Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Okularis merupakan seorang spesialis pembuat dan penyesuai protesa mata (mata palsu), secara akademik okularis tidak memiliki jenjang pendidikan. Adakalanya para okularis hanya menurunkan keahliannya kepada keluarga atau kerabat terdekat. Dan hal tersebut yang membuat profesi okularis sangat jarang ditemui. (Merahputih.com/Rizki Fitrianto)

Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Protesa mata (mata palsu) yang terbuat dari akrilik tersebut diperuntukan kepada orang yang kehilangan bola mata setelah mengalami traumatisme atau cacat mata sejak lahir yang berfungsi mencegah jatuhnya kelopak mata serta menjaga agar air mata dan kotoran dapat mengalir kesalurannya. (Merahputih.com/Rizki Fitrianto)

Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Rizwan Ilyasin Achmed, seorang Okularis atau spesialis pembuat dan penyesuai protesa mata (mata palsu) di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Rasa cinta yang tulus kepada putrinya yang kehilangan bola matanya setelah operasi, menjadi alasan utama Rizwan menjadi seorang Okularis. Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Putri Rizwan Ilyasin yang kehilangan satu bola mata sejak umur dua bulan karena kanker, seorang dokter menyarankan kepada Ilyasin untuk melakukan operasi pengangkatan bola mata putrinya. Setelah melakukan operasi, Rizwan membelikan mata palsu untuk anaknya disalah satu Rumah Sakit di Jakarta, namun mata palsu tersebut membuat sekitar mata putrinya dipenuhi kotoran. Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Setelah menggunakan bola mata palsu yang dibeli di salah satu rumah sakit di Jakarta dengan kualitas yang kurang bagus, mata putri Rizwan Ilyasin selalu mengeluarkan kotoran. Kecewa usai beberapa kali membeli bola mata palsu namun mata putrinya tersebut tetap mengeluarkan kotoran, akhirnya Rizwan Ilyasin berniat membuatnya sendiri. Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Awalnya Rizwan Ilyasin belajar membuat mata palsu dengan menonton video di Youtube namun hal itu masih dirasa kurang, akhirnya dirinya belajar dengan para Okularis yang ada di Indonesia. Namun setelah membuat mata palsu untuk anaknya, hasilnya masih sama, putrinya tetap selalu mengeluarkan kotoran setelah menggunakan mata palsu tersebut. Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Setelah dua tahun sudah berusaha belajar membuatkan bola mata palsu untuk putrinya dengan kualitas yang terbaik, namun Rizwan Ilyasin belum mendapatkannya. Hingga akhirnya pada pertengahan tahun 2017 Rizwan Ilyasin kembali mencari informasi tentang Okularis dengan mengirim surel ke beberapa Okularis di beberapa negara di dunia. Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Dari beberapa surel yang dikirim ke sejumlah Okularis di berbagai negara, akhirnya surel milik Rizwan Ilyasin dibalas oleh seorang Okularis bernama John Pacey-Lowrie asal Inggris. Dalam surelnya, Rizwan mengajukan permohonan untuk diajarkan membuat mata palsu dengan kualitas terbaik yang akan digunakan oleh putri tercintanya. Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Pada Juni 2017, John Pacey datang dan mengajarkan Rizwan selama dua minggu. Karena sebelumnya Rizwan telah memiliki bakat pembuatan mata palsu, proses belajar yang dilaluinya lebih singkat. Usai mendapatkan ilmu dari John, akhirnya Rizwan Ilyasin membuka klinik Ilyarsin Okularis dirumahnya yang berlokasi Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Teknik yang digunakan oleh Rizwan Ilyasin untuk membuat bola mata palsu adalah dengan metode pencetakan, di mana pasien harus datang dan mencetak bagian ruang untuk bola mata. Dengan proses 3 hari atau 3 kali pertemuan dengan pasien. Harga satu mata palsu buatan Ilyasin seharga Rp 7 juta, namun Ilyasin memberikan mata palsu gratis kepada pasien yang kurang mampu. (Merahputih.com/Rizki Fitrianto)