Depok Urban Track (DUT), Jelajah Tempat Historis di Depok Menggunakan Sepeda Depok Urban Track (DUT) digelar oleh Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) FIB UI. (Foto: MP/Hendaru Tri Hanggoro)

PARKIRAN kendaraan bermotor Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) berubah jadi parkiran sepeda pagi itu, Sabtu (26/11). Ratusan sepeda dari berbagai jenis dan merk berjejer rapi. Dari sepeda lipat, MTB, balap klasik, komuter, sampai onthel.

Mereka berasal dari berbagai komunitas pesepeda di Depok seperti Federal Depok, Epic Depok, Gober, Serok's, KBC, dan sebagainya. Ada pula sejumlah pesepeda individual.

Semua bersiap mengikuti Depok Urban Track (DUT) yang digelar oleh Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) FIB UI. Rutenya UI-Situ Babakan-Situ Rawa Besar-Jembatan Panus-UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia). Rute ini mencakup sejumlah situs bersejarah di Depok.

DUT bertujuan mendukung aktivitas bersepeda dalam mengembangkan potensi perkotaan melalui ekowisata (ecotourism). Ekowisata memadukan konservasi (conservation), komunitas (community), dan wisata yang berkelanjutan (sustainable travel).

"Ada hampir 200 orang dari berbagai komunitas. Sebenarnya bisa lebih. Tapi karena beberapa hal banyak yang tidak bisa ikut," kata Sofian Purnama, salah satu panita acara.

Tepat pukul 7 pagi, pembawa acara (pewara) memberitahukan kepada pesepeda agar bersiap. Pesepeda melaju secara rombongan besar. Semula, panitia akan membaginya dalam kelompok kecil.

"Karena panitia kekurangan marshall, jadi berangkat bareng, tapi teratur dipimpin Road Captain dan didampingi beberapa marshall di depan, tengah, dan sweeper paling belakang," tambah Sofian.

parkiran sepeda ui
Ratusan sepeda dari berbagai jenis dan merk berjejer rapi. (Foto: Merahputih.com/Hendaru Tri Hanggoro)

Merahputih.com mengekor di barisan belakang. Pesepeda menyusuri jalanan asri kampus UI Depok, lalu masuk ke jalan besar menuju Situ Babakan. Kelajuan pesepeda diatur sedemikian rupa. Tak terlalu cepat, tapi juga tidak kelewat lambat.

Dari Situ Babakan, rombongan menuju perempatan pintu Tol Kukusan. Lampu merah menyala dan rombongan berhenti menunggu secara tertib.

Rombongan bergerak menuju Situ Rawa Besar. Namun, karena lalulintas kurang kondusif, rombongan langsung beralih menuju jembatan Panus melalui Jalan Margonda.

Di sepanjang jalan Margonda, rombongan berada agak di posisi kanan sehingga cukup membahayakan keselamatan pesepeda dan pengguna jalan lain. Sebab banyak puing pembenahan trotoar oleh Pemerintah Depok yang diletakkan di pinggir jalan secara sembarangan tanpa memedulikan keselamatan pengguna jalan serta kerapian pengerjaan.

Dari Jalan Margonda, rombongan merangsek ke jalan kecil perumahan yang asri, lalu tiba di jembatan Panus yang bersejarah. Panjangnya 65 meter dan lebar 5 meter.

Dibangun di atas Sungai Ciliwung oleh insinyur Belanda bernama Stephanus pada 1870, jembatan Panus berdampak pada perkembangan permukiman Depok. Misalnya mulai muncul rumah bergaya kolonial di sekitar jembatan Panus.

Baca juga:

Pengmas FIB UI Gagas Wisata Ramah Lingkungan di Depok Menggunakan Sepeda

"Selain itu juga menyebabkan intensitas pertemuan ataupun interaksi antara penduduk asli dengan penduduk asal lebih sering dari sebelumnya," Rian Timadar dalam Persebaran Data Arkeologi di Permukiman Depok Abad 17-19 M: Sebagai Kajian Awal Rekonstruksi Sejarah Permukiman Depok.

Sebelum ada jembatan Panus, masyarakat menyeberang dengan alat transportasi leretan, semacam rakit yang bergerak dengan bertumpu pada kawat baja yang membentangi sungai Ciluwung. Dengan begitu, rakit tak mudah terbawa arus. Sayangnya alat ini tak bisa digunakan ketika Ciliwung meluap. Sebab, kawat baja terendam air.

Karena itulah pemerintah kolonial berinisiatif membangun jembatan Panus untuk mempermudah mobilisasi masyarakat dari Depok Dalam ke Depok Luar atau sebaliknya. Juga sebagai penghubung Jalan Margonda sekarang dengan Jalan Raya Bogor. Dulunya, dua jalan itu ramai dilalui oleh pedagang Tionghoa, pribumi, dan utusan Belanda.

Sekarang jembatan ini sarana transportasi yang menghubungkan Depok dengan jalan Tole Iskandar yang merupakan jalan cepat menuju Jalan Raya Bogor. Jembatan ini juga digunakan untuk mengukur debit air sungai Ciliwung sebagai antisipasi banjir.

Setekah berhenti beberapa jenak di jembatan Panus, rombongan bergerak ke arah UIII di Cimanggis. Rutenya asri dan tak ramai kendaraan bermotor, tapi agak naik-turun (rolling) sehingga perlu strategi khusus memanfaatkan rolling agar tenaga kayuhan mangkus dan sangkil.

depok urban track
Dikenal sebagai Rumah Tuan Tanah Cimanggis, rumah ini termasuk bangunan cagar budaya. (Foto: Merahputih.com/Hendaru Tri Hanggoro)

Arkian melalui jalan tanah dan makadam, rombongan sampai di UIII. Dalam kawasan ini, sebuah rumah tua berdiri. Dikenal sebagai Rumah Tuan Tanah Cimanggis, rumah ini termasuk bangunan cagar budaya.

Rumah ini dibangun oleh David J. Smith pada pertengahan abad ke-18 dan menjadi milik janda Gubernur Jenderal van Der Parra, yaitu Adrianna Johanna Brake.

Arsitektur rumah menyerupai neoklasik dengan pilar besar di depan. Menurut sejarawan Adolf Heuken, rumah Cimanggis merupakan contoh yang dapat mewakili rumah tuan tanah abad ke-18 dengan sangat baik. Rumah ini disebut pula sebagai landhuis karena memiliki halaman yang luas.

Interior rumah sungguh artistik. Bagian ventilasi berukir bunga dan malaikat. Langit-langitnya cukup tinggi sehingga menghasilkan sirkulasi udara yang baik dan sejuk. Tanpa pendingin ruangan pun, berada di dalam rumah ini terasa adem.

"Melihat dari sisi nilai sejarah rumah tuan tanah Cimanggis merupakan bukti penting karena berperan sebagai pusat usaha dari pembukaan lahan hutan antara Jakarta dan Bogor pada abad ke-18," catat Ellyza Tri Kurnia dalam Rumah Tuan Tanah Cimanggis sebagai Bangunan Cagar Budaya.

Baca juga:

Kota di Inggris akan Resepkan Bersepeda agar Warganya Lebih Sehat

Selepas menjelajahi tiap jengkal rumah bersejarah itu, rombongan berkeliling sebentar di kawasan UIII yang sedang dalam pembangunan. Tak lama, rombongan melanjutkan perjalanan kembali ke kampus UI Depok.

Setiba di kampus UI, rombongan beristirahat, makan, dan dihibur oleh sajian musik. Sejumlah peserta tampak lelah. Sebab tak semua pernah gowes sejauh 31,2 kilometer.

"Ada satu peserta yang kecapekan, terus dievakuasi panitia pakai kendaraan operasional," tutur Sofian.

Meski lelah, senyum sumringah menghiasi wajah para peserta dari berbagai usia. Salah satu pesepeda yang ikut acara itu bahkan ada yang sudah mencapai 63 tahun. Martino, seorang pensiunan, aktif bersepeda sejak 1980-an. Dia telah menjajal berbagai jenis sepeda dan rute di banyak wilayah pulau Jawa.

Martino akhirnya memilih bersepeda santai menggunakan Federal. "Kalau saya pribadi, sekarang itu saya nikmati bersepeda itu silaturahminya. Dan banyak lokasi yang untuk kita kunjungi," terang Martino.

Sepengalaman Martino, bersepeda komuter pada masa lalu lebih nyaman meski belum ada jalur sepeda khusus. Sekarang keadaannya berbeda. Kendaraan bermotor bertambah banyak. Jalur sepeda dibuat, tapi kurang maksimal.

depok urban track
Setiba di kampus UI, rombongan beristirahat, makan, dan dihibur oleh sajian musik. (Foto: Merahputih.com/Hendaru Tri Hanggoro)

Martino merasa senang ada acara DUT. Dengan DUT, dia bisa merasakan tempat-tempat bersejarah di Depok. Selain itu, dia juga memperoleh teman-teman baru dari berbagai komunitas. Dia berharap acara ini terus berlanjut.

Menurut Sofian, keberlanjutan acara DUT bergantung pada keinginan dan kebutuhan masyarakat akan pentingnya bersepeda. Sofian percaya bahwa kebutuhan masyarakat kota pada sepeda tak akan terelakkan pada masa kini.

"Di daerah perkotaan, popularitas sepeda meningkat signifikan hingga memunculkan istilah urban cycling," kata Sofian.

Sofian yakin kelak kebutuhan tersebut akan tumbuh secara organik. Rutenya pun berkembang mengikuti keinginan dan kebutuhan masyarakat dengan mempertimbangkan aspek sejarah, toponimi, ekowisata, hingga keamanan, dan keselamatan pengendara.

Di akhir acara, panitia memberikan doorprize berupa voucher dan aksesoris sepeda dari Rodalink serta empat sepeda Federal sumbangan Robithoh, salah satu anggota Federal Depok. (dru)

Baca juga:

Kurangi Mobil, 4 Kota ini Prioritaskan Pejalan Kaki dan Sepeda

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Maret, BTS Kembali ke Panggung Live Korea Selatan
ShowBiz
Maret, BTS Kembali ke Panggung Live Korea Selatan

Bangtan Boys terakhir kali menggelar konser luring di Korea Selatan pada Oktober 2019.

Sebelum Lakukan Smoothing Keratin, Perhatikan Hal Ini
Fashion
Sebelum Lakukan Smoothing Keratin, Perhatikan Hal Ini

Apakah perawatan tersebut bisa berbahaya?

Taylor Swift Borong 6 Penghargaan, Simak Daftar Lengkap Pemenang AMA 2022
ShowBiz
Taylor Swift Borong 6 Penghargaan, Simak Daftar Lengkap Pemenang AMA 2022

Taylor Swift menjadi artis dengan piala AMA terbanyak sepanjang masa.

Rp 44,8 Miliar untuk Komik 'Captain America' Edisi Pertama
Fun
Rp 44,8 Miliar untuk Komik 'Captain America' Edisi Pertama

Ilustrasi komik ini terbilang antik dan penuh kontroversi.

Sepatu Roda Terinspirasi dari Ice Blade Skating
Fun
Sepatu Roda Terinspirasi dari Ice Blade Skating

Sepatu roda yang dia buat enggak jauh beda dengan ice skate.

Libur Telah Tiba, Simak 7 Manfaat Liburan untuk Kesehatan
Fun
Enggak Semua Jajanan Jadi Naik Kelas Ditambah Mozarella
Hiburan & Gaya Hidup
Enggak Semua Jajanan Jadi Naik Kelas Ditambah Mozarella

Cireng tidak cocok pakai mozarella.

Edukasi di TikTok Makin Seru Lewat Kampanye #SerunyaBelajar
Fun
Sutradara Ghost of Tsushima Tunjuk Takashi Doscher sebagai Penulis Naskah
ShowBiz
Sutradara Ghost of Tsushima Tunjuk Takashi Doscher sebagai Penulis Naskah

Penggarapan film Ghost of Tsushima akan bertempatkan di studio Sony Pictures dan PlayStation Productions.

Dita Karang Ditunjuk Jadi Duta Bilateral Indonesia-Korea Selatan
ShowBiz
Dita Karang Ditunjuk Jadi Duta Bilateral Indonesia-Korea Selatan

Dita Karang adalah orang Indonesia pertama yang bergabung sebagai grup K-Pop.