Di Tengah Pandemi, Yadnya Kasada Tetap Digelar Warga suku Tengger gelar Yadnya Kasada, Senin(6/7). (foto: MP/don)

RATUSAN orang berbaris rapi menuju puncak Gunung Bromo. Mengenakan sarung yang melilit hingga dada, mereka membawa sesaji. Hasil bumi, hewan ternak, dan uang jadi persembahan untuk Sang Hyang Widhi. Semuanya diletakkan di sebuah wadah diberi nama ongkek. Wadah itu diusung di atas kepala warga.

Pada Senin (6/7), Yadnya Kasada bagi umat Hindu Tengger di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, digelar meriah kendati di tengah masa pandemi. Beberapa rangkaian ritual telah dilalui, mulai semeninga, mendak tirta atau pengambilan air suci, makemit hingga melasti dan atur sungguh.

BACA JUGA:

Enak Banget, ini 5 Makanan Indonesia yang Mendunia

Sebagai ritual puncak, digelar piodalan (upacara) Pura Ponten, tempat suci yang berada di kaki Gunung Bromo. Setelah itu, upacara Yadnya Kasada dilanjutkan berdoa dalam pura dan melarung atau lelabuh sesaji ke kawah Gunung Bromo.

Untuk menempuh puncak Bromo, warga harus menapaki anak tangga menuju puncak. Taruhan nyawa tak dihiraukan. Tua, muda, anak-anak, hingga bayi turut khidmat menyuarakan puja-puja kepada Sang Pencipta.

Di puncak, banyak warga lain telah menunggu. Mereka menanti larung sesaji dari warga yang siap dilempar ke kawah.


Berebut sesaji di kawah Bromo

kasada
Warga berebut sesaji menggunakan jaring dan galah. (foto: MP/don)

Mereka yang sudah menanti berdiri di tepi kaldera kawah Gunung Bromo. Tanpa rasa takut. Mereka sudah terbiasa. Mereka berebut memperoleh sesaji dengan galah dan jaring untuk menggapai. Di malam hari, ritual masih berlanjut semalam suntuk.

Ritual Yadnya Kasada diawali pembacaan sejarah Yadnya Kasada dan Puja Stuti Dukun Pandita. Kemudian upacara mulunen atau pengukuhan dukun pandita baru. Ritual diakhiri mekakat. Itulah penutup rangkaian acara.

Pandita baru yang terpilih bertugas melayani umat yang akan melakukan labuh atau larung sesaji. Ia juga melaksanakan korban suci atau nglabuh.

Sarto, warga setempat, mengatakan labuh ialah bentuk syukur dan terima kasih atas limpahan rejeki dan berharap keselamatan yabg dihaturkan kepada Sang Hyang Widhi. “Biasanya persembahan berupa hasil bumi, ternak, dan uang untuk persembahan kepada Sang Hyang Widhi dan Raden Kusumo sebagai perjanjian anak cucu,” papar Sarto.

Menurutnya, masyarakat di sana meyakini bahwa semuanya ada yang menciptakan. "Bahkan, Gunung Bromo muncul api ada penjaganya, lalu terdapat sumber air patirtan Widodaren," tutur Sarto.


Meski ada pandemi, ritual tetap digelar

kasada
Digelar di tengah pandemi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. (MP/don)

Saat Jawa Timur masih mencatatkan angka yang tinggi dalam pasien COVID-19, warga suku Tengger tetap melaksanakan Yadnya Kasada. Sesuai anjuran, mereka tetap mematuhi berbagai batasan dan protokol kesehatan sebagai syarat pelaksanaan ritual tersebut.

Jalan menuju Desa Ngadisari bahkan dijaga ketat. Nampak lima pintu pemeriksaan bagi setiap warga yang hendak memasuki wilayah ritual. “Pembatasan dan protokol kesehatan harus dilakukan, karena untuk memutus penyebaran virus corona. Mereka yang tidak menggunakan masker kami suruh putar balik,” ucap Jatmiko, petugas penjaga pos check point Desa Ngadisari.

Saat ini pemerintah memang mulai memberi kelonggaran untuk membuka destinasi wisata di Indonesia, tapi dengan syarat penerapan protokol kesehatan demi memutus mata rantai COVID-19.(*)

Artikel ini merupakan laporan kontributor MP untuk wilayah Jawa Timur dan sekitarnya, Andika Eldon.


Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH