Dikuasai Kelompok Hamas, Jalur Gaza Kini Terancam Lumpuh Kerabat remaja Palestina yang tuli Tahreer Wahba, 17, yang tewas akibat luka yang didapatkannya saat aksi protes di perbatasan Israel-Gaza, berduka pada upacara pemakaman di Khan Younis, selatan Jalur

MerahPutih.Com - Blokade bantuan kemanusiaan terhadap warga Palestina yang berada di Jalur Gaza membuat kondisi masyarakat di wilayah tersebut khususnya di bidang kesehatan begitu memprihatinkan.

Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza menyatakan bahwa kekurangan obat dan pasokan medis menyebabkan Gaza di ambang kehancuran. Wilayah Gaza yang kini berada di bawah kekuasaan kelompok Hamas terancam lumpuh total.

Yousef Abu Ar-Reesh, Wakil Menteri Kesehatan di Jalur Gaza, mengatakan dalam satu pernyataan di Rumah Sakit Shiffa, Kota Gaza bahwa lembaganya "melewai satu tahap yang paling buruk akibat krisis yang bertambah parah di sektor kesehatan".

Demo di Jalur Gaza
Pengunjuk rasa Palestina berlari melindungi diri dari gas air mata yang ditembakkan oleh pasukan Israel saat bentrok dalam protes menuntut hak untuk kembali ke tanah air mereka, di perbatasan Israel-Gaza (ANTARA FOTO/REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)

Abu Ar-Reesh menyatakan persentase defisit obat-obatan mencapai 50 persen, sebagaimana dilansir Antara dari Xinhua, Jumat (4/5). Ia menambahkan ada kekurangan 27 persen obat yang bisa dikonsumsi, dan 58 persen bahan laboratorium serta bank darah.

Situasi bertambah parah oleh terus menipisnya obat darurat akibat bentrokan Palestina-Israel selama beberapa pekan belakangan di sepanjang perbatasan Israel dan Jalur Gaza.

Abu Ar-Reesh mengatakan kekurangan pasokan mempengaruhi semua kategori pasien di daerah kantung Palestina itu.

Ia menyeru donor dunia agar mendukung Kementerian Kesehatan dan mencegah ambruknya sektor kesehatan.

Dikejar tentara Israel
Seorang pengunjuk rasa Palestina dengan wajah dilukis seperti karakter dalam film "Avatar" membawa ban terbakar saat protes menuntut hak kembali ke tanah air mereka, di perbatasan Israel-Gaza (ANTARA FOTO/REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)

Abu Ar-Reesh juga menyeru organisasi hak asasi manusia Palestina dan internasional agar memikul tanggung-jawab mereka dengan menunjukkan pelanggaran nyat Israel atas hak asasi pasien untuk membatasi akses mereka ke perawatan medis.

Tempat penyeberangan Jalur Gaza dengan Israel selalu diawasi secara ketat akibat bentrokan di dekat pagar perbatasan, yang telah ditutup sejak 30 Januari.

Kementerian Kesehatan mengatakan 44 orang Palestina, kebanyakan dari mereka menderita luka tembak, telah tewas dan lebih dari 6.000 orang lagi cedera dalam bentrokan dalam bentrokan sejak 30 Maret.

Pemrotes Palestina dijadwalkan mencapai puncaknya pada 15 Mei, sehari setelah peringatan ke-70 berdirinya Israel, yang diperingati oleh rakyat Palestina sebagai Hari Nakba, atau Hari Bencana.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Konflik Mahmoud Abbas dan Kelompok Hamas Ancam Persatuan Palestina



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH