Dibombardir Serangan Turki dan Rusia, Ribuan Orang Tinggalkan Ghouta Asap terlihat dari Ghouta Timur yang terkepung di Damaskus, Suriah (ANTARA FOTO/REUTERS/Bassam Khabieh)

MerahPutih.Com - Serangan militer gabungan Turki dan Rusia terhadap kantong pemberontak di Ghouta menyebabkan ribuan warga sipil terpaksa mengungsi.

Sampai Sabtu (17/3) ribuan warga sipil berbondong-bondong tinggalkan kota mereka untuk melarikan diri dari pertempuran. Pertempuran yang melibatkan pasukan gabungan militer Turki dan Rusia melawan kelompok pemberontak memicu eksodus besar-besaran dalam beberapa hari terakhir.

Serangan udara menggempur kantong pemberontak di Ghouta timur dekat ibu kota Damaskus. Menurut keterangan tim penyelamat dan pemantau perang, setidaknya sudah 10.000 orang yang mengungsi dan mengamankan diri lewat jalur tentara.

Di wilayah Afrin utara, orang-orang melarikan diri dari rumah mereka saat tentara Turki dan gerilyawan sekutu menyerang pusat kota, demikian laporan pasukan Kurdi Suriah dan kelompok pemantau. Pengungsian itu berlangsung di garis depan pertempuran.

Lebih dari 150.000 orang telah meninggalkan kota ini dalam beberapa hari terakhir, seorang pejabat senior Kurdi dan kelompok pemantau mengatakan.

Dua serangan itu, berasal dari dua kelompok yang selama ini terlibat dalam konflik Suriah. Pertama faksi yang didukung Rusia, sedangkan faksi lainnya dipimpin Turki. Fakta ini secara gamblang menunjukan bagaimana kelompok-kelompok yang bersengketa di Suriah dan sekutu asingnya berusaha membangun kembali kekuatan setelah kekalahan kelompok ISIS tahun lalu.

Sebagaimana dilansir Antara dari Reuters, konflik Suriah memasuki tahun ketujuh minggu ini. Konflik itu telah membunuh ratusan ribu, dan menyebabkan setidaknya 11 juta lebih mengungsi, termasuk hampir 6 juta yang telah melarikan diri ke luar negeri di salah satu dari krisis pengungsi terburuk di zaman modern.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan serangan udara berlanjut di lokasi gerilyawan di Ghouta timur menewaskan 30 orang yang berkumpul untuk berangkat ke wilayah pemerintah pada Sabtu.

Kelompok pemantau perang yang berbasis di Inggris itu mengatakan serangan yang terjadi di Kota Zamalka itu juga melukai puluhan lainnya. Tidak ada komentar segera dari Damaskus, yang mengatakan bahwa pihaknya hanya menargetkan militan bersenjata.

Observatorium mengatakan bahwa gelombang baru 10.000 orang telah meninggalkan kantong pemberontak menuju wilayah pemerintah di Ghouta, di mana pemerintah melancarkan serangan sengit sebulan yang lalu.

Militer Turki membantah pada Sabtu (17/3) bahwa pasukannya telah menyerang rumah sakit di Afrin, di mana mereka melakukan serangan sejak Januari untuk melawan milisi YPG Kurdi Suriah yang menguasai wilayah tersebut.

YPG dan Observatorium mengatakan serangan udara Turki pada rumah sakit utama kota Afrin telah membunuh 16 orang pada malam hari sebelumnya.

Sementara itu menurut laporan Xinhua, Dewan Keamanan (DK) PBB pada Jumat (16/3) kembali menyerukan dilaksanakannya resolusinya yang menuntut gencatan senjata segera di seluruh Suriah.

"Anggota Dewan Keamanan kembali menyampaikan seruan mereka bagi pelaksanaan penuh Resolusi 2254 dan 2401," kata Duta Besar Belanda untuk PBB karel van Oosterom, yang menjadi Presiden Dewan Keamanan.

Anggota Dewan Keamanan kembali menegaskan bahwa Resolusi 2401, yang menuntut gencatan senjata segera, diterapkan di seluruh Suriah, kata van Oosterom kepada wartawan setelah konsultasi tertutup DK mengenai situasi di Suriah.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH