Ngalap Berkah dari Resah Orang Tua Ketika Antre Daftar Sekolah Tukang makanan di sekolah ikut kecipratan rejeki. (Foto Infoperbankan)

KILAS balik ketika masih sekolah offline. Biasa dibangunkan sepagi mungkin untuk daftar masuk SMP, karena biasanya orangtua berpikir semakin pagi, antrean daftar sekolah semakin sepi dan urusan cepat selesai. Sejak pagi, lantai kamar pun telah dipenuhi dengan berkas-berkas dibutuhkan untuk pendaftaran. Belum lagi ocehan mama sedang menelpon temannya, "eh, lu ada materai lebih enggak? Duh, gini hari beli di mana ya?".

Meski sudah "telat" versi emak-emak, alias masih dua jam sebelum waktu pendaftaran, berangkatlah menuju sekolah jyang araknya hanya 5 menit dari rumah. Mungkin karena satu keluarga kami termasuk clumsy, ada masalah baru tentunya menjadi berkah bagi pihak lain.

Daftar sekolah membawa berkah bagi tukang fotokopi.  (Foto pixabay/stevepb)
Daftar sekolah membawa berkah bagi tukang fotokopi. (Foto pixabay/stevepb)

"Nen, ini berkasnya harus di-fotokopi ya? Lah kirain mami pakenya berkas asli!" Akhirnya, kami pun langsung bergegas menuju koperasi. Walau masih pagi, tukang fotokopi di sekolah pun sudah ramai antrean. Maklum, rasanya para orangtua murid di Kelapa Gading memang super sibuk dan pelupa sehingga ada saja berkas yang lupa diperbanyak kopiannya.

Baca juga:

Kiat Efektif untuk Para Guru dalam Memberikan Tugas Sekolah selama PSBB

Tukang fotokopi pun menjadi tempat terbaik para orangtua murid untuk saling berkenalan. "Eh, baru daftar SMP juga ya? Dari sekolah mana sebelumnya? Oh.. iya? Eh, ini harus fotokopi berapa kali sih? Harus pakai map putih ya? Aduh Nen, ntar beli map juga yah." Ya, antrean fotokopi berubah jadi ajang pertukaran informasi sekaligus perkenalan orangtua murid mencari teman baru.

Biasanya untuk membedakan kelas atau jenjang sekolah tertentu, sekolah memberikan ketentuan warna map untuk menyimpan dokumen-dokumen agar lebih mudah untuk didata. Pihak koperasi pun telah menyiapkan map dengan berbagai warna yang dibutuhkan agar semakin cuan, cuan, dan cuan.

Berim-rim kertas HVS yang telah disiapkan pun ludes digunakan untuk memfotokopi berkas-berkas yang dibutuhkan untuk pendaftaran sekolah selama satu minggu berturut-turut mulai dari jenjang SD, SMP, sampai SMA.

Tukang fotokopi penyelamat orang tua murid. (Foto bumn.go.id)
Tukang fotokopi penyelamat orang tua murid. (Foto bumn.go.id)

Belum lagi ada beberapa berkas yang ternyata harus disetujui menggunakan materai. Koperasi pun pastinya memperbanyak stok materai dan pulpen untuk memenuhi kebutuhan orangtua murid.

Satu jam berlalu, berkas pun selesai dikumpulkan. Mama menelpon Tante Sonya, temannya yang sudah janjian akan mendaftarkan anaknya di sekolah yang sama. Sayangnya, temannya tampaknya lebih santuy walau rumahnya jauh dan berkasnya juga belum lengkap. "Lu di mana sih? Ini udah pada rame ngantre loh..", ungkapnya di telepon. "Sabar, gue lagi cari parkir nih," balas Sonya.

Baca juga:

Mendongeng Bisa Jadi Media Belajar, ini Manfaatnya

Rupanya benar saja ramalan mama. Semakin mendekati waktu pendaftaran dimulai, parkiran semakin crowded dan antrean koperasi semakin panjang. Kami pun bergegas ke ruang kelas yang dijadikan tempat penyerahan berkas, mengambil nomor antrean, dan duduk di kursi telah disediakan sambil menunggu untuk dipanggil. Aku pun duduk manis di samping ibuku, sambil menerka-nerka mana teman baru satu angkatan 'bening-bening' agar semakin semangat untuk masuk sekolah lagi.

Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, pendaftaran pun resmi dibuka. Tante Sonya menghampiri sambil mengeluh. "Gilaaa, enggak ada parkir. Gue harus parkir di ruko sebrang dulu, Kris," sambil menyedot es kelapa yang dijual di depan sekolah.

Tukang parkir dapat banyak cuan. (Foto pixabay/fill)
Tukang parkir dapat banyak cuan. (Foto pixabay/fill)

Ya, lahan parkir sekolah memang tidak cukup luas untuk menampung banyaknya mobil para orangtua murid yang hendak mendaftarkan anaknya. Alhasil, parkiran ruko seberang pun mendapatkan cuan lebih banyak. Bahkan sampai ada sederet parkiran paralel di sebrang sekolah karena saking banyaknya mobil-mobil ingin parkir. Meski begitu, tukang parkir pun selalu siap mengangguk menandakan masih ada lahan parkir setiap ada mobil baru datang. "Ada bosss, sabar bentar ya!", sambil mendorong mobil lain untuk menyiapkan ruang parkir lagi untuk mobil baru. Cuan besar pun siap dikantongi tukang parkir ruko seberang sekolah.

Setelah urusan selesai, kami merasa super lapar dan haus. Penampakan gerobak biru milik tukang siomay Goras pun tampak lebih bersinar daripada biasanya. Maklum, siomay Goras telah menemani hari-hariku saat menempuh Sekolah Dasar di sekolah tersebut. Kami memesan siomay yang langsung dikonsumsi dari plastik beningnya. Walau higienitasnya tidak terjamin, terpenting lidah dan perut tersenyum. Tidak hanya kami, Goras beserta Mamat penjual es kelapa pun ikutan tersenyum.

Siomay Goras andalan sekolah jadi laris manis. (Foto- MP/Krisna Bagus)
Siomay Goras andalan sekolah jadi laris manis. (Foto- MP/Krisna Bagus)

Letih mengantre dari pagi ditambah dengan terik sinar matahari menusuk kulit dan menyebabkan dahaga menjadi situasi menguntungkan bagi Mamat. Kami pun segera mengantre membeli es kelapa yang disajikan di plastik bening dengan sedotan berwarna pink.

Ya, jajanan sekolah juga ikutan kecipratan rezeki ketika sekolah sedang membuka pendaftaran. Apalagi ada banyak gerobak jajanan mangkal di area sekolah. Setelah selesai menghabiskan siomay Goras, aku pun menghampiri tukang telur gulung yang sedang sibuk mengocok telur. Hanya dengan uang sebesar Rp5 ribu, plastik beningku telah dipenuhi sepuluh tusuk telur gulung beserta saus merah dan bubuk gurih yang kelak membuat leher sakit.

Mengenang masa-masa sekolah offline sebelum pandemi, apalagi saat pendaftaran sekolah ketika orangtua resah menanti, pasti ada pihak-pihak yang beroleh berkah seperti tukang parkir, tukang fotokopi, sampai tukang jajanan. Berkah tersebut tentu tidak bisa didapatkan secara maksimal di masa pandemi saat pendaftaran sekolah berlangsung secara daring, dari rumah masing-masing. (SHN)

Baca juga:

Suka Duka Sekolah Online, Hanya Dipahami Generasi Z

Penulis : annehs annehs
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Twitter Uji Fitur Lihat Video YouTube secara Langsung
Fun
Twitter Uji Fitur Lihat Video YouTube secara Langsung

Membuat lebih pengguna lebih mudah ketika ingin melihat video Youtube.

Mau Tahu Kepribadian Seseorang? Lihat Tali Sepatunya
Fun
Mau Tahu Kepribadian Seseorang? Lihat Tali Sepatunya

Mana simpul tali sepatu kesukaanmu?

Pokemon TV Resmi Hadir di Nintendo Switch
Fun
Pokemon TV Resmi Hadir di Nintendo Switch

Segala hal tentang Pokemon ada di Pokemon TV.

Makna Kemerdekaan Indonesia di Mata Sandiaga Uno
Hiburan & Gaya Hidup
Makna Kemerdekaan Indonesia di Mata Sandiaga Uno

Menang lawan COVID-19, together we can do it.

Atasi Kecemasan Selama Pandemi, Mudah
Fun
Atasi Kecemasan Selama Pandemi, Mudah

Mudah untuk mengatasi kecemasan dimasa pandemi.

Tanaman Hasil Rekayasa Genetik Bisa Bersinar Saat Stres
Fun
Tanaman Hasil Rekayasa Genetik Bisa Bersinar Saat Stres

tim peneliti di Hebrew University of Jerusalem telah berhasil memodifikasi sebuah tanaman kentang secara genetik, agar dapat besinar di bawah kamera flouresens ketika stress yang disebabkan oleh berbagai faktor

Kostum Bae Suzy di drama 'Start-Up' Dikritik Tidak Cocok
ShowBiz
Kostum Bae Suzy di drama 'Start-Up' Dikritik Tidak Cocok

penampilannya dinilai kurang sesuai dengan realita kehidupan di drama Start-Up.

Lewat Kemanayo, Alternatif Traveling Jadi Lebih Personal
Fun
Nintendo Switch Sukses, Reggie Fils-Aime Pensiun Tenang
Fun
Nintendo Switch Sukses, Reggie Fils-Aime Pensiun Tenang

Ia bersama Shigeru Miyamoto dan Satoru Iwata layaknya 'The Three Musketeers' di perusahaan gaming itu.

Pandemi Masih Melanda, Yuk Ngabuburit di Rumah Aja
Fun
Pandemi Masih Melanda, Yuk Ngabuburit di Rumah Aja

Tetap bisa merasakan keseruan meski di rumah aja.