Di Hadapan Tokoh Agama Kristiani, Presiden Jokowi Beberkan Alasannya Sebut Politisi Sontoloyo Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta (Foto: Oji/Humas)

MerahPutih.Com - Pernyataan Presiden Jokowi terkait adanya politisi sontoloyo menuai pro kontra di kalangan para tokoh politik Tanah Air. Kubu oposisi contohnya, menyesalkan pemakaian kata sontoloyo yang dinilai kasar.

Pembelaan terhadap ucapan Presiden itu mengalir dari kelompok pengusung pemerintah. Kepala Staf Kantor Presiden Moeldoko menjelaskan bahwa ucapan itu sebagai imbuan Presiden untuk berpolitik secara santun.

Tidak ingin berpolemik panjang, Presiden Jokowi menjelaskan langsung maksud pernyataan politisi sontoloyo.

Dihadapan tokoh agama Kristiani yang terdiri dari para pimpinan gereja dan perguruan tinggi agama Kristen seluruh Indonesia, Presiden menyatakan keberagaman tidak boleh digadaikan demi kepentingan politik sesaat.

Menurut dia, tidak pernah ada yang mempermasalahkan keberagaman itu, karena sudah ada kesepakatan di antara para founding fathers, para pendiri bangsa ini.

"Tapi gara-gara pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur, pilihan presiden. Nah ini dimulai dari sini, sebetulnya dimulai dari urusan politik yang sebetulnya setiap 5 tahun itu pasti ada," kata Presiden di Istana Negara Jakarta, Rabu (24/10) kemarin.

Ia menyebutkan adanya politik tidak beradab yang tidak beretika, yang tidak bertata krama Indonesia.

"Cara-cara politik adu domba, cara-cara politik yang memfitnah, cara-cara politik yang memecah belah hanya untuk merebut sebuah kursi, sebuah kekuasaan semuanya dihalalkan. Nah dimulai dari sinilah sehingga muncul sedikit masalah," katanya lagi.

Presiden Jokowi
Presiden Joko Widodo. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Ia mengaku kondisi itu yang menyebabkan dirinya sempat kelepasan dengan menyampaikan adanya politikus sontoloyo.

"Jengkel saya, saya itu enggak pernah pakai kata-kata seperti itu, karena sudah jengkel ya keluar. Saya itu biasanya bisa ngerem, tapi kalau udah jengkel ya gimana," kata Jokowi.

Kepala Negara juga sebagaimana dilansir Antara menyebutkan bahwa letupan kecil dalam negara yang beragam seperti Indonesia dapat membahayakan.

"Karena itu, apa pun selalu saya sampaikan untuk segera diselesaikan kalau ada letupan-letupan kecil," katanya pula.

Oleh karena itu, Presiden Jokowi meminta para tokoh agama dan tokoh masyarakat agar terus menyampaikan kepada umat bahwa Indonesia merupakan negara besar dengan keberagaman.

"Inilah fungsi tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat untuk terus memberitahukan kepada umatnya, agar sadar betul negara ini negara besar dengan keberagaman," kata Presiden Jokowi.

Kepala Negara menyebutkan sejak merdeka hingga saat ini sebenarnya masalah keberagaman sudah selesai.

"Sejak awal sampai sekarang, sebetulnya nilai kita itu sudah A, masalah keberagaman audah rampung, negara lain melihat kita terkagum-kagum," katanya lagi.

Ia menyebutkan Indonesia memiliki 714 suku dengan 17.000 pulau, memiliki sekitar 1.100 bahasa, memiliki 514 kota dan kabupaten serta 34 provinsi.

"Penduduk di sekolah ini sekarang sudah 260 juta dan kita ini diberkati oleh Tuhan dengan keberagaman, perbedaan-perbedaan, warna-warni. Sebetulnya udah selesai masalah kebhinekaan, sudah rampung," katanya.

Menurut dia, kalau ada pemilihan bupati, pemilihan wali kota, pilihan gubernur, pilihan presiden, dengan calon yang sudah ada, maka lihat programnya, rekam jejak dan prestasinya.

"Setiap kontestasi politik seharusnya merupakan adu program, adu ide, adu gagasan, adu rekam jejak. Bukan adu fitnah, adu saling mencela, bukan adu hoaks, bukan itu. Itu akan mengundurkan kita ke belakang. Tidak mematangkan dan mendewasakan kita dalam berdemokrasi," tandas Presiden Jokowi.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Insiden Pembakaran Bendera, Raja Juli Antoni: Tak Ada Hubungan Dengan Politik Nasional



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH