DCF 2019 Sukses, Tapi ... Dieng Culture Festival 2019 (Merahputih.com/Rizki Fitrianto)

DI tanggal 2 hingga 4 Agustus lalu, Dataran Tinggi Dieng semakin ramai. Hal itu karena diadakannya Dieng Culture Festival (DFC), sebuah acara budaya yang sudah digelar selama 10 tahun. Berdasarkan informasi, tahun ini pihak penyelenggara menyediakan lebih dari 5000 tiket.

Merahputih.com diberi kesempatan oleh salah satu marketplace bidang travel Open-Trip.id untuk ikut menyaksikan bagaimana kemeriahan DFC 2019. Bersama 200 lebih peserta travel, Merahputih.com berangkat dari Semanggi, Jakarta, Kamis (1/8) pukul 19.30 Wib dan sampai pukul 06.00 Wib, keesokan harinya.

Baca juga: Instagram dan WhatsApp bakal Ganti Nama

Namun, perjalanan panjang dari Jakarta ke Dataran Tinggi Dieng terbayarkan. Hawa dingin negeri di atas awan begitu terasa, bahkan di saat matahari bersinar terang. Sangat wajar memang, karena kawasan vulkanik aktif di Jawa Tengah ini berada di ketinggian sekitar 2000 mdpl.

Mengenalkan tradisi lokal ke masyarakat

Banyak masyarakat menjadi tahu tentang tradisi ini (Merahputih.com/Rizki Fitrianto)
Banyak masyarakat menjadi tahu tentang tradisi ini (Merahputih.com/Rizki Fitrianto)

Meski agenda utama adalah pemotongan rambut gembel yang sarat dengan ritual tradisional, pengunjung Dieng Cultur Festival semakin meningkat. Di tahun ini tiket yang jumlahnya lebih dari 5000 buah langsung ludes dalam waktu singkat. Belum lagi pengunjung tanpa tiket.

Baca juga: Gugun Blues Shelter Panaskan Dieng Culture Festival 2019

Pihak Pemerintah daerah Banjarnegara mengatakan DFC adalah ajang mengenalkan keindahan alam sekaligus budaya tradisional masyarakat Dieng ke khalayak luas. Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono atau lebih sohor dengan panggilan Wing Tjien, mengklaim ada peningkatan wisatawan mancanegara setiap acara DFC diadakan.

"Alhamdulillah untuk kali ini, kalau untuk wisatawan asing tahun lalu 1200 ya. Tahun ini bisa 1500. Jadi mereka berkunjung malah lebih awal," ucapnya kepada Merahputih.com.

Banyak yang penasaran

Jazz Di Atas Awan Hangatkan Dieng Culture Festival 2019 (Merahputih.com / Rizki Fitrianto)
Jazz Di Atas Awan Hangatkan Dieng Culture Festival 2019 (Merahputih.com / Rizki Fitrianto)

Sebelum acara DFC terkenal, tradisi pemotongan rambut gembel di masyarakat Lereng Dieng belum banyak diketahui. Apalagi dulu ruwatan untuk anak dengan rambut gembel hanya dilakukan di lingkungan keluarga dan tetangga sekitar, layaknya acara khitanan atau pernikahan.

Baca juga: Jungkat Jungkit Pink di Perbatasan Amerika-Meksiko

Salah satu yang penasaran mengenai tradisi ini adalah Erna, pengunjung asal Cikarang, Bekasi. Bersama suami dan kedua anaknya, Erna sudah mencari tahu tentang kegiatan Dieng Culture Festival. "Udah rencana dari awal Maret kemren. Setelah searching-searching tentang DCF, Maret kita cari-cari travel," tuturnya.

Namun, meski acara utama adalah pemotongan rambut gembel, rangkaian kegiatan lainnya seperti Jazz di Atas Awan malah menjadi tujuan utama banyak pengunjung, khususnya kaum milenial. Bukan rahasia lagi, setiap tahunnya DFC memang menghadirkan musisi papan atas.

"Jazznya kemaren (hari kedua) sih penasaran, kayak penasaran aja sama budaya-budaya di sini," kata Maria yang datang dari Jakarta bersama ketiga sahabatnya.

Akan ada yang hilang di tahun depan

Lampion Menghias Langit Dieng (Merahputih.com/Rizki Fitrianto)
Lampion Menghias Langit Dieng (Merahputih.com/Rizki Fitrianto)

Sayangnya, tahun depan pengunjung tak akan lagi menyaksikan pelepasan lampion di acara Dieng Culture Festival. Hal itu karena tahun ini adalah DFC terakhir yang melakukan pelepasan lampion. Pemberitahuan ini dapat dilihat pada akun Instagram resmi DFC.

"Terima kasih Indonesia, ini adalah tahun terakhir Dieng Culture Festival dengan lampion, tahun depan kita tidak akan menggunakan lampion lagi. Terima kasih yang telah mendukung kami kalian yang terbaik sampai jumpa di jazzatasawan 2020," tulis @festivaldieng di halaman instastorynya.

Baca juga: Festival Domba Batur 2019

Sebelumnya Alif Fauzi, ketua panitia DFC mengaku pelepasan lampion memang cukup menjadi polemik. Banyak yang menilai itu adalah sumber sampah dan dikhawatirkan menjadi penyebab kebakaran hutan. Meski pihak penyelenggara sudah melakukan upaya mengantisipasi masalah tersebut. Misalnya, melarang pengunjung untuk membeli lampion dari luar, nampaknya hal itu tak berhasil.

"Padahal kami sudah mengantisipasi. Sudah kita ukur (jarak terbang lampion) tapi tetap ada saja yang menjual lampion di luar. Kita juga sengaja menghilangkan jadwal pelepasan lampion. Ini adalah dilema yang luar biasa," terangnya. (*)

Kredit : yani


Muchammad Yani