Operasi TNI Mapenduma (9): Diplomasi Pendeta Gagal, Komite Palang Merah Internasional Diterjunkan Salah seorang sandera WNA sedang berjabat-tangan bersama anggota Kopassus ketika berhasil bebas. (Gatra, Dani Hamdani)

PERTEMUAN para pendeta kali pertama dengan Kelly Kwalik justru menutup peluang negosiasi. Sang komandan menolak membebaskan sandera sebelum pemerintah Indonesia mengakui kemerdekaan Papua Barat, serta negara-negara Pasifik, dan PBB menunjukan solidaritasnya kepada Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Empat pemimpin gereja pun menganggap permintaan OPM tak masuk akal. Mereka lantas angkat kaki, tak sudi lagi menjadi perantara negosiasi.

Kepergiaan para pendeta tak turut serta menggagalkan seluruh upaya negosiasi. Jalan persuasif terus berlanjut. Peluang bernegosiasi pun masih terbuka lebar. International Comittee of the Red Cross (ICRC) atau Komite Palang Merah Internasional kemudian hadir menggantikan peran para pendeta.

“Keikutsertaan ICRC didasarkan atas permintaan Kelly Kwalik, yang disampaikan melalui misionaris,” kata Henry Fournier, ketua ICRC Delegasi Regional Jakarta, membawahi wilayah Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam, dikutip Gatra, 25 Mei 1996.

Tanggal 9 Februari 1996, ICRC tiba di posko komando operasi pembebasan Komando Distrik Militer (Kodim) Wamena, Papua. Mereka berkoordinasi dengan pihak TNI mengenai peran mereka sebagai perantara negosiasi, hingga ke masalah teknis seperti pendampingan pemberangkatan.

“Kami sudah meminta kepada Brigjen Prabowo untuk menciptakan daerah bebas tentara sejauh 12 Km. Sampai sekarang saya berani menjamin validitas daerah bebas militer itu. OPM pun tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Tidak pernah!” ungkap Fournier, dikutip Tempo, 22 Mei 1996.

Tugas penting ICRC kini fokus membujuk OPM untuk membebaskan sisa sandera. Dari hari penculikan tanggal 8 Januari 1996 hingga kedatangan ICRC, total sudah 13 sandera berhasil dibebaskan melalui jalan negosiasi. Masih ada 13 sandera lagi, termasuk 6 Warga Negara Asing, menunggu uluran tangan negosiator agar nasib mereka menjadi jelas.

Helikopter berwarna putih milik ICRC berpisah denga heli milik TNI di titik barikade 12 Km menuju lokasi penculikan, di pedalaman rimba Desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Dari dua sisi perut heli, awak ICRC mengeluarkan bendera putih dengan logo salib merah di tengah.

Perlahan heli mendarat dan awak ICRC langsung menuju lokasi penyanderaan. Pihak ICRC kemudian bertemu kelompok penculik pimpinan Daniel Yudas Kogoya dan Elmin Silas Kogoya, Komandan Operasi Kodam III Fakfak, West Papua New Guinea, OPM. ICRC belum berjumpa Kelly Kwalik, diduga perancang aksi penculikan.

Negosiasi berjalan lancar. Seluruh permintaan OPM nonpolitik, seperti bahan sandang dan pangan coba dituruti ICRC. Begitu pun, tak kalah penting, seluruh kebutuhan dan pengobatan sandera semaksimal mungkin dipenuhi. Dua sandera, Adinda Arimbi Saraswati, salah seorang Tim Ekspedisi Lorentz 1995 unsur BSsC, dengan kondisi fisik semakin lemah, dan Martha Klein, peneliti Unesco, tengah hamil besar pun butuh perawatan medis segera.

ICRC memasok obat-obatan, bahan pangan, selimut, hingga pembalut permintaan Adinda. Pembalut, tutur Adinda Saraswati pada buku Sandera: 130 Hari Terperangkap di Mapenduma, bahkan dipasok hingga berdus-dus, karena berlebih sampai dijadikan alas kaki, hingga bantal untuk beristirahat.

Usaha ICRC perlahan menuai hasil. Pada tanggal 10 Februari 1996, OPM bersedia melepas Penginjil asal Tiom, Papua, Zarkeus Elopere. Selepas itu, kelompok penculik menggeser lokasi ke Geselema.

Hubungan ICRC dan OPM pun masih mulus. Pada tanggal 15 Februari 1996, seorang sandera, peneliti Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kanwil Kehutanan Irian Jaya (Papua, kini), Abraham Wanggai, kembali dibebaskan.

Pembebasan para sandera acap menunggu restu Moses Weror, disebut-sebut sebagai Pimpinan Dewan Revolusi OPM di Papua Nugini. ICRC, melalui Henry Fournier, sempat bersemuka dengan Moses Weror di Papua Nugini untuk membujuk kelompok penculik membebaskan sisa sandera, 11 orang gabungan peneliti Tim Ekspedisi Lorentz 1995, WWF, dan Unesco. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH