Dinilai Langgar Kode Etik Advokat, BW Diadukan ke Peradi Tim Kuasa Hukum BPN Bambang Widjojanto (Foto: MerahPutih/Rizki Fitrianto)

MerahPutih.com - Ketua Tim Hukum pasangan capres dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Bambang Widjojanto diadukan ke Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (DPN Peradi) pimpinan Fauzie Yusuf Hasibuan.

Pengaduan ini dilakukan lantaran pria yang karib disapa BW itu masih menjabat sebagai Ketua Bidang Pencegahan Korupsi di Tim Gubernur DKI untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) saat menerima kuasa sebagai kuasa hukum Prabowo-Sandi.

Tiga advokat bernama Sandi Situngkir, Robinson Manullang dan Kabet Neko Sinambela didampingi oleh Tim Advokat Indonesia Maju menyerahkan laporan pengaduan ini kepada Ketua Umum DPN Peradi Fauzie Yusuf Hasibuan di Kantor DPN Peradi, Kamis (13/6).

BACA JUGA: Tim Hukum BPN Temukan Kejanggalan Laporan Dana Sumbangan Kampanye Jokowi-Ma'ruf

Sandi menilai BW telah melanggar kode etik profesi advokat sesuai Kode Etik Profesi Advokat dan UU nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat. Pasal 3 Huruf I Kode Etik Profesi Advokat Indonesia disebutkan 'Seorang Advokat yang kemudian diangkat untuk menduduki suatu jabatan Negara (eksekutif, yudikatif, legislatif) tidak dibenarkan untuk berpraktek sebagai Advokat dan tidak dibenarkan namanya dicantumkan atau dipergunakan oleh siapapun atau oleh kantor manapun dalam suatu perkara yang sedang diproses atau berjalan selama ia menduduki jabatan tersebut'.

Sementara Pasal 20 Ayat (3) UU Advokat menyatakan 'Advokat yang menjadi pejabat negara, tidak melaksanakan tugas profesi Advokat selama memangku jabatan tersebut'.

Mantan komisioner KPK Bambang Widjojanto
Ketua Tim Hukum Prabowo-Sandi, Bambang Widjojanto berbicara kepada awak media sesuai menyerahkan gugatan sengketa Pilpres 2019 kepada MK (Foto: antaranews)

Sandi mengatakan BW menerima kuasa dari pasangan Prabowo-Sandi pada 22 Mei 2019, sementara Gubernur DKI, Anies Baswedan menyebut BW telah cuti sebagai TGUPP terhitung 24 Mei 2019.

"Pada 22 Mei, rekan BW menandatangani atau menerima kuasa dari Prabowo-Sandi. Saat yang bersamaan, BW masih menjabat Ketua Bidang Pencegahan Korupsi TGUPP," kata Sandi di Kantor DPN Peradi, Jakarta, Kamis (13/6).

Selama ini, kata Sandi, BW mempersepsikan diri sebagai advokat yang membangun pembangunan kejujuran, keadilan, dan keberpihakan pada kaum miskin. Namun, dengan menjabat sebagai TGUPP, BW mendapat gaji sekitar Rp 41 juta dari Pemprov DKI.

"Kemudian meninggalkan begitu saja pekerjaan itu," imbuhnya.

Selain itu, BW dinilai tidak menjaga marwah profesi advokat sebagai profesi terhormat lantaran diduga mengerdilkan pengadilan. Hal ini merujuk pada pernyataan BW dalam konferensi pers usai mengajukan gugatan di MK pada 24 Mei lalu.

Saat itu, BW menyampaikan harapan agar MK menempatkan dirinya menjadi bagian penting dimana kejujuran dan keadilan harus menjadi watak dari kekuasaan dan bukan justru bagian dari satu sikap rezim korup.

Sandi menilai dengan pernyataannya itu, BW diduga telah melanggar Pasal 6 huruf c UU Advokat yang menyatakan 'Advokat dapat dikenai tindakan dengan alasan bersikap, bertingkah laku, bertutur kata atau mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan sikap tidak hormat terhadap hukum, peraturan perundang-undangan atau pengadilan.

"Untuk itu kami meminta DPN Peradi memeriksa dugaan pelanggaran etik BW," ujar dia.

BACA JUGA: Kapolri Bilang Mayoritas Polisi di KPK Profesional, Emang Ada yang tidak?

DPN Peradi menerima laporan pengaduan yang disampaikan Sandi. Fauzi berjanji akan memproses aduan ini secepatnya. Apalagi, BW tercatat sebagai anggota DPN Peradi pimpinan Fauzie.

"Mudah-mudahan tidak ada halangan, dan kami harus bisa memandang bahwa sebagai ketua umum saya harus berlaku independen terhadap apa yang dilaporkan," ujarnya. (Pon)

Kredit : ponco

Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH