Diselamatkan Sultan dari Investor Asing, Kopi Otentik Banten Didorong untuk 'Go International' Seruput pertama Kopi Bukit Kuru oleh Sultan Banten Rtb Hendra Bambang Wisanggeni (kanan) didampingi petani kopi Kang Tiwin (kiri). (Foto: MP/Sucitra)

SULTAN Banten Ke XVIII Ratubagus Hendra Bambang Wisanggeni menjadi orang pertama yang mencicipi lezatnya Kopi Bukit Kuru, kopi yang diperlakukan dan diracik secara khusus untuk Brand Kopi Otentik Banten atas prakarsa Sang Sultan.

Kafe Banyu Biru yang terletak di Jl KH Fatah Hasan No 24 Ciceri Bunderan Kota Serang, yang menjadi lokasi Firts Cupping (penyajian pertama) sudah didatangi Kang Tiwin, petani Kopi Bukit Kuru yang berperan besar dalam memperlakukan kopi pilihan sejak awal. Wajah polos khas orang suku Baduy itu nampak sumringah.

Purwaindera Arie, Barista yang bertugas untuk meracik Kopi Sang Sultan, sudah bekerja sejak subuh, memastikan agar biji kopi, penggiling biji kopi, filter V60, dan suhu air yang digunakan untuk racikan pertama Kopi Bukit Kuru benar-benar sempurna.

Kepada merahputih.com, Barista yang akrab disapa Kang Arie tersebut mengatakan, untuk mendapatkan rasa kopi yang lezat, kerja keras terbesarnya terletak ditangan petani. "Enampuluh persen kerja kerasnya ada ditangan petani, sehebat apapun barista tidak akan bisa menyajikan kopi lezat jika bahan yang kita dapat buruk. Itu semua kita dapat dari petani. Hari ini kita akan melakukan First Cupping dengan Sultan," katanya saat memulai pembicaraan, Rabu (27/2).

Menurutnya, First Cupping sangat penting, untuk memastikan kestabilan aroma biji kopi setelah diroasting, aroma setelah digiling, dan aroma bubuk kopi setelah dilebur dengan air panas. "Jika sudah konsisten, maka kopi yang kita rancang ke-khasan rasanya dapat kita nilai berhasil, dan siap kita lempar ke pasaran," jelasnya.

Diselamatkan Sultan dari Investor Asing, Kopi Otentik Banten Didorong untuk 'Go International'
Prosesi First Cupping oleh Barista Arie Banyu Biru (Foto: MP/Sucitra)

Ditengah obrolan itu, Sultan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, diiringi Patih Dalem Kesultanan Banten Tubagus Andi Trisnahadi dan beberapa orang pengiringnya. Semua orang yang hadir pun berpindah tempat dari lantai dasar ke lantai dua, dimana proses ritual First Cupping dilakukan.

Biji Kopi Bukit Kuru yang sudah diroasting dikeluarkan dari kantungnya, barista menyodorkan, meminta Sang Sultan untuk menghirup aromanya, semua hadirin pun melakukan hal yang sama mengingat aroma khas dari biji kopi tersebut.

Berikutnya kopi digiling secara manual, barista kembali menyodorkan aroma biji kopi yang sudah menjadi bubuk, setelah semua sepakat aromanya sama, proses dilanjutkan dengan meleburkan bubuk kopi dengan air dengan suhu 92 derajat celcius, dan setelah semua sepakat aromanya konsisten khas Kopi Bukit Kuru. Barista menuangkan racikan pertama untuk gelas Sultan.

"Wah, saya seumur hidup belum pernah minum kopi tanpa pemanis, tolong catat itu. Ini murni kopinya saja bisa enak begini ya," ungkapnya setelah mengaliri tenggorokannya dengan tegukan pertama.

Patih Dalem Kesultanan Banten Tubagus Andi Trisnahadi mengatakan, bahwa Kopi Bukit Kuru adalah kopi yang tumbuh di pegunungan wilayah masyarakat adat Baduy yang luasnya sekitar 15 hektar.

Saat ini wilayah tersebut menjadi incaran para investor asing, dari Korea bersedia membayar Rp 10 milliar, sedangkan investor dari Jepang membuat janji bertemu dengan pemilik lahan. "Kesultanan mengambil langkah penyelamatan, jangan sampai kualitas berkelas yang dimiliki Bukit Kuru untuk aroma kopinya jatuh ke tangan asing," katanya.

Andi menyebut, dari First Cupping ini Kopi Bukit Kuru akan dikenalkan kepada publik eropa tepatnya di Berlin-Jerman, di Boston-Amerika, dan di Guang Zhou-China pada tahun ini.

Kesultanan Banten berperan sebagai pengayom dari para petani kopi, karena merekalah yang paling berhak menikmati keuntungan terbesar dari lezatnya kopi otentik tersebut.

Tulisan dari Sucitra kontributor merahputih.com untuk wilayah Banten.


Tags Artikel Ini

Ananda Dimas Prasetya