala daerah

Rizal mengatakan, reformasi perizinan investasi di BKPM telah menunjukan perbaikan. Namun, reformasi ini tak diikuti oleh banyak daerah di bawahnya. Akibatnya, kinerja investasi nasional kurang memuaskan setiap tahun.

“Jadi, sekarang kendalanya di daerah. Masih sangat lamban,” ujar Rizal.

Bahlil Lahadalia berbicara kepada wartawan di halaman Istana Negara usai bertemu Presiden Joko Widodo. Foto: ANTARA/Bayu Prasetyo/aa.
Bahlil Lahadalia berbicara kepada wartawan di halaman Istana Negara usai bertemu Presiden Joko Widodo. Foto: ANTARA/Bayu Prasetyo/aa.

Rizal mengatakan, perizinan di daerah untuk investasi ketenagalistrikan dan sektor lainnya sangat buruk. Salah satunya, masih lamanya berlapis-lapisnya perizinan di tingkat daerah.

Baca Juga

BKPM: Masalah Pengupahan Harus Segera Diselesaikan

“Bisa berbulan-bulan bahkan lebih dari satu tahun baru keluar itu barang (izin),” ujar Rizal.

Dirinya mengatakan, sejumlah perizinan misalnya IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) dan izin lokasi masih menjadi kewenangan daerah. Izin-izin inilah yang membuat investasi berjalan lamban. Sebab itu, investor mesti menunggu satu atau dua tahun lagi hanya untuk selembar surat.

“IPP-nya dilema. Mau bangun belum ada IMB. Ada yang nekat bangun, sambil tunggu IMB-nya yang tidak muncul-muncul juga. Menunggu itu biaya semua. Cost over run-nya melonjak,” tegasnya

Sebab itu, Rizal mengatakan, nasib investor saat ini sangat tergantung kepada budi baik kepala daerah atau bupati setempat. “Kalau bupatinya lagi bagus, syukur. Kalau tidak, mesti nunggu lama. Untung-untungan kalau keluar izinnya,” imbuh dia.

Harapan besar kedua, Bahlil mensinkronkan regulasi ditingkat kementerian dan lembaga agar pro terhadap iklim investasi yang baik.

“Tadi saya sebut diatas koordinasi beliau secara vertikal. Kedua secara horizontal, bagaimana beliau menghaormisasikan regulasi-regulasi di berbagai kementerian yang tumpang tindi dan mempersulit investor itu agar kondusif,” ujar Rizal.

Baca Juga

HIPMI: Pidato Presiden Warning untuk Tim Ekonomi

Dikatakannya, saat ini ego sektoral antar kementerian dan lembaga sangat tinggi. Masing-masing kementerian memiliki visinya sendiri-sendiri. Akibatnya, banyak kementerian malah rajin membuat regulasi yang mempersulit investor.

“Ego sektoral ini yang harus diberantas oleh beliau. Agar semua bersatu padu mendukung visi Presiden menciptakan iklim yang baik untuk investasi,” tegasnya. (*)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH