Dianggap sebagai “Anak Bengal” Rusia Jadi Pemain Kunci dalam Diplomasi Barat Presiden Rusia Vladimir Putin (foto: screenshot presstv)

MerahPutih.Com - Sepak terjang Rusia dalam percaturan diplomasi kerap menyulitkan Amerika Serikat dan sekutunya. Sejumlah kebijakan Uni Eropa terhadap masalah diplomatik selalu dimentahkan Rusia melalui Presiden Vladimir Putin. Tak ayal, sejumlah media barat menyebut Rusia sebagai “anak bengal” dalam konstelasi hubungan internasional.

Rusia di mata para diplomat Amerika Serikat dan Eropa dianggap sering memainkan gerakan rahasia untuk merusak gagasan demokrasi yang disokong AS bersama sekutunya.

Sebelumnya diplomat Eropa dan AS sering terpecah karena kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump kini sudah menemukan musuh bersama, yakni si ‘anak bengal’ Rusia. Rusia dianggap memainkan politik tingkat tinggi merusak demokrasi di negara Barat. Semuanya kompak meyakini bahwa Rusia kini mempunyai peran penting untuk menyelesaikan sengketa besar di dunia.

Dari kawasan timur Ukraina, Suriah, sampai Korea Utara, kedudukan Rusia sebagai pemilik senjata nuklir dan hak veto di Dewan Keamanan PBB membuat semua upaya diplomasi harus melibatkan Moskow.

"Kami tidak bisa menemukan penyelesaian politik tanpa Rusia," kata Menteri Pertahanan Frank Bakke kepada Reuters saat mengikuti Konferensi Keamanan Munich di Jerman.

Dalam konferensi di Munich, Senin (19/2), Rusia dianggap sebagai "anak bengal". Negara itu dikecam karena turut campur dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016 dan aneksasi atas Krimea dari Ukraina dua tahun sebelumnya.

Bagi dunia Barat, persatuan sikap itu merupakan perubahan besar setahun setelah Trump menjalankan politik luar negeri yang memecah belah. Trump banyak dikritik oleh Eropa karena menganggap remeh NATO, menarik diri dari perjanjian perubahan iklim Paris, dan mengancam akan membatalkan kesepakatan nuklir dengan Iran.

Sebagaimana dilansir Antara dari Reuters, dalam konferensi tahunan di Munich, para wakil dari Amerika Serikat nampak tidak suka terhadap kehadiran diplomat Moskow yang membantah tudingan campur tangan pemilu.

"Saya heran ada perwakilan Rusia yang datang. Mereka mengirim seseorang, setiap tahunnya, hanya untuk membantah fakta-fakta yang ada," kata Direktur Badan Intelejen Nasional Amerika Serikat, Dan Coats.

Namun, di balik layar, para diplomat punya sikap yang lain.

Menteri Luar Negeri Herman Sigmar Gabriel sudah menawarkan pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Moskow karena menganggap Rusia sebagai sahabat "tak tergantikan" dalam upaya global untuk mencegah proliferasi senjata nuklir.

Rusia kini punya banyak tangan dalam berbagai konflik di dunia dalam garis yang terkait satu sama lain.

Di satu sisi, Rusia bersekutu dengan Iran dalam perang di Suriah dan mendukung kelompok separati di Ukraina. Sikap ini banyak dikecam oleh NATO. Di sisi lain, salah satu anggota NATO, Turki, kini justru semakin mendekat dengan Moskow dengan membeli persenjataan dari Rusia.

Sementara itu, di Asia, upaya untuk menghentikan program nuklir Korea Utara sangat bergantung pada kesediaan Rusia untuk turut mengembargo minyak. Saat ini Moskow diduga hanya bersedia melakukannya jika ditukar dengan kemenangan politik dalam konflik lain.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH