Drone 'R2-D2' akan Menjadi Penolong Pilot Pesawat Tempur Menjadi pendamping handal bagi pilot. (Foto: thedrive)

EMPAT perusahaan pertahanan telah dipilih untuk mulai bekerja pada program Skyborg Angkatan Udara AS. Tujuannya adalah untuk memasangkan kecerdasan buatan (artificial intelegance) yang bersama manusia menerbangkan pesawat tempur bermesin jet.

Empat perusahaan itu memilih Boeing Co., General Atomics Aeronautical Systems Inc., Kratos Unmanned Aerial Systems Inc., dan Northrop Grumman Systems Corp untuk mengembangkan program itu. Namun, perusahaan-perusahaan akan bersaing untuk pengiriman tanpa batas waktu, kontrak dengan jumlah tidak terbatas, yang diperkirakan bernilai hingga Rp5,8 triliun.

Baca juga:

Militer Rusia Punya Rudal Hipersonik Penghancur Kapal

1
Pesawat X-Wing dalam film Star Wars yang memakai AI. (Foto: wingsmuseum)

Skyborg yang otonom dimaksudkan untuk kendaraan udara tanpa awak yang dapat digunakan kembali dalam misi kerja tim berawak-tanpa berawak. Drone dianggap "attritable," atau cukup murah sehingga bisa dihancurkan tanpa biaya yang signifikan.

"Karena sistem otonom dapat mendukung misi yang terlalu berat atau berbahaya bagi awak, Skyborg dapat meningkatkan kemampuan secara signifikan. Dan menjadi pengganda kekuatan bagi Angkatan Udara," kata Brigjen. Dale White, program executive officer untuk Fighters and Advanced Aircraft.

"Kami memiliki kesempatan untuk mengubah kemampuan perang kami dan mengubah cara kami bertarung dan cara kami menggunakan kekuatan udara," kata White dalam rilisnya, dikutip dari Military.com.

"Teknologi otonomi dalam portofolio Skyborg akan berkisar dari algoritma buku pedoman sederhana hingga pengambilan keputusan tim tingkat lanjut dan akan mencakup peluang tambahan untuk teknologi kecerdasan buatan," jelas Brigjen. Heather Pringle, komandan Laboratorium Penelitian Angkatan Udara (AFRL).

Baca juga:

Miris, Siluman F-35 Lightning II 'Rapuh' Terhadap Petir

2
Mengubah kemampuan dan cara berperang. (Foto: freenews.live)

Skyborg adalah salah satu dari tiga inisiatif dalam portofolio Program Vanguard layanan untuk prototipe cepat dan pengembangan teknologi zaman baru yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai operasi. Program Vanguard menyatukan laboratorium penelitian dan Pusat Manajemen Siklus Kehidupan Angkatan Udara yang dapat dengan cepat mengidentifikasi teknologi mutakhir dan transisi langsung ke tangan para tentara.

Angkatan Udara meluncurkan proses penawaran untuk Skyborg pada bulan Mei. Mereka mengharapkan operasi awal Skyborg siap pada akhir tahun 2023.

Will Roper, dari angkatan udara, mengatakan kepada wartawan di Konferensi McAleese 2019 bahwa Skyborg akan mengambil konsep lebih maju dengan malatih pilotnya berkerjasama dengan kecerdasan buatan itu. Nantinya AI itu Bertindak sebagai pendamping, mampu dengan cepat memikirkan masalah dan mengambil komando jika perlu. Singkatnya, seperti karakter R2-D2 yang ada dalam film Star Wars.

"Saya mungkin akhirnya memutuskan, 'Saya ingin AI itu ada di kokpit saya sendiri. Jadi, jika terjadi sesuatu dengan cepat (AI) dapat mengambil alih, membuat pilihan dengan cara yang (pilot) akan tahu karena (pilot telah) dilatih dengannya," kata Roper. (lgi)

Baca juga:

Kekuatan Udara Tiongkok Bersiap Saingi Amerika

Kredit : leonard


Leonard

LAINNYA DARI MERAH PUTIH