DPRD Minta Anggaran Trotoar dan Formula E DKI buat Beli Ventilator Tenaga kesehatan di RS Pelni Jakarta mengecek kesiapan alat kesehatan di ruang isolasi. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Merahputih.com - DPRD DKI Jakarta meminta Pemprov DKI untuk segera mengalokasikan anggaran untuk pembelian ventilator yang berfungsi sebagai alat bantu pernafasan.

Wakil Ketua Komisi E, Anggara Wicitra Sastroamidjojo mengaku pihaknya sering mendapatkan aduan dari masyarakat dan temuan di lapangan bahwa saat ini rumah sakit mengalami kelangkaan fasilitas Intensive Care Unit (ICU) terutama ventilator.

Baca Juga:

Antisipasi Lonjakan Pasien COVID-19, Wisma Atlet Bisa Operasikan Dua Tower Tambahan

Hingga saat ini kasus positif virus corona di ibu kota mencapai 524 orang. Kemudian sebanyak 51 meninggal dunia. Menurutnya bila, Pemda DKI tak begerak cepat membelikan ventilator dikhawatirkan korban meninggal dunia akan meningkat.

"Tanpa ventilator, maka tingkat kematian akibat virus corona akan sangat tinggi. Karena itu, Pemprov DKI harus segera membeli banyak ventilator agar semua pasien dapat ditangani," kata Anggara di Jakarta Jumat (27/3).

Kondisi tersebut bisa terjadi jika pemerintah tidak segera bergerak. Bila melihat kemampuan anggaran APBD DKI yang cukup besar, politikus PSI ini menilai Pemprov DKI bisa memenuhi kebutuhan ini.

“Harga ventilator sekitar Rp 450 juta per unit. Kalau melihat tren di Spanyol, Perancis, dan Italia, jika diasumsikan 1 persen penduduk Jakarta terpapar virus corona, maka akan dibutuhkan sekurangnya 2.800 sampai 3.500 ventilator. Sehingga total biaya yang dibutuhkan antara Rp 1,35 triliun sampai Rp 1,69 triliun termasuk pajak," jelasnya.

Petugas medis melintasi ruang isolasi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta. ANTARA FOTO/ Hendra Nurdiyansyah
Petugas medis melintasi ruang isolasi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta. ANTARA FOTO/ Hendra Nurdiyansyah

Kebutuhan anggaran tersebut belum termasuk untuk pembuatan dan pemenuhan fasilitas ICU darurat lainnya. Anggara menilai sumber anggaran bisa diambil dari kegiatan lain yang relatif tidak mendesak.

"Saya sudah cek di APBD 2020, beberapa pos anggaran yang bisa dialihkan antara lain pembangunan trotoar, sebagian pengadaan tanah, dan Formula E yang masing-masing nilainya Rp 1,2 triliun. Dari dua kegiatan itu saja totalnya mencapai Rp 3,6 triliun," tuturnya.

Baca Juga:

Semua Orang Bisa Jadi Pembawa Virus Corona, Masyarakat Diingatkan Pentingnya Jaga Jarak

Anggara menekankan, pemerintah harus siap dengan dengan skenario terburuk jika ada ribuan orang sakit kritis. Jika ini terjadi, maka akan ada konflik di rumah sakit akibat rebutan ventilator.

"Jangan sampai nanti banyak rakyat kecil terlantar dan tidak mendapatkan ventilator, lalu dibiarkan meninggal begitu saja,” tutup Anggara. (Asp)

Kredit : asropih


Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH