Di Brazil, Investasi Apple Ternyata Tidak Mengangkat Kesejahteraan Pegawai pabrik IT Foxconn China. (Dok./China.org.cn)

Penegasan Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara bahwa produsen smartphone harus membangun fasilitas riset dan pengembangan di Indonesia jika ingin menjual produknya, bisa jadi merupakan angin segar bagi iklim investasi di tanah air.

Tapi ada baiknya kita belajar dari Brazil, yang memiliki fasilitas riset dan pengembangan produk Apple terbesar setelah di Amerika Serikat.

Fasilitas di Indonesia katanya yang kedua terbesar setelah Brazil. Lalu apa yang membanggakan? Ada nilai positif kah untuk masyarakat Indonesia, selain sebagai calon pembeli produk teknologi Apple. Misalnya kesejahteraan bagi pegawai yang bekerja di fasilitas itu. Apakah Apple akan menampung lebih dari 20 ribu pegawai Indonesia? Sukur-sukur lebih banyak.

Kita ke Brazil.

Di negeri kelahiran Pele itu, sejak April 2011, Apple ternyata mensubkan produksi perangkat Applenya ke perusahaan Taiwan Group Foxconn Technology.

Sebelumnya reuters mencatat, President Dilma Rousseff dan para menteri-menterinya berjanji bahwa investasi US$ 12 milyar selama enam tahun akan mengubah sektor teknologi Brasil, dengan produksi teknologi layar sentuh. Telah dipresentasikan menciptakan rantai pasokan baru (Tingkat Kandungan Dalam Negeri - TKDN), menghasilkan pekerjaan berkualitas tinggi yang menurunkan harga gadget yang didambakan.

Kenyataannya empat tahun kemudian, tidak ada janji tersebut yang terwujud.

Belakangan ketahuan, Foxconn hanya menampung sebagian kecil dari 100.000 pekerjaan yang diminta pemerintah dan rata-rata pegawai lokal yang bekerja melakukan perakitan, skill keterampilannya rendah. Dan Foxconn hanya sedikit memberi dampak positif bagi sektor teknologi Brazil dan sangat sedikit menciptakan rantai pasokan lokal (TKDN).

iPhone sekarang sudah dirakit di bilangan São Paulo, satu-satu pabrik di dunia yang dibuat di luar China. Namun harganya hampir US$ 1.000 untuk iPhone 5S dengan spek 32-gigabyte tanpa kontrak – salah satu harga termahal di dunia atau sekitar dua kali lipat dari produk yang sama yang mereka jual di AS.

Brasil sangat sedikit memperoleh keuntungan dari investasi Foxconn, bisa jadi karena regulasi industrinya yang lemah. Insentif pajak yang mahal justru membuat defisit anggaran pemerintah yang tidak memacu pertumbuhan. Brazil saat ini nyaris resesi apalagi produktivitas tenaga kerjanya juga stagnan.

Meski begitu Apple Inc (AAPL.O) tetap mendulang untung. Penjualan iPhone di Brazil masih meningkat. Hasil riset Gartner mencatat pengiriman keseluruhan produk meningkat lebih dari 40 persen menjadi 2,9 juta tahun lalu.

Namun manajemen Apple menolak untuk menceritakan keuntungannya itu. Sedang perwakilan pemerintah Brasil dan Foxconn juga menolak berkomentar mengapa investasi tersebut justru tidak mendatangkan manfaat bagi rakyat Brazil.

Di China upah 1,3 juta buruh Foxconn, naik. Untuk mengatasinya Foxconn berusaha melakukan efisiensi dengan mempekerjakan lebih banyak robot dan mengekspansikan bisnisnya secara global dalam produksi produk elektronik langsung di pasar tempat mereka berjualan.

Tapi iklim politik dan ekspektasi pengelolaan pabrik di luar China sangat beresiko bagi Foxconn, yang flagship unitnya terdaftar sebagai Hon Hai Precision Industry Co Ltd (2317.TW).

Di Indonesia, pemerintah selama bertahun-tahun telah gembar-gembor bahwa Foxconn akan berinvestasi hingga US $ 10 milyar. Namun rencana itu masih gamang karena situasi politik belum memungkinkan.

Di Brasil seperti juga di Indonesia, politisi dan pejabat pemerintahnya adalah orang-orang yang sesumbar dan berusaha menjual proyek ini setelah bertemu dengan pihak Foxconn.

Sementara terkait regulasi kesejahteraan, kesehatan pegawainya sendiri, mereka sangat berhati-hati dan sangat perhitungan.

Inilah saatnya kita betul-betul harus berhati-hati dalam menyambut tawaran investasi yang tampaknya menggiurkan. Brazil sudah menjadi korban. Indonesia bisa belajar dari Brazil. (dsyamil)

BACA JUGA

  1. Apple Cari Lokasi Untuk Riset Di Indonesia
  2. Apple akan Buka Toko Pertamanya di Asia Tenggara

 


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH