Dianggap Cabul dan Anti-Islam, Suluk Gatholoco Tuai Kontroversi Halam muka buku Gatolotjo terbitan toko buku Tan Khoen Swie 1954.

GATHOLOCO merupakan tokoh pada karya sastra paling kontroversial, Suluk Gatholoco. Dia hadir dalam berbagai versi. Isinya vulgar, lebih kurang ajar ketimbang Serat Centhini.

Dalam kisahnya, tokoh Gatholoco menampilkan dua hal kontras: ajaran mistik Islam Jawa dan seksualitas. Bagian terakhir itulah kemudian banyak disalahartikan sebagai nasakah porno.

Suluk Gatholoco hadir dalam bentuk naskah pada 1870-an, dan belum jelas kapan pastinya dan siapa penulisnya. Pada Februari 1872, Carel Poensen, seorang misionaris Belanda, menghabiskan hampir 30 tahun menetap di Kediri, Jawa Timur, mendiskusikan 'suluk cabul' tersebut dengan beberapa asistennya, orang Jawa Kristen.

Bagi Poensen, dari sudut pandang sastra, karya ini kurang berharga. Tapi menilik semangatnya, penulis karya itu menyodorkan konsepsi mengenai akhlak dan kebajikan, namun sayangnya tanpa kearifan dan kesopanan.

Poensen khawatir dampak Suluk Gatholoco bagi pembaca. Isinya vulgar, tapi lebih penting kevulgaran itu digunakan untuk membikin malu umat Islam, dan kaum putihan, kala 1870-an sedang memperkenalkan reformasi Islam.

Bukan hanya Poensen seorang diri jengah dengan isi Suluk Gatholoco. Snouck Hurgronje, sarjana cum pejabat tinggi kolonial terkemuka, mencelanya sebagai “impian sesat tentang mistik Jawa yang mabok madat,” seperti dikutip dalam buku Benedict R. O'G Anderson berjudul Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia.

Menurut Merle Calvin Ricklefs dalam Polarising Java Society: Islamic And The Other Visions 1830-1930, ada dua karya lainnya berkaitan dengan suluk ini dan juga mengajukan argumen anti-Islam: Babad Kedhiri dan Serat Dermangandhul. Ketiganya, muncul pada dekade tanda-tanda kebangkitan Islam di Jawa, menyebut konversi agama Jawa ke Islam sebagai kesalahan peradaban.(*) Vishal Rand



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH