Kesehatan
Dokter Sarankan Ukur Tekanan Darah Secara Rutin Pengukuran tekanan darah penting untuk mengetahui kondisi hiopertensi atau tidak. (Foto: Pexels/thirdman)

WORLD Hypertension Day (WHD) mengusung tema Measure your blood pressure, control it, live longer yang menekankan pentingnya mengukur dan mengendalikan tekanan darah untuk mencapai hidup yang berkualitas. Tema tersebut terus dikumandangkan mengingat prevalensi hipertensi di dunia, termasuk di Indonesia sampai saat ini tetap tinggi atau belum mengalami perubahan selama 3 dekade terakhir. Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan survei tahun 2018 yaitu sekitar 34% tidak berubah dari angka yang didapat pada survey tahun 2007. Penyebabnya adalah tingginya kasus baru hipertensi akibat tingginya faktor risiko hipertensi seperti diabetes mellitus (kencing manis), kegemukan, konsumsi garam yang tinggi dan merokok.

Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi atau Indonesian Society of Hypertension (InaSH), dr. Erwinanto, Sp.JP (K), FIHA, FAsCC, menyarankan tekanan darah harus dikendalikan baik bagi pasien hipertensi maupun individu yang tidak menderita hipertensi. Bukti penelitian yang ada secara konsisten memperlihatkan bahwa penurunan tekanan darah bagi pasien hipertensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, stroke dan gagal ginjal yang selainberhubungan dengan tingkat kematian tinggi juga menghabiskan biaya terbesar dari penyakit katastropik di Indonesia.

Baca Juga:

Yogyakarta Siapkan Wisata Kesehatan Berbasis Seni dan Budaya

dokter
dr. Erwinanto, Sp.JP (K), FIHA, FAsCC, menyarankan tekanan darah harus dikendalikan baik bagi pasien hipertensi maupun individu yang tidak menderita hipertensi. (Foto: Tangkapan layar WHD)

“Sedangkan bagi individu yang bukan penyandang hipertensi, tekanan darah juga perlu dikendalikan untuk mencegah terjadinya hipertensi. Setiap peningkatan tekanan darah sebesar 20/10 mm Hg, dimulai dari tekanan darah 115/75 mm Hg, berhubungan dengan peningkatan kematian akibat penyakit jantung koroner dan stroke sebesar dua kali. Peningkatan tekanan darah juga meningkatkan kejadian penyakit ginjal secara bermakna. Di tingkat masyarakat, pencegahan hipertensi diharapkan dapat menurunkan prevalensi hipertensi,” lanjutnya

Dia menambahkan bahwa Survey May Measurement Month yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia pada tahun 2017, mengikutsertakan partisipan di daerah perkotaan berusia muda (umur rerata 43 tahun) menunjukkan hanya 52,5% penyandang hipertensi yang minum obat penurun tekanan darah.

Dalam pemaparannya, dia menghimbau masyarakat untuk mengukur tekanan darah secara akurat. Gunanya untuk mengetahui menderita hipertensi atau tidak. Dia menyarankan, jika menderita hipertensi, kendalikan tekanan darah melalui usaha menurunkannya dengan cara terapi perubahan gaya hidup dengan atau tanpa terapi obat.

Kemudian jika tidak menderita hipertensi, kendalikan tekanan darah melalui usaha pencegahan agar tekanan darah tidak naik melalui terapi perubahan gaya hidup. Pengendalian tekanan darah yang dilakukan akan berdampak hidup lebih lama karena peningkatan tekanan darah merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), stroke dan ginjal.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua InaSH dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S, mengatakan hipertensimerupakan masalah kesehatan global termasuk di Indonesia. Survei yang dilakukan oleh oleh Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (Indonesian Society of Hypertension) bekerjasama dengan Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2018 menunjukan pada sampel 68.846 orang dengan rentang usia rata 45 ± 16,3 tahun ditemukan 27.331 orang (30,8 %) adalah hipertensi.

Baca Juga:

Pentingnya Self Esteem Untuk Kesehatan Mental

dokter
Wakil Ketua InaSH dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S, hipertensimerupakan masalah kesehatan global termasuk di Indonesia. (Foto: Tangkapan layar WHD)

Angka ini lebih rendah dari survei tahun 2017 yaitu 34,5 %, hal ini disebabkan pada survei tahun 2018 terdapat 18,6 partisipan berusia 18-29 tahun. Dalam kelompok hipertensi hanya 13.018 (47,6 %) yang menyadari adanya hipertensi dan hanya 47,4 % yang mengkonsumsi obat anti hipertensi. Survei juga menunjukan target pengobatan tidak tercapai pada 10.106 pasien (78,0 %). "Dengan kondisi di Indonesia seperti ini tidak heran bila insiden penyakit jantung koroner, stroke dan gagal ginjal masihtinggi,” urainya.

Ia mengemukakan hipertensi dapat dicegah walaupun faktor genetik dan usia sulit untuk dimodifikasi. Namun banyak faktor risiko lain yang dapat dihindari agar tidak terjadi hipertensi dengan menanamkan pola hidup sehat sejak usia dini yang dilakukan dalam keluarga dan melalui edukasi di sekolah. Hal ini lebih mudah dibandingkan menyarankan perubahan gaya hidup bagi orang dewasa.

Orangtua dan guru mempunyai peranan penting dalam menanamkan pola hidup sehat pada anak-anak yang akan terus diingat dalam memorinya hingga mereka dewasa. Mengurangi paparan terhadap polusi udara juga merupakan upaya pencegahan terhadap hipertensi, selain mengatasi stresor dan tidur yang cukup.”

“Dengan bertambahnya usia maka risiko hipertensi meningkat. Risiko hipertensi meningkat tajam pada usia 45 tahun. Pemeriksaan tekanan darah secara regular disarankan dimulai pada usia 18 tahun, terutama yang mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi atau penyakit kardiovaskular. Pasien diabetes berisiko mengalami hipertensi sehingga dengan demikian harus di lakukan pemeriksaan darah berkala untuk mendeteksi adanya hipertensi,” lanjutnya.

Dia mengatakan bahwa selain pengukuran tekanan darah di fasilitas kesehatan, dapat juga dilakukan secara mandiri di rumah atau di komunitas tertentu yang dikenal dengan Home Blood Pressure Monitoring (HBPM) atau disebut dengan Pengukuran Tekanan Darah di Rumah (PTDR). Dengan melakukan pengukuran yang benar dan akurat akan didapatkan hasil yang tepat.

"PTDR sangat membantu untuk mendeteksi hipertensi jas putih, yaitu peningkatan tekanan darah saat diukur di klinik atau RS namun saat dilakukan pengukuran di luar klinik didapatkan tekanan darah normal. PTDR juga dapat digunakan untuk memonitor hasil pengobatan. Selain itu dengan melakukan pengukuran mandiri membuat pasien menjadi lebih patuh dalam pengobatan,” jelasnya. (avia)

Baca Juga:

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Trend 'Dumbphone' yang Tengah Bergerak Naik
Fun
Trend 'Dumbphone' yang Tengah Bergerak Naik

Dumbphone adalah ponsel biasa dengan fungsi yang sangat terbatas.

Telekonsultasi Alodokter, Solusi untuk Pasien COVID-19 Gejala Ringan
Fun
Telekonsultasi Alodokter, Solusi untuk Pasien COVID-19 Gejala Ringan

Pasien gejala ringan bisa berkonsultasi dengan dokter kompeten di rumah.

Mengapa Guru Lebih Terkenang Murid Bandel Saat Berstatus Alumnus
Hiburan & Gaya Hidup
Mengapa Guru Lebih Terkenang Murid Bandel Saat Berstatus Alumnus

Menelusur lebih jauh soal selentingan 'murid bandel lebih diingat guru dibanding murid pintar'

Cara Menangi Argumen Berdasarkan Zodiak Lawan Bicara  (Part 2)
Fun
Cara Menangi Argumen Berdasarkan Zodiak Lawan Bicara (Part 2)

Kenali kelemahan mereka ketika sedang panas

Berencana Hamil Anak Kedua? Berikut yang Harus Kamu Pertimbangkan
Fun
CRYonSTAGExxx6 akan Berikan Pengalaman Konser Virtual ke Dunia Nyata
Hiburan & Gaya Hidup
Monitor Gaming Serbacanggih dari BenQ
Fun
Monitor Gaming Serbacanggih dari BenQ

Dapat bekerja dengan baik untuk hampir semua genre gim.

Marc Marquez Alami Kecelakaan Highside di Mandalika karena Rem Belakang?
Fun
Marc Marquez Alami Kecelakaan Highside di Mandalika karena Rem Belakang?

Marc Marquez terpental ke udara karena highside.

Kolaborasi Lintas Generasi di Prambanan Jazz Festival
ShowBiz
Kolaborasi Lintas Generasi di Prambanan Jazz Festival

Prambanan Jazz Festival digelar 1-3 Juli 2022.

Rekam Ulang Album 'Taman Langit', Noah Punya Alasan
ShowBiz
Rekam Ulang Album 'Taman Langit', Noah Punya Alasan

Grup band Noah belum lama ini dikabarkaan akan meluncurkan sebuah album, yang bertajuk "Second Chance: Taman Langit"