Diabetes Gestasional Banyak Terjadi pada Ibu Hamil Diabetes melitus gestasional terjadi pada ibu hamil. (Foto: Pexels/pixabay)

MUNGKIN kita terbiasa dengan istilah diabetes melitus (DM) namun belum pernah mendengar atau mengetahui tentang diabetes melitus gestasional atau umumnya dikenal dengan istilah diabetes gestasional.

Menurut laman Go Dok, diabetes gestasional adalah intoleransi glukosa yang pertama kali diketahui saat kehamilan. Skrining risiko diabetes gestasional dilakukan pada kunjungan antenatal pertama. Tujuan terapi pada penanganan penyakit ini ialah untuk mencapai dan mempertahankan kadar gula darah normal selama kehamilan.

Menurut catatan diabetes gestasional terjadi pada kurang lebih 7% kehamilan, atau diperkirakan terjadi 200.000 kasus baru tiap tahunnya. Prevalensi kejadian mencapai 1-14% dari seluruh kehamilan. Insiden penyakit ini juga diperkirakan meningkat seiring bertambahnya populasi obesitas.

Terjadinya diabetes ini karena terjadinya perubahan hormonal. Terutama terjadi pada hormon estrogen dan progesteron. Selama trimester pertama, hormon estrogen dan progesteron meningkat yang menurunkan kadar glukosa puasa sebanyak kurang lebih 15 mg/dl.

diabetes gestasional
Segerakan konsultasikan ke dokter bila mengalami diabetes gestasional. (Foto: Pixabay/pedroserapio)

Kemudian pada trimester kedua, plasenta lebih banyak menghasilkan hormon anti-insulin akibat terjadinya transfer glukosa dari ibu ke janin sehingga diperlukan glukosa lebih banyak. Kandungan kadar gula janin ialah 80% dari kadar gula darah ibu.

Hormon Human Placental Lactogen (hPL) memiliki peran yang mengakibatkan resistensi insulin dan lipolisis. Hormon hPL mengumpulkan afinitas insulin ke reseptor insulin. Sekresi hPL meningkat stabil pada trimester pertama dan kedua, tetapi menurun pada trimester ketiga.

Adanya aktivitas hormon ini menyebabkan peningkatan transfer glukosa ke janin dan menurunkan glukosa ibu. Selain itu, terdapat pula hormon kortisol serta prolaktin yang dapat meningkatkan kadar glukosa. Akibat peningkatan glukosa janin, produksi insulin juga meningkat. Insulin merupakan hormon anabolik sehingga meningkatkan sintesis glikogen serta lipogenesis. Akibatnya, pada ibu hamil yang mengalami diabetes, bayi menjadi makrosomia pada saat lahir.

Diagnosis


Faktor-faktor risiko diabetes gestasional ialah:

Obesitas (Indeks massa tubuh pada saat tidak hamil ≥25 kg/m2)

Riwayat diabetes gestasional sebelumnya

Glukosuria

Riwayat abortus spontan

Riwayat bayi sebelumnya dengan malaformasi anatomi

Riwayat diabetes dalam keluarga.

Diagnosis DM ialah jika gula darah puasa >126 mg/dl atau gula darah sewaktu >200 mg/dl. Namun, pada diabetes gestasional, direkomendasikan uji khusus untuk menentukan kadar gula darah.

Pada tahun 2011, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) merekomendasikan seluruh perempuan hamil menjalani skrining diabetes gestasional. Salah satunya adalah melakukan uji dengan 50 gram gula selama 1 jam untuk menentukan kadar gula darah.

Metode lain, menurut laman Go Dok adalah yang direkomendasikan oleh Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) 2011 untuk mendiagnosis diabetes gestasional dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO) 75 gram setelah puasa 8-14 jam. Kemudian, dilakukan pemeriksaan kadar gula darah puasa, 1 jam, serta 2 jam setelah lepas beban glukosa. Apabila hasilnya ≥155 mg/dl dapat ditegakkan.

Penanganan

Penanganan Antepartum (sebelum persalinan)

Tujuan terapi ialah untuk mencapai dan mempertahankan kadar gula darah normal selama kehamilan. Tatalaksana meliputi:

Diet seimbang

Latihan/aktivitas fisik

Terapi obat-obatan (pada pasien yang sudah tegak mengalami diabetes gestasional, pilihan obatnya ialah insulin)

Pengukuran gula darah harian.

diabetes gestasional
Banyak bergerak dapat mengurangi diabetes ini. (Foto: Pexels/Jessica Monte)

Penanganan Intrapartum (pada saat melahirkan)

Waktu persalinan pada pasien diabetes gestasional dapat ditunggu hingga cukup bulan dan lahir spontan bila kadar gula darah serta keadaan umum baik. Namun, bila kontrol gula buruk, disertai hipertensi yang tidak terkontrol, maka waktu persalinan dipercepat sesuai dengan tingkat kematangan paru.

Cara kelahiran umumnya dengan seksio caesarea karena faktor janin yang lebih besar (>4000 gram). Namun disesuaikan kembali dengan kemampuan untuk lahir spontan misalnya ukuran pelvis (jalan lahir), serta kadar gula darah ibu.


Penanganan Postpartum (setelah melahirkan)

Penanganan setelah melahirkan hampir sama seperti sebelum melahirkan, yaitu untuk mempertahankan kadar gula darah yang normal. Tatalaksana pada tahap ini meliputi:

Diet

Insulin (dosis nya disesuaikan, biasanya dosis diturunkan menjadi ½ dari dosis saat kehamilan)

Menyusui anak (hal ini sangat dianjurkan untuk pasien dengan riwayat diabetes gestasional)

Menurunkan berat badan

Jika menginginkan penggunaan kontrasepsi, maka dianjurkan untuk menggunakan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR/IUD/Spiral).

diabetes gestasional
Ibu hamil biasanya terkena diabetes gestasional. (Foto: Pixabay/DanielReche)


Komplikasi

Diabetes gestasional apabila dibiarkan dan tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi, baik untuk ibu maupun untuk janin.

Pada ibu, dapat menyebabkan keguguran, infeksi, hipertensi, serta komplikasi diabetes seperti retinopati diabetik (penyakit kerusakan saraf mata akibat kadar gula terlalu tinggi) ataupun ketoasidosis diabetikum (penumpukan racun akibat kadar gula tinggi yang mengancam nyawa).

Sedangkan pada janin, dapat terjadi kelahiran prematur, cacat bawaan pada janin, gangguan pertumbuhan, gangguan metabolik janin, penyakit jantung pada janin (kardiomiopati), obesitas, serta sindrom distress pernapasan yang dapat mengancam nyawa janin.


Prognosis

Pada dasanya bila tertangani dengan baik, maka kadar gula darah akan kembali normal setelah melahirkan. Sayangnya pada perempuan dengan riwayat diabetes gestasional ternyata memiliki 50% risiko untuk mengalami diabetes melitus tipe 2 pada 10 tahun yang akan datang. (psr)

Kredit : paksi


Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH