Ketika Sukarno Menggoda Soedirman: Pilih Perempuan Gemuk atau Kurus? (16) Soedirman bersama istri dan anaknya.

PRESIDEN Republik Indonesia pertama Sukarno pernah menggoda Jenderal Soedirman. Sembari berbincang santai, sang proklamator lalu membumbui candaan tentang tipe perempuan kesukaan sang panglima besar.

Mas Dirman ki sing diremeni sing kepiye tha. Sing lemu apa sing kuru. Sing Ayu apa sing manis? (Mas Dirman ini yang disenangi seperti apa sih. Yang gemuk apa kurus. Yang cantik apa manis?),” goda Bung Karno.

Soedirman langsung tertawa, lalu menimpali. “Saya hanya menurut saja bagaimana ibu. Kalau ibu gemuk saya senang gemuk. Kalau ibu kurus saya senang kurus. Ya, bagaimana ibu saja”, ungkap Pak Dirman sebagaimana dituturkan istrinya, Siti Alfiah kepada Koen Brotosasmito pada Kisah Perang Kemerdekaan Pak Dirman Menuju Sobo.

Seloroh Sukarno pada Soedirman bukan tanpa sebab. Kabar burung bersua sang panglima besar sangat digemari para perempuan karena parabannya nang gagah, berpangkat, dan tegas. “Bibirnya selalu basah memerah. Orang akan menyangka Bapak Soedirman pakai lipstick,” ujar Bu Alfiah.

Ditambah lagi Pak Dirman dan Bu Alfiah sering berjauhan karena tugas menjalankan amanat sebagai pucuk pimpinan militer Indonesia di masa perang.

“Lalu apa Bu Dirma cemburu?,” tanya Brotosasmito.

“Tidak,” jawabnya singkat. “Bapak sudah dapat dipercaya, buat apa cemburu? Tidak ada satu perbuatan dapat dicela dari diri bapak. Dan terpenting, bapak terlalu mencintai ibu dan anak-anak. Itulah kuncinya!”.

Ungkapan kecintaan terhadap sang istri dan anak selalu dilakukan Soedirman kala sedang berjauhan melaksanakan tugas untuk paling tidak menyempatkan diri mengirim surat atau telepon sambungan Yogya-Purwokerto.

“Bapak sering interlokal dari Yogya, karena menghindari adanya godaan yang tidak sedikit,” ungkapnya.

Selentingan tentang godaan perempuan di masa revolusi terhadap Soedirman memang sangat deras. Tak heran bila Jenderal Gatot Subroto, salah seorang bawahan sang panglima besar, pernah mengujugi Bu Dirman untuk menepis isu tersebut.

“Bila terdengar selentingan bapaj punya ‘pacar’ atau banyak dikagumi gadis cantik,” imbuh Gatot Subroto, “Ibu tetap yakin dan percaya bahwa bapak hanya mencintai ibu dan anak-anak. Tidak lebih”.

Tanpa penegasan Jendral Gatot pun, Bu Alfiah tetap percaya dan tak goyah sedikit pun terhadap cinta kasih suaminya. Dia memegang teguh perkataan suaminya, “Pokoke mung kowe siji thok. Aku mbiyen sing milih wis dak ambak-ambakne, lha saiki wis merem bae. (Pokoknya cuma kamu seorang. Aku dahulu sudah memilih, sudah saya damba-dambakan, lha sekarang tinggal merem saja)”. (*)

Sahabat MP terkece, jangan broer-broer semua baca kisah lengkap Jenderal Soedirman lainnya berikut ini:

Usaha Jenderal Soedirman Memadamkan Pemberontakan PKI Madiun 1948 (15)

Belanda Melanggar Perjanjian Linggarjati, Soedirman Memerintahkan Para Pejuang Menggempur (14)

Ujian Pertama Soedirman Usai Lulus Pendidikan Militer: Memadamkan Pemberontakan (13)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH