Dua Delegasi Korea Bertemu, Presiden Korsel Puji Donald Trump Delegasi Korea Selatan dan Utara menghadiri pertemuan di desa gencatan senjata Panmunjom di zona demiliterisasi (ANTARA FOTO/Yonhap via REUTERS)

MerahPutih.Com - Terwujudnya perundingan delegasi Korea Selatan dan Korea Utara untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir ini, membuat Presiden Korea Selatan Moon Jae-in memuji Donald Trump setinggi langit.

Dalam pernyataannya kepada media Rabu (10/1), Presiden Korsel Moon Jae-in mengungkapkan pertemuan tersebut tidak terlepas dari peran Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Berkat tekanan Trump, Pyongyang bersedia membuka kembali dialog dengan Seoul.

Kedua negara Korea menggelar perundingan pada Selasa di zona demiliterisasi, yang memisahkan mereka sejak 1953.

Namun di sisi lain, Moon juga mengancam Korea Utara akan sanksi yang lebih berat jika terus melakukan provokasi dengan melakukan uji coba nuklir dan peluru kendali, sebagaimana terjadi sepanjang tahun lalu.

Sanksi internasional melalui PBB membuat Pyongyang sepakat berunding dengan Seoul pada Selasa untuk membentuk ulang konsultasi militer yang mencegah konflik langsung.

"Menurut saya, Presiden Trump berjasa besar dalam terlaksananya perundingan antar-Korea ini. Saya ingin menyampaikan terimakasih," kata Moon dalam konferensi pers.

"Perundingan ini bisa jadi merupakan hasil dari sanksi dan tekanan Amerika Serikat," kata dia.

Moon Jae-in mengaku siap bertemu dengan pemimpin Korea Utara untuk memperbaiki hubungan bilateral, jika ada "jaminan tercapainya tujuan tertentu."

"Perundingan awal ini bertujuan untuk memperbaiki hubungan dengan Korea Utara. Sementara dalam jangka panjang, kami ingin berunding dengan mereka mengenai masalah denuklirisasi," kata Moon.

Namun demikian, Pyongyang menegaskan bahwa mereka tidak akan merundingkan masalah nuklir dengan Seoul, mengingat persenjataan itu hanya akan digunakan untuk menyerang Amerika Serikat--bukan "saudara-saudara" mereka di Korea Selatan, ataupun Rusia dan China.

Sikap ini juga ditulis dalam surat kabar Korea Utara, Rodong Sinmun, yang mengatakan bahwa semua persoalan akan mudah diselesaikan oleh sesama Korea tanpa keterlibatan Amerika Serikat.

"Jika Utara dan Selatan mengabaikan tekanan eksternal dan bekerja sama, maka kita akan bisa menyelesaikan semua persoalan demi memenuhi kebutuhan rakyat," tulis Rodong Sinmun sebagaimana dilansir Antara dari Reuters.

Sementara itu Washington menyambut baik perundingan di Semenanjung Korea dan menyebutnya sebagai langkah pertama mengatasi krisis nuklir. Mereka juga mengaku tertarik bergabung dengan negosiasi yang sama di masa depan dengan tujuan menghabisi nuklir Pyongyang.

Amerika Serikat saat ini masih mempunyai 28.500 tentara di Korea Selatan untuk bersiaga. Amerika bersama Kanada, juga akan menjadi tuan rumah pertemuan 20 menteri luar negeri untuk membahas persoalan nuklir Korea tanpa partisipasi dari China, sekutu terbesar Pyongyang.

"Pertemuan itu hanya menciptakan perpecahan dalam komunitas internasional sehingga menghambat penyelesaian nuklir Semenanjung Korea," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lu Kang.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH