Din Syamsuddin Sebut Persatuan Umat Islam Sedunia Wujud Khilafah Modern Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin (Foto Antara/Novrian Arbi)

MerahPutih - Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan konsep khilafah yang bersifat mondial dapat diwujudkan dalam bentuk persatuan dan kebersamaan umat Islam sedunia dalam kemajemukan mencerminkan kesatuan visi kehidupan global berdasarkan nilai-nilai Islam.

"Bahwa khilafah dipahami sebagai kekuasaan politik atau lembaga politik-pemerintahan tidak menjadi kesepakatan ulama, hanya beberapa ulama yang berpendapat demikian," kata Din Syamsuddin lewat keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Jumat (14/7).

Dia mengatakan konsep khilafah dalam Islam dapat diterapkan dalam bentuk adanya lembaga mondial yang mempersatukan seluruh umat Islam, seperti Vatikan mempersatukan umat Katolik sedunia.

Menurut dia, umat Katolik di negara manapun sangat tunduk dan patuh kepada Vatikan tanpa mengabaikan sistem nasional masing-masing bangsa.

"Saya mengusulkan kepada umat Islam termasuk Hizbut Tahrir untuk mentransformasi 'khilafah 'alamiyah' mereka ke dalam bentuk seperti Vatikan," kata dia.

Menurut Din, interaksi aktif Vatikan beberapa tahun terakhir ini menjadikannya lembaga yang sangat berpengaruh, baik dalam urusan keagamaan maupun nonkeagamaan, termasuk ekonomi, politik dan budaya.

"Memang Vatikan memisahkan antara agama dan politik, tapi Vatikan 'berfungsi dan diperlakukan sebagai negara'. Buktinya, ada Kedutaan Besar Tahta Suci di banyak negara termasuk Indonesia dan ada Kedutaan Besar banyak negara termasuk Indonesia di Vatikan," kata dia.

Bagi umat Islam yang ingin membentuk khilafah mondial, kata dia, dapat meniru Vatikan dengan mentransformasi konsep khilafah ke dalam suatu lembaga mondial tanpa menegasi sistem nasional masing-masing negara walau tdidak semua Muslim mau bergabung.

Dia mengatakan hal itu menjadi solusi terhadap masalah hubungan khilafah dan negara Pancasila. Khilafah tidak diabaikan tapi Negara Pancasila tetap ditegakkan. Dari dulu, bagi umat Islam, integrasi wawasan keagamaan dan wawasan keindonesiaan sudah melekat.

"Saya pribadi melihat bahwa hal itu tidak mudah karena watak umat Islam, khususnya Sunni, kurang bersifat paternalistik dan sentralistik serta otonomi/egoisme masing-masing-masing bangsa bahkan organisasi sangat kuat," kata Din Syamsuddin.

Namun, kata Din, semangat Kekatolikan atau budaya Vatikan yang mampu merajut kesatuan, persatuan dan kebersamaan bagus ditiru. Mungkin, kekhalifah Islamiyah baru memerlukan pemersatu, penengah dan kekuatan mediasi.(*)

Sumber: ANTARA



Eddy Flo

YOU MAY ALSO LIKE