Di Negeri Aing Orang Berpelesir untuk Lihat Mayat Di negeri aing orang berpelesir untuk lihat mayat. (Foto: Wikipedia/Arfiana Rahma Shanti)

PULAU Bali menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia. Selain keindahan alam, Bali juga memiliki budaya yang cukup unik. Bahkan diantaranya sedikit “horor”. Orang-orang yang pelesiran ke Kawasan ini, biasanya datang untuk melihat mayat yang di geletakan. Kawasan tersebut adalah Desa Trunyan, Kintaman, Bali.

Di Desa Trunyan, saat salah satu warganya meninggal, jenazah tidak dikubur dalam tanah atau di upacarakan ngaben seperti yang biasa dilakukan kebanyakan warga Bali. Jenazah hanya diletakan di dekat pohon Taru Menyan. Menariknya, kamu tak akan mencium bau busuk dari jenazah-jenazah tersebut.

Baca juga:

Penyebab Harga Tiket Wisata Lokal dan Asing Berbeda di Negeri Aing

Konon, Raja Solo yang bertahta di Keraton Surakarta mempunyai empat orang anak. Tiga orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang paling bungsu. Suatu hari, secara tiba-tiba mereka mencium bau harum yang sangat kuat.

Keempat bersaudara itu sangat penasaran dan tertarik untuk menelusuri sumber bau harum itu. Akhirnya, mereka pun bersepakat untuk mencari sumbernya. Singkat cerita, sang kakak sulung berhasil menemukan sumber bau harum tersebut.

instagram

Kemudian, di tempat itu berdirilah sebuah kerajaan kecil dan sang raja ingin melindungi wangi yang keluar dari pohon tersebut. Sang Raja memerintahkan warganya untuk meletakkan mayat di bawahnya. Dengan cara itu, wangi dari pohon Taru Menyan bisa dilindungi sehingga takkan diketahui oleh orang-orang di luar sana.

Pohon tersebut pulalah yang membuat mayat-mayat yang diletakkan di bawahnya tak mengeluarkan bau busuk meskipun ditaruh cukup lama.

desa trunyan

Namun, meski bau harum dari pohon Taru Menyan itu terbilang cukup ilmiah, ada penjelasan tentang faktor-faktor lain yang memengaruhi jenazah itu tidak mengeluarkan bau busuk.

Dikutip dari penelitian yang dilakukan oleh I Nyoman Try Upayogi, terdapat 3 faktor eksternal yang mampu menjelaskan kenapa tidak terdapat bau busuk dari jenazah yang ditaruh di bawah pohon Taru Menyan.

Faktor eksternal seperti temperatur atau suhu, udara, dan invasi dari hewan atau serangga memengaruhi peroses pembusukan. Suhu udara di Desa Trunyan ada di rentang 12 derajat celcius sampai 17 derajat celcius. Pada suhu udara yang dingin itulah yang menyebabkan proses pembusukan menjadi lebih lambat.

Baca juga:

Mengenal Deretan Duel Unik di Negeri Aing

Menurut Dahlan (2000) dan Nandy (2010) udara yang tidak bergerak, tidak dapat membantu proses penguapan cairan tubuh dan proses pembusukan. Kondisi daun dan ranting pohon Taru Menyan yang rindang membuat seluruh area makam tertutupi, ditambah pohon lebat lainnya disekeliling pohon Taru Menyan membuat aliran udara tidak terlalu bagus.

Di negeri aing orang berpelesir untuk lihat mayat. (Foto: Wikipedia/Arfiana Rahma Shanti)
Di negeri aing orang berpelesir untuk lihat mayat. (Foto: Wikipedia/Arfiana Rahma Shanti)

Ridangnya dedaunan pohon itu juga menjaga suhu udara di bawah pohon tetap dingin, meskipun di siang hari. Keadaan lingkungan itulah yang juga menyebabkan proses pembusukan terjadi dengan lambat dan penguapan gas dari cairan tubuh juga lambat, sehingga bau busuk seperti mayat pada umumnya, tidak tercium oleh orang-orang disana.

Serangga seperti lalat, juga tidak ditemukan disekeliling area makam, dilansir dari Wisangeni (2018). Menurut Dahlan (2000), serangga juga menjadi faktor yang dapat membantu proses pembusukan, karena dapat merusak kulit luar mayat dan menyebabkan bakteri masuk ke dalam kulit mayat dengan cepat. Tidak adanya serangga seperti lalat, maka secara otomatis laju pembusukan juga menjadi melambat. (kna)

Baca juga:

5 Desa Adat nan Cantik Destinasi Pelesir Negeri Aing

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Binar di Pesara
Tradisi
Binar di Pesara

Menjadi tukang gali kubur adalah menjadi sebuah pilihan hidup. Selama 23 tahun ia mengabdikan diri di garda belakang

Keindahan dan potensi Danau Toba tak kalah dengan Bali
Travel
Keindahan dan potensi Danau Toba tak kalah dengan Bali

masyarakat di kawasan Danau Toba yang tetap menjunjung tinggi berbagai nilai kearifan lokal.

Lakon Sejarah Dakon, Permainan Tradisional Paling Populer Saat Ramadan
Tradisi
Galeri Nasional Indonesia Mulai Terima Pengunjung
Travel
Galeri Nasional Indonesia Mulai Terima Pengunjung

Pada masa transisi ini, pengunjung hanya bisa melihat Pameran Tetap Koleksi Galeri Nasional Indonesia di Gedung B lt. 2.

Punya Suara ‘Misterius’, Simak Fakta-Fakta Tentang Gunung Prau
Travel
Bali Masih Melarang Pelancong Internasional Hingga 2021
Travel
Bali Masih Melarang Pelancong Internasional Hingga 2021

Awalnya berencana dibuka kembali pada bulan September.

Keren! Kini Berwisata ke Pulau Leebong Bisa dengan Helikopter
Travel
Keren! Kini Berwisata ke Pulau Leebong Bisa dengan Helikopter

Tiba di Pulau Leebong lebih praktis menggunakan helikopter.

Mikael Jasin Segera Rilis Catur Collection, Kopi Istimewa Cita Rasa Indonesia: Bumi, Senja, Pucuk dan Kamala
Kuliner
Mikael Jasin Segera Rilis Catur Collection, Kopi Istimewa Cita Rasa Indonesia: Bumi, Senja, Pucuk dan Kamala

Mikael Jasin beroleh pengalaman berharga tentang betapa tidak mudah menjaga keberlangsungan kualitas saat memproduksi kopi di Indonesia.

@Zaynmalieq Nge-Shift Perdana di Gerakan Barista Asuh, Respon Customer Luar Biasa
Kuliner
@Zaynmalieq Nge-Shift Perdana di Gerakan Barista Asuh, Respon Customer Luar Biasa

Terbukti ada beberapa customer yang rela mampir jauh-jauh ke TCB untuk memberikan support pada dirinya.

Celimpungan Hangat Khas Palembang
Indonesiaku
Celimpungan Hangat Khas Palembang

Cocok untuk hari dingin.