Diplomasi Gambut Menteri KLH Bawa Indonesia ke Puncak Dunia Sistem Pengelolaan Gambut di Indonesia. Foto: agrofarm.co.id

MerahPutih.com - Percaya atau tidak, gambut ternyata bisa membawa nama Indonesia menjulang tinggi di mata negara-negara dunia. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKH) Siti Nurbaya membawa diplomasi gambut saat menghadiri pertemuan tingkat menteri internasional di "Global Peatland Initiative" di Brazaville, ibu kota Republik Kongo.

Siti Nurbaya dalam pertemuan itu bukan hanya hadir sebagai peserta biasa, tetapi juga menjadi pembicara kunci dalam dialog tingkat menteri di pertemuan internasional itu. Menteri Siti dan tim delegasi mendapat pengakuan dunia karena Indonesia dianggap paling sukses dalam pengelolaan gambut dan menjadi contoh bagi berbagai negara lainnya.

Menteri Siti
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKH) Siti Nurbaya. Foto: Antara

Menteri LHK dengan bangga menyatakan Indonesia sebagai pendiri gerakan Asia-Afrika siap untuk berbagi pengalaman dan membantu negara-negara lain untuk memajukan manajemen gambut melalui kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular. Indonesia juga siap menggulirkan rencananya untuk mendirikan Pusat Riset Internasional Gambut Tropis di Indonesia. "Dunia akan mengakui gambut Indonesia sebagai arsip dunia," imbuh dia, dilansir Antara, Senin (23/4).

Banyak negara telah mencoba mengelola dan mengolah gambut, tapi gagal. Pengelolaan gambut memang sulit karena memiliki karekteristik khusus. Gambut yang berbeda dengan daratan, juga berbeda dengan rawa-rawa yang berlumpur. Meski dikatakan rawa, tetapi area gambut kalau musim kemarau mudah terbakar, sehingga tidak mudah menanam atau membudidayakan tanaman di lahan itu.

gambut riau
Lahan Gambut Indonesia. Foto : Mongabay.com

Sebagai negara yang memiliki 15 juta hektare gambut, Indonesia tentunya mempunyai keistimewaan atas adanya beragam ekosistem gambut. Mulai dari gambut pesisir yang banyak terdapat di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua.

Harus Dibayar Mahal

Gambut memiliki peran penting sebagai cadangan karbon organik terbesar di dunia. Wajar pengakuan dunia ini merupakan prestasi diplomasi Indonesia dalam manajemen gambut ke tingkat global. Dengan diplomatis, Nurbaya menjelaskan Indonesia belajar sangat mahal atas kejadian kebakaran gambut hebat pada tahun 2015.

Namun, lanjut dia, Pemerintah merespons melalui kebijakan-kebijakan untuk mengendalikan sangat ketat dan menyeluruh guna meminimalkan terulangnya kejadian ini. Hasilnya sangat fantastis, dalam kurun waktu dua tahun, 2015-2017, Indonesia berhasil menurunkan titik api sebanyak 93.6 persen.

Hasil ini membuktikan kesungguhan Presiden Joko Widodo menjadikan pencegahan kebakaran hutan dan gambut sebagai prioritas nasional. Presiden berhasil menjadikan kebijakan-kebijakan yang diambilnya menjadi aksi yang efektif di lapangan. "Kerja sama yang kuat antara berbagai pihak, terutama keterlibatan sektor swasta menjadi hal kunci," tegas Menteri LHK.

Kunci Sukses Indonesia

Berbagi sukses, Tim Delegasi Indonesia membocorkan trik kesuksesan manajemen gambut sebagai inspirasi sekaligus rujukan bagi negara-negara lain yang sedang bergiat untuk hal yang sama. Indonesia berhasil memperbaharui dan mendorong moratorium dan penegakan hukum secara efektif.

Sekitar 500 kasus kebakaran hutan dan gambut dibawa ke pengadilan. Salah satunya yang fenomenal adalah putusan terhadap satu pemegang konsensi lahan yang terbukti bersalah untuk membayar ganti rugi sebesar 1,2 juta dolar Amerika Serikat kepada Pemerintah Indonesia.

gambut
Sistem Pengelolaan Gambut di Indonesia. Foto: agrofarm.co.id

Indonesia Rujukan Dunia

Direktur Eksekutif Program Lingkungan pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) Erik Solheim memuji langkah-langkah yang dilakukan Indonesia dalam pemulihan ekosistem gambut. Upaya Indonesia dinilai itu telah berhasil serta patut menjadi contoh bagi negara lain.

Menurut Erik, dunia internasional mengakui Indonesia sebagai negara yang memiliki gambut terluas di dunia dengan luas lebih dari 15 juta hektare. "Rusaknya gambut di seluruh dunia akan menjadi pukulan besar bagi generasi mendatang," tegas Solheim.

Dalam ajang itu, Republik Kongo dan Republik Demokratik Kongo langsung menegaskan keinginan mereka segera belajar pengelolalaan gambut dari Indonesia. Indonesia akan memimpin Kerja Sama Selatan-Selatan dalam penanganan Congo Basin untuk dunia. Congo Basin atau Lembah Kongo meliputi tiga negara yang memiliki lahan gambut terluas kedua di dunia, yakni Republik Kongo, Republik Demokratik Kongo dan Gabon. (*)



Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH