Dikotomi Jamaah Islamiyah dan Jamaah Ansharut Daulah Napi kasus terorisme keluar dari rutan Brimob saat menyerahkan diri di Rutan cabang Salemba, Mako Brimob, Kelapa Dua, Jakarta, Kamis (10/5). ANTARA FOTO

MerahPutih.com - Ada perbedaan besar antara aksi terorisme dahulu dan sekarang. Dahulu, aksi-aksi terorisme dilakukan dengan perhitungan yang sangat matang dengan bom yang memiliki daya ledak yang sangat besar, sebagai contoh Bom Bali, Kedutaan Besar Australia, Hotel JW Marriot dan lainnya.

Namun saat ini, pola-pola aksi terorisme berbeda. Beberapa kejadian seperti serangan bom panci yang gagal di Bandung, serangan di Thamrin, atau di Kampung Melayu serta penusukan polisi-polisi secara individu menunjukkan bahwa para pelaku terkesan tidak memiliki perhitungan yang matang.

Mengapa bisa berbeda? Hal ini bisa dijelaskan berdasarkan fakta bahwa pelaku-pelakunya memang berasal dari organisasi atau ideologi yang berbeda. Dulu, para teroris merupakan bagian dari jaringan Jamaah Islamiyah (JI). Sekarang, para teroris merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Menurut Peneliti Terorisme dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, JI memiliki jaringan yang sama dengan Al-Qaeda, sedangkan JAD merupakan anak cabang Islamic State in Irak and Syria (ISIS).

“Kedua organisasi ini memiliki pebedaan yang sangat mendasar dalam tujuan maupun cara mewujudkan tujuan tersebut,” kata Fahmi kepada MerahPutih.com, Kamis (18/5).

Fahmi menjelaskan, Al-Qaeda memiliki tujuan untuk menghancurkan dominasi Amerika yang menurut mereka sedang menjajah negeri-negeri muslim. Sehingga sasaran mereka lebih ditujukan kepada representasi dari Amerika dan sekutunya itu sendiri

Jama’ah Ansharut Daulah (JAD). Foto: Arrahmah



“Pada masa Jamaah Islamiyah mereka lebih cenderung untuk menarget apa yang mereka sebut musuh jauh. Misalnya sasaran orang-orang barat, tempat hiburan, tempat berkumpul orang-orang barat,” jelasnya.

Dalam menentukan target, ujar Fahmi, JI lebih spesifik ketimbang JAD. Selain itu, JI juga menggunakan bom yang berdaya ledak tinggi. Hal ini dapat dilihat dari kasus bom Bali, Kedubes Aussie dan Hotel JW Marriot.

“Selain itu, karakteristik Jamaah Islamiyah organisasinya lebih militeristik. Karena background mereka sebagian besar alumni Mujahidin Afghanistan yang berafiliasi ke Al-Qaeda,” ungkapnya.

Sedangkan ISIS, memiliki tujuan untuk mendirikan daulah (negara). Mereka percaya bahwa satu-satunya daulah yang sah di mata Allah adalah daulah mereka. Oleh karena itu, siapapun yang menolak sumpah setia kepada khalifahnya, dicap kafir dan sah untuk dibunuh.

“Kalau JAD ini mereka terafiliasi dengan ISIS. Menetapkan targetnya itu apa yang disebut sebagai musuh dekat. Misalnya polisi, perangkat pemerintahan toghut, rumah-rumah ibadah yang berada di daerah itu. Artinya mereka betul-betul harus melakukan aksinya itu di kawasan mereka sendiri,” tuturnya.

Karena menganggap sebagai satu-satunya negara yang sah, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pun dianggap sebagai penyimpangan dan harus dilenyapkan. Untuk itu, maka aparat keamanan harus dihabisi terlebih dahulu sebelum menggabungkan NKRI dalam wilayah ISIS.

“Makanya mereka cenderung sporadis, terkesan acak targetnya, pokoknya kantor polisi, pokoknya anggota polisi atau pokoknya rumah ibadah. Jadi acak, tidak panggung besar. Bagi mereka kalau teror itu memiliki pesan ya pesannya mereka adalah aksi itu sendiri,” ungkap Fahmi.

Pimpinan Jamaah Ansharut Daulah, Aman Abdurahman. Foto: Getty Images

Sedangkan untuk perkara bom, menurut Fahmi, para anggota JI memiliki pengetahuan yang lebih memadai ketimbang JAD tentang bagaimana cara merakit atau membuat bom secara lebih canggih dan lebih berbahaya. Mereka mempelajari itu semua dari camp-camp yang pernah mereka datangi di Afghanistan.

Hal itu justru memberikan pengalaman berharga yang membuat anggota JI menjadi kombatan yang tangguh dan tidak takut mati. Pengalaman berharga juga didapat dari pelatihan-pelatihan bom yang mereka jalani selama berada di sana.

Ketika pulang ke tanah air dan membentuk JI, berbekal ilmu dan pengalaman dari Afghanistan mereka mampu menyerang sasaran dengan bom canggih yang memakan banyak korban jiwa. Sesuatu hal yang belum dimiliki oleh JAD. Pasalnya, menurut Fahmi, sebagian besar anggota JAD minim pelatihan. Mereka melakukan aksi lebih banyak berdasarkan dari media sosial.

“Soal daya ledak JAD memang kecil, karena lebih mementingkan aksinya, yang penting bisa mengancam, bisa menakutkan, bisa menghadirkan efek ketakutan, efek publikasi yang massif. Untuk eksistensi kan mereka perlu. Jadi mau pakai senjata tajam, senjata api, atau bahan peledak itu bisa mereka lakukan jadi ngak harus dengan bom, nggak harus dengan target yang jelas,” kata dia.

gereja
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudy Setiawan (kanan) menghimbau warga untuk menjauh dari sekitar lokasi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5). ANTARA FOTO/Moch Asim

Menurut Fahmi, teror yang terjadi di Mako Brimob dan sejumlah tempat di Surabaya telah menujukkan kepada kita level yang lebih sadis dan berbahaya yang bahkan berada di luar nalar para teroris lama. Ketika satu keluarga dilibatkan dalam aksi bom bunuh diri. Hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh anggota JI.

Pada masa JI, lanjutnya, perempuan lebih sebagai unsur yang mendorong atau mendukung laki-laki, suaminya, anaknya untuk terlibat atau berpartisipasi dalam aksi-aksi yang mereka sebut sebagai jihad. Namun, pada masa ISIS mereka bergeser lebih aktif sebagai pelaku.

“Di Surabaya justru perempuan menjadi tokoh sentral dari aksi aksi itu. Karena perempuan menjadi yang utama dalam keluarga. Perempuan meyakinkn suami melakukan aksi termasuk juga dengan melibatkan keluarga, memastikan keluarga bisa diikutsertakan. Kemudian mereka juga mampu memanipulasi anak-anak mereka ini untuk terlibat. Itu kan peran ibu yang sangat dominan,” pungkasnya. (Pon)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH