DJ Lawas Menolak Tua Wajah-wajah DJ tahun 80-an. (Bayu Samudro/MP)

Entakan musik funk melumat ruangan Harlow Bresserie, Kuningan, Jakarta Selatan. Melodinya sangat lincah, suara bas tebal, berdentuman berteman degup drum, namun absen vokal. Instrumentalia. Tiga orang lelaki paruh baya asyik menganggukkan kepala di dekat pusat suara. Mereka minim joget meningkahi musik, justru lebih sering cengkrama dan melempar canda pada sang pemutar piringan hitam.

Di hadapan mereka, seorang lelaki berkaus wangki putih bercelana jeans, tenggelam memainkan turntable merek Technics SL 1200 MK2. Jemarinya sesekali memainkan picth, menaik-turunkan pemacu. Sementara, headphone semula mengalung di leher, mulai melekat kuping, memastikan racikan musiknya sesuai. "Bedanya, dulu nge-DJ pakai SL 1200 tipe lama warna silver di Tanamur," ujar DJ Ian Hanmur kepada merahputih.com.

Ian pun mengenang masa-masa emas selagi menjadi Disc Jockey berkala pada tahun 1990-an di Tanamur, diskotek pertama Asia Tenggara. Saban malam, DJ Ian memutar piringan hitam. Dua perangkat SL 1200 mengapit DJ Mixer Channel 6 jalur (track). Di seberangnya, sepasang speaker monitor audio berdiri kokoh memandu DJ memastikan detail harmoni.

Ian Hanmur
DJ Ian Hanmur Tanamur. (Bayu Samudro/MP)

Di samping kiri perangkat turntable, deretan piringan hitam beragam lagu, mulai swing, rock n roll, funk, blues, rock, dan pop keluaran luar negeri tertib mengantre di rak. "Tanamur selalu update lagu terbaru. Bahkan di billboard belum keluar, kita udah punya," ungkap Ian.

Perangkat turntable tersebut tak pernah istirahat. Hampir tiap malam para DJ, tak hanya Ian Hanmur, tapi juga DJ Vincent dan almarhum DJ Bongki bergantian mengoperasikannya. "Biasanya jarum stylus diganti dua bulan sekali, sama picthnya juga sering di-service,” ujar Ian nan senang mengaku diri sebagai pensiunan DJ.

Peran sentral DJ sangat penting bagi sebuah diskotek. Terkadang, sepi-ramainya sebuah diskotek ditentukan dari kualitas DJ-nya.

Nyawa Diskotek

"DJ itu nyawanya diskotek," tegas Ian. "Bagus atau buruk, besar andil seorang DJ di situ". Seorang DJ beroleh kepekaan tentang crowd. Mula-mula mereka memainkan tempo landai. Pemanasan. Bisa lagu swing, bossa nova, dan pop. Perlahan, agak malam, tempo agak memacu. Makin larut malam, makin pedansa bergairah, makin deras pula musik mengentak. Pengunjung pun menggila. "Kalau udah gila, musik apa aja bisa dilahap pengunjung," ujarnya.

Di Harlow pun musik disko mulai menggila. Satu dari tiga lelaki lepas landas bertukar tempat dengan Ian Hanmur. Dia lantas mengalungkan headphone, menaruh piringan hitam di slipmat, lalu menancapkan tonearm tepat. Beat cepat pun mengalir.

"Whats up! This is DJ Aches in the club,” teriak lelaki bertubuh besar berambut putih mengenakan kemeja berwarna merah menyala tersebut.

Suasana semakin meriah lantaran permainan DJ Aches sedikit liar. Pria bernama Charles tersebut merupakan DJ tetap di Diskotek Sanado, Singapura pada tahun 1980-an. Sejurus kemudian satu per satu DJ senior berdatangan. Mereka saling bersapa mesra di malam reuni kecil para DJ-DJ lawas.

Beberapa DJ tak segan berbagi cerita tentang pengalaman mereka kali pertama bersentuhan dengan piringan hitam. "DJ itu awal mulanya dari operator radio. Di seluruh dunia tumbuh dari situ," tukas DJ Aches kepada merahputih.com.

Operator Radio

Seorang operator radio di masa lalu memiliki keterampilan untuk memilih, mixing, dan mengatur urutan lagu. Para operator pun acap bergumul dengan perangkat turntable lantaran format rilisan fisik di masa lalu masih menggunakan piringan hitam. Perilaku atau kegiatan operator radio di masa lalu lantas berkembang menjadi pola dasar seorang DJ menggauli perangkat piringan hitam.

DJ Aches, DJ Ian, DJ Vincent, dan banyak DJ di masa 1980-an secara langsung dan tidak hampir pasti pernah bersentuhan dengan para operator radio. Masing-masing DJ bahkan memiliki cerita unik tentang bagaimana mereka berkenalan dengan dunia DJ dan disko.

DJ Aches kali pertama tertarik pada dunia DJ kala menyaksikan penampilan DJ Ricky berdarah Ambon nan lihai bermain scracth. Dia terpesona, dan mulai cari tahu kepada seorang operator radio.

Di tengah keasyikan belajar DJ, sang ayah mengirimnya ke Singapura untuk menempuh studi. "Ayah menilai saya ini bandel kecepetan. Maka saya dikirim ambil college di Singapura," ungkap pendiri sekolah DJ bernama Master Disc Jockey Creation (MDJC).

Aches
DJ Aches Sanado. (Bayu Samudro/MP)

Di Singapura, Aches justru menuai impian nan tertunda. Tak disangka teman satu kamarnya seorang DJ ternama di negeri singa. Aches sering diajak menghabiskan malam di acara kejuaran breakdance, sembari nge-DJ. Satu kali, dia pun unjuk kebolehan ber-scracth ria.

"Penonton suka. Saya pun mulai banyak dilirik sebagai DJ," ujar Aches. Ketenarannya bermain piringan hitam mulai merebak se-antero Singapura. Dia pun mendapat tawaran menjadi DJ tetap dan menanjak kariernya sebagai leader di Diskotek Sanado Singapura.

Selaras Aches, DJ Ian pun mula-mula kenal perangkat piringan hitam lantaran perkenalannya dengan seorang operator radio amatir di Jakarta. "Kayaknya asyik! Kebetulan di rumah punya piringan hitam," ujar Ian Hanmur. Dia pun mulai senang utak-atik perangkatnya.

Dari situ, Ian lantas menjajal me-mixing lagu, menghitung beat menggunakan lagu milik band Europe, Modern Talking, dan Pet Shop Boys. "Saya masih belajar dari model kaset C90 kalau enggak salah," katanya. Ian pun gandrung dan tak puas belajar otodidak.

Dia lantas belajar pada akademi khusus mempelajari DJ di daerah Grogol, Jakarta Barat pada penghujung dekade 1980-an. Pengajarnya dua DJ kenamaan di tahun 80-an, DJ Paulus dan DJ Lexy. Masa belajar dia habiskan lebih cepat, hanya 6 bulan. "Teori belajar di akademi DJ, Praktik pengembangan di rumah," kenangnya. Tak heran bila rumahnya serupa laboratorium kecil bunyi-bunyian.

Satu hari seorang teman ayahnya bertamu. Lantaran terganggu suara bising, sang tamu lantas menghampiri sumber suara. Dia tidak marah, malah menyuruh memainkan satu-dua lagu. "Pak Fahmi senang! Dia ngajak main di Tanamur," kata Ian. Tamu ayahnya ternyata bukan orang sembarangan. Dia seorang pengusaha hiburan, pemilik Tanamur, bernama Ahmad Fahmi Alhady.

Tanamur
Halaman muka Diskotek Tanamur di masa lalu. (Foto: Dokumen Tanamur)

Ian sempat ketar-ketir tampil perdana di tonton ratusan mata. "Saya ingat main lagu Silent Morning. Pakai koleksi piringan hitam Tanamur," ucapnya. Rupanya lagu tersebut mampu membuat pengujung berdecak kagum. Dia pun lantas beroleh kesepakatan menjadi pemain tetap di Tanamur.

Kisah Tanamur selalu menarik. Bukan saja lantaran menjadi perintis diskotek, tapi juga kemunculan para DJ-nya. "Datanglah ke Tanamur, temui DJ Vincent. Dia sangat legendaris," pinta DJ Ian kepada merahputih.com.

DJ Papua Pertama

Vincent sempat kepincut penampilan seorang sahabat menggunakan seragam kadet perwira Angkatan Laut. Dia langsung tergerak ingian seperti sahabatnya. Tampil gagah dan berjiwa korsa!

"Ko ke Jawa bole. Di sana ikut sekolah Angkatan Laut," kata Vincent menirukan pesan sahabatnya.

Orang tuanya sempat berat hati, namun Vincent terus meyakinkan mama-papanya tentang kejayaan di tanah seberang, Jawa. Dia pun merantau menumpang kapal. Terombang-ambing berbulan di laut. Setiba di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Vincent menyambung kereta api dengan tujuan Jakarta.

Vincent langsung mencari kediaman sang paman di Jalan Tanah Abang Timur, Jakarta Pusat, komplek perumahan pegawai Bank Bumi Daya (Kini, Bank Mandiri Learning Centre) saat tiba di Jakarta, Januari 1970. Dia menumpang hidup selama melakoni kelengkapan administrasi pendaftaran Akademi Militer. "Tujuan saya daftar sekolah militer langsung berubah saat kenal dengan teman baru, apalagi setelah Tanamur buka," kenang Vincent.

Lokasi kediaman sang paman memang tak begitu jauh dengan Tanamur. Vincent sering lalu-lalang di depannya. Dia mulai berani nongkrong di Tanamur setelah masuk sebuah geng bernama Sartanah (Sarinah-Tanah Abang). "Saya dulu termasuk salah satu pentolannya," katanya.

Vincet
DJ Vincent Tanamur. (Bayu Samudro/MP)

Vincent bersama teman-teman segeng kemudian sering bercokol di Tanamur. Di situ dia berkenalan dengan DJ Bongki. "Sering ngobrol dan sharing lagu-lagu," ungkap lelaki berambut panjang tersebut. Dari obrolan itu Vincent mulai tertarik dunia pembuatan musik. Mixing.

Dia mulai sering dan makin intim dengan perangkat piringan hitam. Bila bertemu kebuntuan, Vincent tak segan bertanya kepada sahabatnya seorang operator radio dan DJ Bongki.

Di seberang sisi, di tengah kesibukan Vincent memixing lagu, Tanamur sedang kebingung karena kekurangan tenaga DJ.

Bongki kontan melontarkan nama Vincent kepada Fahmi. "Ngapain gengster disuruh main di sini," sahut Fahmi ketus, setiru Vincent. Bongki tak mau mentah. Dia berusaha menjelaskan sosok Vincent, memiliki wawasan musik sangat luas, dan sering meminjamkan plat. Bongki pun rela dirinya sebagai jaminan. Fahmi pun luluh.

Tiba malam Vincent kali pertama unjuk kemahiran bermain piringan hitam di depan para tamu Tanamur. "Pertama kali nge-DJ itu malah grogi karena dilihat banyak orang bule," tuturnya. Dia tampil perdana pada tahun 1982 memainkan tembang-tembang karya The Beatles, Rolling Stone, The Cats, Marmalade, dan lainnya. Penampilan Vincent memukau! Fahmi pun tertarik mematenkan Vincent sebagai DJ Tanamur.

Vincent pun tampil berkala dan telah mahir membaca keinginan pengunjung. Dia tahu kapan menaikkan lagu dengan tempo cepat, lagu-lagu sing a long, dan lagu-lagu santai. "Saya memang tidak bisa membantu orang secara materi, tapi bisa membahagiakan mereka, melepas stress, lewat lagu-lagu saya sebagai DJ."

Tanamur
Riuh-rendah pengunjung Tanamur. (Foto: Dokumen Tanmur)

Lambat-laun penampilan Vincent jadi sorotan dan mendapat aspresiasi tinggi, termasuk dari para ratu disko dalam dan luar negeri pengunjung setia Tanamur. "Orang dulu bilang DJ ibarat gula dirubung semut. Saya gulanya," kata Vincent sembari tertawa lepas.

Kabar duka kepegian Bongki menuju Sang Ilahi menyisakan lubang di hati Vincent. Dia sangat kehilangan. "Beliau orang baik," kata Vincent, merenung sebentar lalu meneruskan. "Kalau sedang santai, saya sering memutar piringan hitam biasa almarmhum Bongki setel. Dia sangat baik," kenangnya.

Vincent merasa disko dan dunia DJ tak sekadar tentang hura-hura dan gemerlapan, tapi juga ada persaudaraan, kehangatan seperti di rumah sendiri, dan kegetiran. Meski sedih kehilangan Bongki, Vincent enggan mencicip narkoba. "Lebih baik minum sampai mabuk!"

Digoda Narkoba

DJ memang menggoda bak gula. Mereka menjadi pusat perhatian. Tak sedikit perempuan cantik mendekat. "Tetap ada batasan. Sekadarnya saja," kata DJ Aches mewanti-wanti.

Selain perempuan, kehidupan DJ juga sering menjadi incaran bandar Narkoba. Mereka menganggap DJ memiliki peran strategis untuk mendistribusikan barang haram tersebut. "DJ itu tidak pernah kekurangan duit. Cewek, duit, dan bandar narkoba ngincer DJ," ucap DJ Aches.

Selagi menjadi DJ di Singapura, Aches pernah didekati seorang bandar besar. Sang bandar memintanya untuk menjual narkoba dengan iming-iming bayaran tinggi dan fasilitas super mewah. "Tapi hati kecil saya menolak," tandasnya.

Aches mengaku para DJ di Singapura kala itu banyak juga terjerat iming-iming sehingga menjadi boneka para bandar narkoba. Tak sebatas Singapura, godaan narkoba pun sempat gencar mengicar para DJ-DJ di Indonesia.

DJ Ocho Pit Stop. (Bayu Samudro/MP)

DJ Ocho Prakoso, salah satu DJ Pit Stop, mengamini ucapan DJ Aches. Ocho mengamati gerak-gerik bandar narkoba. Para bandar selalu melihat secara jeli para DJ dengan pengaruh besar di lantai dansa. "Mereka nanti mendekati DJ dengan cara persuasif," timpal DJ Ocho.

Bandar narkoba memang mahir melihat peluang. DJ memiliki peran sentral di diskotek. Kehadirannya boleh dibilang bak rock star. Segala gerak-gerik seorang DJ bahkan berpotensi terduplikat pada penonton.

DJ Aches dan DJ Ocho, mengaku justru narkoba jadi biang keladi stigma buruk para masyarakat terhadap musik disko dan diskotek. Mereka sangat setuju dengan kampanye Persatuan Disc Jockey Indonesia (PDJI) menginisasi gerakan DJ Anti-Narkoba.

"Orang-orang pasti sudah buruk sangka mengenai DJ dan dunia malam. Karena itu, PDJI sebagai wadah akan meluruskan hal ini dan berperang secara nyata terhadap peredaran narkoba," tandas DJ Aches. (*) Noer Ardiansjah/Yudi Anugrah/Thomas Kukuh



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH