Diperiksa Secara Maraton, Ahyudin Klaim Tidak Ada Penyelewengan Dana di ACT Pendiri Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ahyudin (kanan) didampingi tim pengacaranya usai menjalani pemeriksaan di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (12/7/2022). (ANTARA/Laily Rahmawaty)

MerahPutih.com - Para pendiri dan petinggi Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) diperiksa secara maraton oleh kepolisian selama beberapa hari ini.

Kasubdit IV Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus), Kombes Pol. Andri Sudarmaji mengatakan, pemeriksaan terhadap kedua petinggi ACT tersebut kembali dilanjutkan hari ini, Kamis (14/7).

Baca Juga:

Mantan Bos dan Petinggi ACT Diperiksa Hampir Setiap Hari, Kini Dicecar Soal Penggunaan Dana

Selain pendiri ACT, Ahyudin dan Presiden ACT, Ibnu Khajar, penyidik juga meminta keterangan Pengurus ACT/ Senior Vice President Operational Global Islamic Philantrophy, Hariyana Hermain. Pemeriksaan terhadap tiga saksi tersebut dijadwalkan siang hari.

"Pemeriksaan dilanjut pada pukul 1 (13.00)," kata Andri, dikutip dari Antara.

Penyidikan kasus ini terjadi dengan dugaan tindak pidana melakukan pengalihan kekayaan yayasan secara langsung maupun tidak langsung sebagaimana diatur dalam Pasal 70 ayat (1) dan (2) juncto Pasal 5 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 sebagaimana diubah menjadi Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Yayasan, serta pasal penggelapan sebagaimana diatur dalam Pasal 372 KUHP.

Sementara itu, Pendiri Yayasan ACT, Ahyudin mengklaim, tidak ada penyelewengan dana di lembaganya, yang dibuktikannya dengan hasil audit laporan keuangan oleh lembaga audit yang tidak disebutkan namanya.

"Jadi buat kami Insya Allah audit ACT oleh kantor akuntan publik dengan predikat WTP (wajar tanpa pengecualian) sudah merupakan standar bahwa pengelola keuangan ACT itu baik, tidak ada penyelewengan, tidak ada penyalahgunaan itu," kata Ahyudin ditemui usai pemeriksaan di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (13/7) malam.

Ahyudin untuk keempat kalinya menjalani pemeriksaan di Bareskrim Polri, sejak Jumat (8/7) lalu. Kata Ahyudin, pemeriksaan kali ini terkait dengan laporan keuangan ACT.

Ia pun mengatakan bahwa laporan keuangan ACT sejak tahun 2005 sampai tahun 2020 semuanya sudah diaudit dan mendapatkan predikat WTP.

"Insya Allah ACT lembaga pionir dalam hal laporan keuangan diaudit oleh akuntan publik dengan predikat WTP," ujarnya.

Baca Juga:

Bareskrim kembali Periksa Petinggi ACT, Ahyudin Siap Jadi Tersangka

Ahyudin mengklaim jika ada permasalahan di keuangan ACT tidak mungkin akuntan publik mau mengaudit dan mengeluarkan predikat WTP.

"Sejak tahun 2005 sampai 2020, artinya kalau diaudit kemudian predikatnya juga WTP, mana mungkin kantor akuntan audit mau mengeluarkan hasil audit dengan predikat WTP kalau ada penyimpangan," kata Ahyudin.

Selain Ahyudin, penyidik juga memeriksa Presiden ACT Ibnu Khajar. Keduanya keluar dari ruang pemeriksaan dalam rentang waktu berdekatan.

Ahyudin keluar dari ruang pemeriksaan 23.16 WIB, sedangkan Ibnu Khajar yang didampingi pengacaranya keluar pukul 23.23 WIB.

Berbeda dengan Ahyudin, Ibnu Khajar masih kekeh menghindari wartawan dengan alasan lelah menjalani pemeriksaan.

"Saya lelah ya, (pemeriksaan) maraton 4 hari," katanya.

Sementara itu, pengacara Ibnu Khajar, Widad Thalib, juga bersikap sama, dan menjanjikan ada waktu untuk bicara kepada publik nantinya.

"Ya nanti ya, ada saatnya kami dari kuasa hukum pasti akan kasih keterangan tapi mohon izin tidak hari ini," kata Widad.

Tim pengacara Ibnu Khajar keluar sembari membawa koper ukuran 24 inci warna abu-abu. Menurut dia, isi koper adalah dokumen. (*)

Baca Juga:

Mantan Bos hingga Petinggi ACT Kembali Diperiksa Bareskrim

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Pentingnya Vaksin Booster untuk Cegah Dampak Buruk Varian Baru COVID-19
Indonesia
Pentingnya Vaksin Booster untuk Cegah Dampak Buruk Varian Baru COVID-19

Vaksin booster atau dosis ketiga dianggap penting untuk mencegah dampak buruk dari maraknya varian baru COVID-19 Omicron.

Lelang Pembangunan Sirkuit Formula E Gagal, PSI: Kalau Tidak Mampu Bilang
Indonesia
Lelang Pembangunan Sirkuit Formula E Gagal, PSI: Kalau Tidak Mampu Bilang

"Kami dari PSI, menunggu penjelasan. Kami berharap Pemerintah DKI Jakarta terbuka, kalau tidak mampu bilang, jangan dipaksa, nanti sirkuitnya jeblos. Tambah molor, tambah panik, pasti berantakan," tutup Michael.

PPP bakal Gelar Mukernas Akhir Tahun 2022, Tentukan Capres-Cawapres
Indonesia
PPP bakal Gelar Mukernas Akhir Tahun 2022, Tentukan Capres-Cawapres

Dalam mukernas, partai berlambang ka’bah ini bakal memunculkan nama capres dan cawapres yang akan diusung untuk Pilpres 2024.

M Kece Divonis 10 Tahun Penjara
Indonesia
M Kece Divonis 10 Tahun Penjara

Dalam sidang tersebut, terdakwa M Kece divonis 10 tahun penjara dipotong masa tahanan sesuai dengan tuntutan jaksa penuntut umum.

[HOAKS atau FAKTA] : Data Pendonor  Plasma Konvalesen Disebar Bebas Untuk Publik
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA] : Data Pendonor Plasma Konvalesen Disebar Bebas Untuk Publik

informasi serupa pernah beredar pada bulan Juni 2021 dan dibantah oleh ketua PMI DKI Jakarta dan mengimbau masyarakat agar mencari informasi dari situs layanan resmi.

Erick Thohir Ajak Nesta dan Terry Makan Lemper dan Risol
Indonesia
Erick Thohir Ajak Nesta dan Terry Makan Lemper dan Risol

"Menjawab rasa penasaran kalian yang dari tadi DM saya:'Pak, sarapan apa sama Nesta dan Terry? Jawabannya: sarapan risol dan lemper," tulis Erick.

KPK Buka Suara soal Isu Gelar Perkara Formula E
Indonesia
KPK Buka Suara soal Isu Gelar Perkara Formula E

"Belum ada rencana ekspose," kata Marwata saat dikonfirmasi awak media Kamis (22/9).

DPD Ingatkan Potensi Dukungan Terhadap IKN Nusantara Menurun
Indonesia
DPD Ingatkan Potensi Dukungan Terhadap IKN Nusantara Menurun

Dia menyebut dukungan itu berpotensi menurun.

IndoVac Jadi Jalan Indonesia Berdikari Urusan Vaksin COVID-19
Indonesia
IndoVac Jadi Jalan Indonesia Berdikari Urusan Vaksin COVID-19

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan vaksin COVID-19 buatan Bio Farma dengan nama IndoVac.

Sepak Bola Ajang Pemersatu Bangsa Harus Merenggut Banyak Korban Jiwa
Indonesia
Sepak Bola Ajang Pemersatu Bangsa Harus Merenggut Banyak Korban Jiwa

Tragedi seperti ini tentunya akan merugikan banyak pihak. Peristiwa ini bisa menjadi cambuk dan pembelajaran bagi semua pihak agar bisa berbenah.