Drama Musikal, Medium Pengembangan Kreativitas Anak Berkebutuhan Khusus Taha saat memerankan Kebo Iwa (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

REMAJA itu tampak menikmati adegan di atas panggung. Dalam berdialog, tidak pernah ada kesalahan gerak bibir, mengingat pertunjukan drama musikal itu menggunakan dubbing. Akting yang dilakukan juga menghibur. Ekspresi wajah dan gerak gestur tubuh melebur jadi satu menghasilkan akting yang keren. "Aku Kebo Iwa bersumpah selama aku masih bernapas, Bali akan aman," seru remaja itu di atas panggung.

Gregorius Andhika Mediyanto ialah sosok remaja tersebut. Remaja yang akrab disapa Taha itu tengah tampil dalam pertunjukan drama musikal yang dihelat sekolah Spectrum saat Merahputih.com menemuinya. Taha ialah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Dalam pementasan drama musikal yang diperankan para ABK bertajuk Kebo Iwa itu, Taha menjadi pemeran utama. Ya, Taha memerankan pahlawan kuat dari Bali bernama Kebo Iwa. Drama musikal itu sendiri dihelat beberapa waktu lalu.

Taha yang tengah menginjak usia 18 tahun tidak asing lagi dalam hal tampil di sebuah drama musikal. Sebagai murid Sekolah Spectrum, setiap tahun ia selalu terlibat dalam acara tahunan itu. Menurut sang ibu, Lucy, Taha selalu mengalami perkembangan karena rutin mengikuti drama musikal. Lucy mengatakan, sebagai ABK, buah hati kesayangannya itu sulit berkonsentrasi.

Namun, karena telah terbiasa tampil di atas panggung, Taha kini lebih mudah berkonsentrasi. Semisal dalam komunikasi dua arah. Yang terpenting ialah kemampuan bersosialisasi dengan orang lain. "Seiring berjalannya waktu, dia semakin baik," tutur Lucy kepada Merahputih.com. Bagi Lucy, setiap tahunnya selalu ada perkembangan Taha yang tak terduga.

Lucy menambahkan, ini kali pertama Taha memerankan karakter utama. Itu menjadi tanda bahwa kemampuan komunikasi Taha memenuhi kriteria tokoh utama yang pastinya kebagian banyak dialog dan adegan. Dalam drama musikal sebelumnya, Taha hanya memerankan karakter figuran. Terpilih jadi pemeran utama tentunya menjadi kebanggan bagi Taha. "Dia tuh ada rasa kebanggan bisa dijadikan pemeran utama," kata Lucy.

Selain itu, adanya pertunjukan drama musikal membuat Taha semakin semangat bersekolah. Ia merasa ada hal penting yang harus ia jalani. Drama musikal bagi Taha merupakan kegiatan yang selalu ia tunggu-tunggu. Taha pun mengatakan ia amat senang dapat kembali tampil, terlebih sebagai pemeran utama.

Ada beberapa adegan yang ia favoritkan. Meskipun begitu, ia mengaku ada sedikit kesulitan saat harus beradegan menyanyi. "Iya senang ya. Senang di bagian istana Majapahit. Tapi susahnya di bagian lagu," kata Taha dengan wajah semringah. Jika ada kesempatan, Taha pasti akan tampil lagi tahun depan

Pertunjukan drama musikal Sekolah Spectrum (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Lucy sendiri tidak punya harapan muluk-muluk dari Taha. Yang terpenting Taha bisa mengembangkan bakatnya. Selama ini, Taha sangat menggemari seni lukis. "Selama dia bisa jadi anak mandiri dan bisa menggunakan bakatnya dengan baik, itu sudah bagus banget," harap Lucy.

Di waktu yang sama, Tisna Chandra selaku Direktur Utama Program Spectrum Treatment & Education Centre sekaligus pemilik Sekolah Spectrum mengatakan pemilihan drama musikal sebagai wadah mengembangkan bakat ABK bukanlah hal spontanitas. Pasalnya, pertunjukan seni itu merupakan 'satu paket' lengkap.

Artinya, ABK diharuskan berhadapan dengan publik. Tentunya dalam penghafalan naskah juga menjadi poin penting. Dalam drama musikal, pastinya juga ada aktivitas menyanyi dan menari. Dengan demikian, kreativitas ABK semakin terasah melalui satu pertunjukan seni. "Jadi ini sangat holistis ya (drama musikal). Menggambarkan semua kemampuan anak dalam satu penampilan," kata Tisna kepada Merahputih.com.

Selain itu, kata Tisna, setiap tahun juga terjadi kejutan. Setiap anak yang mengikuti drama musikal pasti memiliki peningkatan, misalnya dalam segi koreagrafi dan menyanyi. Meskipun pada awalnya ada yang enggan tampil lantaran harus berhadapan langsung dengan banyak penonton. Akhirnya mereka pun berani tampil. Ditambah dubbing dialog. Meskipun memakai dubbing, rekaman suara yang dipakai merupakan langsung suara para pemeran. "Setiap tahunnya mengalami peningkatan," jelas Tisna.

Karena itu, Tisna memiliki rencana lebih jauh soal pementasan para ABK tersebut. Meskipun menjadi acara tahunan yang dihelat, tidak tertutup kemungkinan di masa depan drama musikal akan dihelat setahun dua kali. Rencananya, tahun depan pementasan itu akan digelar dua kali dalam satu tahun.

Tisna juga berharap di masa depan pemerintah melirik penampilan para ABK. Bukan hanya pemerintah, melainkan juga para pengusaha agar para ABK bisa mendapatkan pekerjaan. Hal itu mengingat salah satu kemampuan ABK ialah mengembangkan kemampuan kreatif ketimbang akademis. "Mereka lebih mudah diarahkan ke hal kreatif," tutup Tisna. (Ikh)

Kredit : digdo


Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH