Din Syamsudin Soroti Makna Jihad dan Hawa Nafsu di Hari Raya Idul Fitri Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin. (MP/Fadhli)

MerahPutih.com - Muhammad Sirajuddin Syamsuddin (Din Syamsudin) menjadi khatib dalam Salat Ied 1440 Hijriah di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, Rabu (5/6). Dalam khutbahnya, ia menyinggung soal fitrah kemanusiaan.

Din mengatakan, bahwa manusia terlahir ke muka bumi dengan fitrah kemanusiaan yang suci yaitu tidak membawa dosa warisan dari siapa pun, baik kedua orang tua yang melahirkannya, maupun Adam dan Hawa moyang umat manusia.

Sebaliknya, fitrah kemanusiaan mewarisi kesucian, karena ruh yang dihembuskan ke dalam jasad beberapa bulan sebelum kelahiran terikat perjanjian suci dengan Sang Pencipta.

"Hal ini diabadikan dalam Al-Qur’an berupa dialog arwah dan Sang Pencipta: Alastu birobbikum (bukankah
aku Tuhanmu?), dan dijawab Bala syahidna (ya, kami bersaksi bahwa sesungguhnya Engkau adalah Tuhan kami)," kata Din.

Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin. (MP/Fadhli)
Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin. (MP/Fadhli)

Lanjut Din, fitrah kemanusiaan juga mewarisi kekuatan, karena ruh yang dihembuskan ke dalam jasad berasal dari Dzat Yang Maha Sempurna dengan segala nama-nama kebaikan (al- asma’ al- husna). menurutnya, inilah yang membawa manusia memiliki potensi-potensi insani yang parallel dengan sifat-sifat ketuhanan itu.

"Fitrah kemanusiaan dengan demikian berdimensi ganda, kesucian dan kekuatan. Jika keduanya dikembangkan secara simultan maka akan melahirkan insan fitri, yaitu manusia dengan kepribadian suci dan kuat. Inilah kepribadian orang-orang yang bertakwa yang merupakan tujuan ibadah-ibadah Ramadhan," ujar Din.

"Jika kita mampu memiliki kesucian dan kekuatan diri maka kita akan memperoleh kemenangan. Itulah yang kita rayakan pada hari ini yaitu kemenangan kaum beriman mengendalikan hawa nafsu selama sebulan penuh sehingga terlahir kembali sebagai insan paripurna, penuh kesucian dan kekuatan diri," sambungnya.

Menurut Din, kemenangan yang diraih kaum beriman yang telah berhasil menempuh pelatihan Ramadhan adalah kemenangan dari jihad besar atau al- jihad al-akbar.

"Jihad ini lebih tinggi nilainya dari pada berjuang di jalan Allah dengan berperang yang hanya merupakan jihad kecil atau al-jihad al-ashghar," ungkap mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.

"Mengendalikan hawa nafsu disebut sebagai jihad besar adalah karena pengendalian hawa nafsu adalah perbuatan yang sangat berat dan susah dilakukan manusia. Hawa nafsu cenderung mendorong manusia kepada keburukan (al-nafs al-ammarah bi al-su’)," ucap dia.

Sebagai akibatnya, Din menyebut, manusia yang cenderung mengikuti hawa nafsu akan terjebak ke dalam kekejian, kemungkaran, dan kezaliman, dan kemudian terjatuh ke titik nadir kemanusiaannya.

"Hati yang seharusnya bersifat nurani atau hati nurani berubah menjadi hati zulmani yaitu hati yang gelap dan menggelapkan," papar mantan Ketua PP Muhammadiyah itu.

Karenanya, Din mengungkapkan, di Idul Fitri 1440 H ini, menjadi momentum bagi umat Muslim untuk kembali ke fitra kemanusiaan sejati yaitu kepribadian yang suci dan kuat. "Kepribadian inilah yang terlahir dari mereka yang telah menempuh pelatihan Ramadhan sebulan penuh dengan penuh keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT," pungkasnya. (Knu)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH