Diterpa Berbagai Polemik, Anies Enggan Responsif Demi Jaga Citra Pilpres 2024 Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. (MP/Asropih)

Merahputih.com - Berbagai meme yang dialamatkan kepada Gubernur DKI Anies Baswedan belakangan membuat dia kewalahan untuk melakukan klarifikasi. Apalagi meme tersebut berkaitan dengan polemik anggaran Pemprov DKI Jakarta. Yang terbaru adalah cover majalah Tempo yang menampilkan wajah Anies dengan lem Aica Aibon.

Kritikan yang beredar membuat pendukung Anies gerah dan tidak tinggal diam dengan melaporkan beberapa akun media sosial seperti Ade Armando yang dilaporkan oleh Fahira Idris.

Baca Juga:

DPRD DKI Desak SKPD Perbaiki Perencanaan Anggaran 2020

"Walaupun Anies tidak melaporkan secara langsung, tapi saya kira pelapor tersebut sudah berkordinasi dengan Anies. Dengan demikian tidak sibuk untuk menanggapi meme terhadap dirinya, tapi tim pendukungnyalah yang menghadapinya," jelas pengamat politik Wempy Hadir kepada Merahputih.com di Jakarta, Rabu (13/11).

Ia menduga, Anies sengaja tak ingin melaporkan publik karena ingin menjaga citra dirinya sendiri.

"Ini bisa sebagai strategi agar tidak menimbulkan kegaduhan di ruang publik. Kegaduhan tersebut tentu akan merugikan Anies sendiri dan bisa menciptakan citra yang negatif," jelas Direktur Indo Polling Network ini.

Anies bantah pembangunan trotoar jadi penyebab kemacetan
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Foto: MP/Asropih

Pertimbangan Anies tentu pertimbangan yang sangat strategis. Misalnya dia ingin bahwa jalannya pemerintahan di DKI Jakarta tanpa harus ada keributan di ruang publik ditengah amburadulnya nomenklatur anggaran.

"Selain itu, saya kira Anies ingin menjaga citra positif menjelang pemilihan presiden 2024. Ujian bagi Anis masih panjang," ungkap Wempy.

Wempy berujar, jika Anies mau dikenang, maka pengelolaan anggaran DKI Jakarta mesti transparan seperti yang dilakukan oleh pendahulunya.

Baca Juga:

Demokrasi Didominasi Kekuatan Kapital, PDIP: Kritik Tito Relevan

"Kalau Anies tidak terbuka kepada publik, saya kira tingkat kepercayaan publik terhadapnya bisa menurun. Karena bisa saja dia dianggap tidak terbuka dengan masyarakat. Kalau tidak terbuka, maka ada dugaan anggaran yang tidak rasional bisa muncul secara diam-diam," jelas Wempy.

"Bukan malah set back dengan ketertutupan anggaran yang tidak bisa diakses oleh publik," tutup Wempy. (Knu)


Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH