Dikenal hingga Mancanegara, Festival di Banyuwangi ini Wajib Didatangi Banyuwangi punya agenda festival setahun penuh. (foto: Instagram @landscapebanyuwangi)

SALAH satu alasan untuk berkunjung ke suatu destinasi wisata ialah adanya festival budaya yang seru. Untuk urusan festival, Banyuwangi memang jagonya. Dalam setahun, 'Bumi Blambangan' punya sekitar 77 festival yang seru buat didatangi. Hampir tiap bulan dalam setahun ada festival budaya di Banyuwangi.

Berikut tujuh festival di Banyuwangi yang telah mendunia.

1. Banyuwangi International BMX

banyuwangi international BMX
Banyuwangi International BMX diikuti pesepeda dari dalam dan luar negeri. (foto: Instagram @fikri_dew_sam)

Pertama kali digelar pada 2016, ajang ini menghadirkan para pembalap dari berbagai negara, seperti Malaysia, Jepang, Australia bahkan Amerika Serikat dengan ratusan peserta setiap tahun. Selain itu, lomba ini sudah jadi bagian agenda Union Cycliste International (UCI) dengan kategori C1.

Tahun ini, Banyuwangi International BMX digelar di Sirkuit Muncar. Sirkuit tersebut memang dibangun sesuai standar yang ditetapkan UCI dan merupakan sirkuit terbaik di Indonesia.

Ajang ini menjadi salah satu cara Pemkab Banyuwangi untuk menjaring lebih banyak wisatawan lewat sport tourism. Selain menjadi ajang balap para pesepeda, ajang ini juga menjadi daya tarik wisata yang mampu menyedot perhatian masyarakat lokal, luar daerah hingga luar negeri.

2. Tour de Banyuwangi Ijen

tour de banyuwangi-ijen
Tour de Banyuwangi-Ijen menjadi ajang olahraga dengan suguhan pemandangan alam terindah. (foto: Instagram @tour_de_banyuwangi_ijen)

Ajang olahraga lain yang jadi strategi Banyuwangi menjaring wisatawan ialah International Tour de Banyuwangi-Ijen. Kejuaraan balap sepeda resmi dari Persatuan Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste International) ini diselenggarakan setiap tahun.

Pertama kali digelar pada 2012, ajang ini merupakan balapan sepeda di jalan raya dengan jarak jauh. Konsepnya ialah sport tourism.

Ratusan pembalap dari dalam dan luar negeri mengikuti ajang berjarak tempuh ratusan kilometer menyusuri wilayah Banyuwangi dengan lansekap sungai, pantai, hutan, dan perkebunan. Itulah mengapa acara ini menjadi salah satu event olahraga dengan suguhan pemandangan alam terindah.

3. Kebo-Keboan Suku Osing

kebo-keboan
Tradisi Kebo-Keboan suku Osing jadi daya tarik wisata. (foto: Instagram @ujungtimurjawa)

Suku Osing yang merupakan orang asli Bumi Blambangan punya tradisi unik setiap bulan Muharram atau Suro. Tradisi Kebo-Keboan awalnya diadakan untuk memohon hujan saat kemarau panjang. Selain itu, tradisi ini ditujukan untuk penolak bala. Keunikan tradisi ini mengundang banyak wisatawan datang untuk menyaksikan.


Dalam tradisi ini, seorang warga dipilih untuk dijadikan kerbau (kebo). Yang terpilih akan didandanin dengan tanduk dan diwarnai hitam di sekujur tubuh. Mereka nantinya akan bertingkah layaknya seekor kerbau. Binatang ternak tersebut menjadi perlambang kekuatan dan tumpuan masyarakat Osing yang bermata pencaharian sebagai petani.

Kebo-keboan dilaksanakan hampir di semua desa suku Osing di Kecamatan Singojuruh, seperti Desa Alasmalang dan Aliyan. Di Desa Aliyan, penentuan siapa yang menjadi manusia Kerbau tidak ditentukan pemuka adat desa setempat, tapi oleh arwah leluhur. Sementara itu, di Desa Alasmalang, masyarakat desa yang menjadi pemeran manusia kerbau dipilih oleh pemuka adat Desa Alasmalang.


4. Festival Ngopi Sepuluh Ewu

festival ngopi sepuluh ewu
Festival Ngopi Sepuluh Ewu hadirkan pengalaman ngopi unik. (foto: RRI.id)

Desa Kemiren telah dikenal sebagai desa wisata yang menampilkan perkampungan asli suku Osing. Sejak 2014, daya tarik Desa Kemiren bertambah dengan adanya Festival Ngopi Sepulu Ewu.

Ajang ini digelar di sepanjang jalan utama Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah. Sesuai dengan nama festival ini, 10 ribu gelas kopi disajikan untuk para pengunjung. Uniknya, di festival ini pengunjung bebas bercengkrama dengan warga asli sekitar di pelataran rumah warga. Ya, pelataran rumah warga itu memang ditata dan disediakan untuk menyambut pengunjung.

Minum kopi saat festival ini terasa amat istimewa karena sentuhan keakraban warga lokal, juga sajian teman minum kopi yang amat khas.


5. Festival Gandrung Sewu

festival gandrung sewu
Festival Tari Gandrung yang jadi ikon Banyuwangi. (foto: Instagram @banyuwangi_kab)

Tari Gandrung menjadi ikon kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini sejak 2002. Tari tradisional Banyuwangi ini kemudian diangkat dalam sebuah festival yang menarik banyak wisatawan untuk datang. Bahkan, Festival Gandrung Sewu kini jadi ajang unggulan Bumi Blambangan.

Ribuan penari dari segala penjuru Banyuwangi menari Gandrung di pinggir pantai indah Banyuwangi. Tari Gandrung sendiri punya makna lekat dan mendalam bagi warga Banyuwangi. Dalam dialek lokal, gandrung berarti cinta yang mendalam. Bagi masyarakat Banyuwangi yang sebagian besar ialah petani, objek kasih sayang mereka ialah Dewi Sri. Itulah mengapa Gandrung merupakan ungkapan rasa syukurnya atas hasil panen yang diperoleh.

Tahun ini, festival seru ini akan digelar pada pertengahan Oktober mendatang.


6. Banyuwangi Ethno Carnival

banyuwangi ethno carnival
Banyuwangi Ethno Carnival, festival kostum budaya berkelas internasional. (foto: Instagram @denil_esn)

Jika Jember tersohor dengan Jember Fashion Carnaval, Banyuwangi juga punya festival serupa yang tak kalah seru. Namanya Banyuwangi Ethno Carnival. Ajang merupakan karnaval kostum budaya berkelas internasional dan masuk agenda rutin Banyuwangi Festival yang telah digelar sejak 2011.

Tiap tahun, tema berbeda diangkat ajang ini. Tema-tema tersebut mengeksplorasi kebudayaan lokal, baik dalam busana ataupun musik. Tahun ini, Banyuwangi Ethno Carnival akan digelar pada 10 November 2018.

7. Ijen Summer Jazz

ijen summer jazz
Ijen Summer Jazz menggabungkan musik dan alam. (foto: Instagram @ijensummerjazz)

Kawah Ijen dengan peson blue flame-nya makin menjadi incaran wisatawan dengan digelarnya Ijen Summer Jazz.

Acara ini merupakan kolaborasi antara musik dan alam yang menyuguhkan penampilan khas dan mendalam. Para pencinta musik akan diberikan pengalaman berbeda dengan ajang Ijen Summer Jazz. Acara ini tak kalah menarik dengan acara serupa yang sudah lebih dahulu digelar, yakni Jazz Gunung Bromo.

Tahun ini, Ijen Summer Jazz digelar di kaki Gunung Ijen pada 22 September mendatang.

Siap berfestival di 'Bumi Blambangan'?(dwi)

Kredit : dwi

Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH