Di Balik Ketangguhan Manganang Bersaudara Amasya dan Aprilia Manganang perkuat tim voli putri Indonesia. (foto: Instagram @manganang)

APRILIA Manganang dan Amasya Manganang ialah duo bersaudara yang mampu menggemparkan dunia voli Tanah Air. Kakak beradik asal Tahuna, Sulawesi Utara, tersebut mengandaskan impian Filipina untuk bermain di final voli Asian Games 2018. Walaupun harus mengakui keunggulan Thailand, keduanya tetap menjadi sorotan di mata dunia.

Selain kemampuan smash yang mumpuni, mereka memiliki garis wajah dan bentuk tubuh yang cenderung maskulin. Pola permainan mereka yang cepat dan kuat sempat dituding lawan. Pihak lawan menilai keduanya memiliki kekuatan layaknya pria. Salah satu komentar negatif muncul dari warganet asal Filipina.

amasya-aprilia manganang
Kakak-adik yang jadi andalan tim voli perempuan Indonesia. (foto: Instagram @amasyamanganang)

Tak terima dengan kekalahan timnya di Asian Games kala bertanding melawan tim Indonesia, Sabtu (25/8), warganet Filipina melontarkan komentar buruk terhadap mereka berdua. Tudingan-tudingan pun diberikan kepada mereka. Mulai dari menuduh mereka terlahir sebagai laki-laki, melakukan operasi transgender hingga menyamar sebagai perempuan. Ada pula yang mengomentari bentuk tubuh mereka yang sangat maskulin.

Smash yang kuat jadi ciri khas mereka. (foto: Instagram @amasyamanganang)

Itu bukanlah pertama kali Filipina mempertanyakan gender mereka. Sebelumnya, pada 2015 pelatih Filipina sempat protes dan mengajukan tes gender untuk mereka. Namun, berdasarkan jejak medis dan dokumen pribadi, Federasi Asia menyatakan keduanya ialah perempuan. Pengajuan tersebut pun ditolak.

Bagi Manganang bersaudara, menghadapi tudingan seperti itu tak lagi aneh. Klub voli Popsivo Polwan menolak bertanding dengan klub tempatnya bermain karena hasil tes gender Aprilia belum keluar. Protes terhadap gender April kembali muncul pada Livoli 2013. Petrokimia Gresik dan Bank Jatim Surabaya mengajukan protes karena meragukan jenis kelamin Aprilia. Tak hanya itu, Aprilia mengungkapkan bahwa ia pernah ditolak beberapa klub di Bandung untuk bergabung karena penampilannya pada 2011.

Meski tangguh di lapangan, sebagai perempuan, Aprilia pernah mengalami masa-masa lemah dan sempat putus asa. “Sempat sih harga diri hilang, tetapi aku selalu berusaha kalau aku layak untuk bermain,” ujarnya. Ia pun sempat frustrasi karena pernah beberapa kali menjalani serangkaian tes feminitas. Mulai dari tes saat sprinter di 2005, Livoli Bandung, sampai SEA Games di Myanmar.

amasya manganang
Amasya Manganang. (foto: Instagram @amasyamanganang)

Banyaknya ujian yang dilalui secara tak langsung mengasah mental juara keduanya. Terbukti, mereka berhasil membungkam berbagai diskriminasi gender yang dilontarkan publik dengan prestasi. Tekad yang kuat dan doa mengantarkan mereka pada jalan menuju kesuksesan.

“Puji Tuhan. Banyak yang sayang. Mereka berjuang juga buat aku,” tutur gadis kelahiran 27 April 1992 tersebut.

Kini publik tak perlu lagi meragukan gender keduanya. Keduanya tetap memperlihatkan sisi feminitas mereka dengan cara unik. Tak hanya itu, April pun kini telah menjadi anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) yang bertugas di bagian jasmani.

Yuk, lihat pesona kakak beradik, Amasya dan Aprilia Manganang di luar lapangan.

(foto: Instagram @amasyamanganang)

(foto: Twitter @afiffuadS)

aprilia manganang
Bersama sang ibu. (foto: Instagram @manganang)

Aprilia Manganang. (foto: Instagram @manganang)

Cantik dan tangguh kan?(Avi)

Kredit : iftinavia


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH