Desa Bendar, Tempat Bersandar Kapal-Kapal Nelayan Kaya Desa Bendar, desan nelayan kaya. (Foto: dkp jatengprov)

KALAU dilihat Desa Bendar tidaklah berbeda dengan desa-desa lainnya. Berada di tepi sungai Juwana, kecamatan Juwana, kabupaten Pati, Jawa Tengah. Pun, tempat ini memiliki pelelangan ikan pula.

Yang membedakan dengan desa-desa nelayan lainnya adalah rumah-rumah kokoh dan besar. Ya, desa nelayan ini bukanlah sembarangan desa nelayan. Kebanyakan warga desa ini adalah pengusaha kapal penangkap ikan.

Bahkan tak berlebihan bila dikatakan bahwa desa ini adalah desa nelayan terkaya. Desa yang memiliki luas lebih dari 198 ribu km persegi ini, kebanyakan warganya memiliki lebih dari satu kapal. Mereka mendapatkan penghasilan dari kapal yang mereka miliki. Bahkan tak sedikit kapal yang harga pembuatannya mencapai Rp6,5 miliar bersandari di desa ini.

Kesuksesan masyarakat Bendar tidak serta merta datang begitu saja. Banyak perjuangan yang harus dilakukan. Secara umum, pengusaha kapal yang ada di Bendar hanya berpendidikan biasa. Namun karena perjuangan yang tidak henti akhirnya bisa meraih keberhasilan yang luar biasa.

Namun bukan berarti desa ini menjadi kaya hanya dalam waktu semalam. Butuh kerja keras untuk mewujudkan kesuksesan para warga. Apalagi latar belakang kebanyakan warganya bukanlah dari sekolah yang tinggi, melainkan hanya dari sekolah dasar saja. Desa ini berbanding terbalik pada tahun 1980-an yang masih miskin.

Konon kabarnya setelah pemerintah melakukan pengerukan lumpur dari sungai Juwana, kehidupan warga di desa nelayan itu mulai berubah. Daerah ini menurut sejarah dua abad yang lalu merupakan pembuat kapal di pesisir laut utara Jawa. Seolah mengembalikan kembali pada kejayaan silam itu, Desa Bendar mulai menggeliar di tahun itu.

desa bendar
Banyak kapal berbobot 100 GT di Desa Bendar. (Foto: twitter @twitter patiituindah)

Kapal berbobot berat mulai bisa memasuki alur sungai Juwana. Demikian pula industri ikan pindang mulai menunjukan hasil yang menggembirakan. Tak hanya itu seiring waktu dan kemampuan keuangan nelayan Bendar, mereka mulai merekrut tenaga-tenaga dari luar desa Bendar.

Dapat dirata-ratakan kapal-kapal yang ada di desa nelayan Bendar ini berbobot 100 gros ton (GT). Satu kapal itu biasanya membutuhkan awak kapal sampai 10 orang banyaknya. Tenaga-tenaga dari luar biasanya adalah para petani yang sudah melewati masa tanam dan menunggu musim tanam berikutnya. Mereka ikut melaut untuk membeli benih yang akan ditanam yang uangnya di dapat dari ikut melaut dengan kapal-kapal dari desa Bendar.

Penghasilan per kapal bila dirata-rata bisa mencapai seratusan juta, itu penghasilan bersih yang sudah dikurangi dengan persiapan perbekalan. Dari hasil bersih itu kemudian akan dibagi dua antara pemilik dan operator yang mengoperasikan kapal. Seperti nahkoda, juru mesin dan awak kapal. Biasanya dalam sebulan lebih dari dua kali kapal akan melaut. Tentu sudah dapat dihitung penghasilan awak yang melaut.

Pemilik kapal yang mendapatkan penghasilan sekitar 55% dari hasil bersih tangkapan notabene adalah warga desa Bendar. Tak mengherankan bila kemudian mereka memang menjadi kaya dan meramaikan wajah desanya.

Hebatnya lagi mereka tidak mengenal sistem ijon seperti yang ada di desa nelayan lainnya. Penghasilan yang didpat memang dihemat untuk keperluan usahanya. Bila ada yang belum punya kapal pasti menabung untuk kelak memiliki kapal sendiri.

Di samping itu sistem kerja antara pemilik, nahkoda dan awak kapal biasanya berupa pembagian saham. Paling tidak antara mereka merupakan pemilik sedikit saham dari kapal yang dioperasikan. Pun dengan sistem kekerabatan antara pemilik, nahkoda dan awak kapal biasanya berasal dari garis keluarga yang sama.

Dengan demikian kepercayaan di antara mereka sangat kuat. Didukung dengan sistem pembagian pendapatan yang jelas semakin membuat kerja mereka sangat produktif. (psr)

Kredit : paksi


Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH