Dimensi Lirikal “Spirit [e]Motion” Haryanto Gunawan Suasana pembukaan pameran tunggal Haryanto Gunawan "Spirit [e]Motion". (Foto: Anton Gunawan)

PELUKIS Haryanto Gunawan mengusung spirit dan konsep estetik baru pada pameran tunggal bertajuk “Spirit [e]Motion”, di Museum Ciputra Artpreneur, (15-19/7).

Meski masih bertalian dengan pamerannya dua tahun silam, ke-23 karyanya kali ini berhasil tampil berbeda dan segar. “Gunawan telah melakukan lompatan kreatif besar. Jauh meninggalkan dirinya dua tahun lalu,” ungkap Eddy Soetriyono, pengamat seni rupan dan desain.

Di pameran sebelumnya, sambung Eddy, Gunawan hanya memandang kanvas sebagai bidang segiempat terbatas dengan komposisi terkungkung. “Lukisannya bergerak, tapi tak beranjak,” ungkapnya.

Tentu sang pelukis tak ingin menjadi usang. Gunawan mengisi spirit baru pada tiap sapuan dan kedalaman. Karya-karyanya kali ini, lanjut Eddy, telah terbebas dari belenggu hukum-hukum senirupa modern, point of viewnya tak lagi tunggal dan diam, centre of interestnya mengalir sambil selalu bermetamorfosa.

Haryanto Gunawan
Suasana pameran Haryanto Gunawan. (Foto: Anton Gunawan)

Pada karya bertajuk Sway Grass, Gunawan, seturut Eddy, melukis padang rumput luas sehingga menembus batas atas kanvas, di bawah rumput lebat tak kenal tamat, dan di kanan-kiri rumput kehijauan ilalang seolah tanpa batas. “Senantiasa menjelmakan rupa baru, terus-menerus mengubah wajah tanpa kesudahan”.

Dua pameran Gunawan, meski berbeda konsep dan spirit, menurut kurator pameran, Aminudin TH Siregar, secara keseluruhan masih memperlihatkan konsistensi serupa, baik dimensi lirikal maupun kualitas artistik dari pengalamannya.

Tak berhenti di situ, konsistensi Gunawan, lanjut TH Siregar, juga tetap memperlihatkan tegangan kuat antarbentuk keteraturan dan ketidakteraturan, harmoni dan disharmoni, serta integrasi dan disintegrasi.

“Beberapa di antaranya dilukis dengan ‘metode’ keluar dari doktrin formalisdan abstrak minimalis ketat,” ungkat TH Siregar.

Haryanto Gunawan
Haryanto Gunawan berpose bersama sang ibunda. (Foto: Anton Gunawan)

Dari sejumlah karya abstrak lirisnya, lanjut TH Siregar, justru bukan dihasilkan melalusi deformasi obyek-obyek, melainkan melalui suatu mekanisme internal dalam menuangkan kesan sang pelukis ketika mempersepsikan realitasnya dan pandangan tentang realitasnya.

Pameran tunggalnya ini menjadi istimewa karena Gunawan mempersembahkannya sebagai kado ulang tahun ibundanya. Hal itu diaplikasikannya pada lukisan berjudul Your Mother.

Gunawan, sambung TH Siregar, mengandalkan garis-garis pendek nyaris berkesinambungan secara dinamis, menggunakan warna-warna muda untuk membangun kesan lembut, tetapi tetap tegas dan elegan. “Lukisan itu akan menjadi pusat perhatian sendiri dan menonjol di antara lainnya,” ungkap TH Siregar. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH