Daun Ketepeng dan Benalu untuk Obat Herbal COVID-19 LIPI tengah mengembangkan obat herbal untuk COVID-19. (foto: pixabay/fernandozhiminaicela)

SEJAK pandemi virus corona merebak, nagar-negara dunia berlomba menggelar penelitian untuk menemukan vaksin yang tepat. Indonesia pun ikut ambil bagian dalam usaha itu. Dilansir Hellosehat, pemerintah Indonesia membentuk konsorsium ilmuwan dari beberapa lembaga penelitian dan universitas. Dalam konsorsium itu, Pusat Penelitian Kimia LIPI ditugasi mengembangkan obat herbal COVID-19.

Dalam upaya itu, dua tanaman, yakni daun ketepeng (Cassia alata) dan benalu (Dendrophthoe sp.) diteliti dan diuji sebagai obat herbal COVID-19. Penelitian itu dijalankan LIPI bekerja sama dengan Departemen Mikrobiologi FKUI dan Kyoto University.

BACA JUGA: Bahaya Hipertensi Bagi Pasien COVID-19

Ketepeng merupakan tanaman herbal yang terdaftar dalam formularium ramuan obat tradisional Indonesia di Kementerian Kesehatan. Daun ketepeng telah diteliti dan terbukti memiliki beberapa khasiat, salah satunya sebagai antiparasit dan obat kulit. Sementara itu, tanaman benalu pernah diujikan pada hewan sebagai obat antikanker.

daun ketepeng
Daun ketepeng. (foto: bibitbunga.com)

Dari penelitian sebelumnya, ketepeng terbukti aktif menghambat pertumbuhan virus dengue penyebab demam berdarah. Pemanfaatan daun ketepeng terhadap virus dengue telah melewati uji praklinis pada tikus mencit. Hasilnya, daun itu bisa menurunkan jumlah virus, meningkatkan jumlah trombosit, serta memperbaiki kadar komponen sistem imunitas.

Penelitian tersebut dilakukan Marissa Angelina, peneliti bidang farmasi kimia Pusat Penelitian LIPI, yang saat ini mengembangkan obat herbal COVID-19. Marissa mengatakan kedua tumbuhan herbal Indonesia itu berpotensi dikembangkan menjadi obat herbal infeksi corona virus. “Daun ketepeng dan benalu memiliki senyawa yang diprediksi berperan aktif sebagai antivirus,” jelasnya.

LIPI mulai meneliti khasiat dua bahan herbal itu terhadap virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 sejak awal Maret 2020. Peneliti melakukan simulasi in silico pada dua tanaman itu. In silico adalah riset studi penemuan obat menggunakan pemodelan komputer dengan program khusus. Dengan pemodelan tersebut, peneliti melakukan percobaan interaksi antara kandidat obat dan genetika virus. “Kami melakukan pengujian simulasi in silico dengan protein yang terdapat pada virus SARS-CoV-2,” jelasnya.

benalu
Daun benalu. (foto: farmasetika.com)


Dari simulasi tersebut, peneliti melihat senyawa dalam tanaman herbal daun ketapang dan benalu aktif menghambat pertumbuhan virus penyebab COVID-19. “Pengujian in silico dan pengujian toksisitas keamanan, kita sudah mengerjakan. Namun, untuk pengujian aktivitas SARS-CoV-2 pada hewan belum bisa kita kerjakan karena kultur virusnya belum tersedia,” terang Marissa.

Dua kandidat obat herbal COVID-19 ini membutuhkan uji praklinis sebelum bisa benar-benar digunakan pada manusia. Pada fase itu, peneliti akan melihat efek obat pada hewan. Namun, pengujian tahap itu belum bisa dilakukan karena kultur virus belum tersedia.

Meskipun demikian, Marissa berharap kandidat obat herbal COVID-19 ini bisa langsung diuji klinis ke manusia tanpa praklinis ke hewan. Hal itu mengingat kondisi pandemi ini sangat membutuhkan obat yang mampu membantu petugas medis melawan COVID-19. “Kita berharap bisa langsung melakukan uji klinis karena obat ini sudah aman. Kandungan kimianya sudah kita ketahui dan kita juga telah melakukan isolasi kandungan senyawa kimia tersebut,” kata Marissa.

Akselerasi pengujian ke tahap uji klinis butuh izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan. Temuan obat herbal COVID-19 ini tentu saja menjadi angin segar untuk penyelesaian pandemi di Indonesia.(*)

BACA JUGA: Bantu Perangi COVID-19, Fitbit akan Produksi Ventilator untuk Pasien

Kredit : dwi

Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH