Dosen UGM Bikin Pendeteksi COVID-19 Radiografi Digital, Akurasi hingga 95 Persen Alat pendeteksi virus corona dengan teknologi radiografi digital. (Foto: MP/Humas UGM)  

MerahPutih.com - Dosen Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada Bayu Suparta mengembangkan alat pendeteksi COVID-19 dengan teknologi radiografi digital. Dengan alat ini, virus corona bisa terdeteksi langsung di tubuh seseorang.

Bayu menjelaskan, cara kerja alat ini cukup mudah dan cepat. Radiografi dapat melihat kondisi struktur paru-paru seseorang.

Baca Juga:

Pemerintah Pusat Didesak Segera Produksi Massal Pendeteksi COVID-19 dan APD

"Alat radiografi digital bisa membuktikan terkena virus atau tidak jika dilihat dari struktur paru-parunya. Bila terkena virus corona maka paru-parunya menjadi rusak," kata Bayu Suparta melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Jumat (26/06) 2020.

Alat yang dikontrol dengan komputer ini akan mengeluarkan sinar X dan kemudian dipancarkan ke tubuh pasien. Kemudian terusan radiasi itu ditangkap detektor dan dihubungkan ke layar monitor, lalu diolah radiografer untuk diberikan ke tenaga fisika medik. Setelah itu, akan transfer ke dokter secara digital sesuai permintaan.

Soal kemampuan deteksi COVID-19, Bayu berkeyakinan alat buatannya sangat mampu menentukan dan mengidentifikasi untuk prognosis pasien yang terkena COVID.

"Intinya lewat radiografi, signifikansinya hasilnya sampai 95 persen,"katanya.

 Alat pendeteksi virus corona dengan teknologi radiografi digital. (Foto: MP/Humas UGM)

Alat pendeteksi virus corona dengan teknologi radiografi digital. (Foto: MP/Humas UGM)

Bahkan dalam operasional alat tersebut, menurutnya sangat adaptif dengan teknologi 4.0 dan aman bagi pasien dan tenaga medis.

"Sangat aman bagi pasien karena dosis radiasi dibuat serendah mungkin," ujar dia.

Beberapa rumah sakit tipe A di Indonesia sudah memiliki alat radiografi digital. Namun karena harganya yang mahal membuat rumah sakit lain kesulitan membelinya.

"Bisa diprediksi alat radiografi digital sangat sedikit sehingga menjadi motivasi besar saya sejak lama melakukan riset alat radiografi digital dengan harga bisa dijangkau," kata dia.

Baca Juga:

Airbus Segera Hadirkan Kamera Canggih Pendeteksi COVID-19

Hingga saat ini, kata Bayu, sudah ada tiga alat radiografi digital buatannya yang sudah diproduksi untuk keperluan mendapatkan izin produksi, izin edar, dan uji coba ke pengguna.

Menggunakan merek Madeena atau Made in Ina (Indonesia), alat ini sudah dipakai di rumah sakit Tabanan Bali. Selanjutnya dua alat yang lain digunakan sebagai syarat tahapan proses mendapatkan izin produksi massal.

"Soal hilirisasi dan komersial sepenuhnya saya serahkan ke pemerintah dan stakeholder bidang kesehatan. Kita sudah mengajukan izin produksi dan izin edar. Apalagi, Presiden sudah meminta untuk produk inovasi monitoring COVID-19 dipermudah izinnya," pungkasnya. (Teresa Ika/Yogyakarta)

Baca Juga:

[HOAKS atau FAKTA]: Tak Perlu Rapid Test, Cium Bau Cuka Bisa Deteksi Virus Corona


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH