Dampak Perang Rusia Ukraina Berlanjut, Berbagai Negara Hadapi Resesi Puing-puing pasar terbuka yang hancur akibat serangan militer, saat serangan Rusia di Ukraina berlanjut, di Sievierodonetsk, Luhansk, Ukraina, 16 April 2022. (ANTARA/Reuters/Serhii Nuzhnenko/as)

MerahPutih.com - Perang yang berkelanjutan di Ukraina, harga komoditas yang bergejolak, harga pangan dan energi yang sangat tinggi, serta kondisi ekonomi Tiongkok, membuat dunia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Dana Moneter Internasional (IMF) diproyeksi kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2022 ini menyusul langkah Bank Dunia dan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang telah memotong perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia.

Baca Juga:

Ukraina Klaim Berhasil Tangkis Serangan Rusia di Wilayah Timur

Pada April, IMF telah memangkas perkiraannya untuk pertumbuhan ekonomi global hampir satu poin persentase penuh menjadi 3,6 persen pada 2022 dan 2023. IMF akan merilis pembaruan untuk Prospek Ekonomi Dunia pada pertengahan Juli.

Juru bicara IMF Gerry Rice mengatakan, pada briefing reguler IMF, prospek keseluruhan berada pada tingkat yang lebih lambat, tetapi beberapa negara mungkin menghadapi resesi.

"Jelas sejumlah perkembangan telah terjadi yang dapat membuat kami merevisi lebih jauh. Begitu banyak yang telah terjadi dan (sedang) terjadi dengan sangat cepat sejak terakhir kali kami datang dengan perkiraan kami."

Bank Dunia pada Selasa (7/6) memangkas perkiraan pertumbuhan globalnya hampir sepertiga menjadi 2,9 persen untuk 2022, mengutip kerusakan yang bertambah dari invasi Rusia ke Ukraina dan pandemi COVID-19, sambil memperingatkan tentang meningkatnya risiko stagflasi.

Sedangkan OECD memangkas perkiraannya sebesar 1,5 poin persentase menjadi 3,0 persen, meskipun dikatakan ekonomi global harus menghindari serangan stagflasi gaya tahun 1970-an.

"Kami melihat pertemuan krisis ini. kombinasi dari semua hal ini menuju ke arah yang sama dari risiko penurunan yang terwujud," kata Rice dikutip dari Antara.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengunjungi basis pasukan Ukraina, saat serangan Rusia di Ukraina berlanjut, di Soledar, di wilayah Donetsk, Ukraina, 5 Juni 2022. (Layanan Pers/Kepresidenan Ukraina via Reuters/as)
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengunjungi basis pasukan Ukraina, saat serangan Rusia di Ukraina berlanjut, di Soledar, di wilayah Donetsk, Ukraina, 5 Juni 2022. (Layanan Pers/Kepresidenan Ukraina via Reuters/as)

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pengetatan kebijakan moneter yang terlalu cepat dan ketat dinilai tidak berdampak signifikan terhadap penurunan tingkat inflasi.

Ia memaparkan, tingkat inflasi yang meninggi di berbagai negara disebabkan oleh produksi atau suplai yang tidak dapat memenuhi peningkatan permintaan, sementara percepatan pengetatan moneter hanya akan menyasar sisi permintaan.

"Kalau kebijakan makro yaitu fiskal dan moneter terlalu cepat atau ketat, yang tujuannya akan lebih cepat mempengaruhi sisi demand (permintaan), sebetulnya tidak menyelesaikan masalah sisi suplainya," kata Menkeu Sri Mulyani dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI.

Ia menuturkan, suplai komoditas unggulan seperti minyak mentah, gas, batu bara, gandum, dan jagung, tertahan karena perang Rusia-Ukraina dan pandemi COVID-19.

"Jadi inflasi di dunia saat ini dikontribusi dari sisi produksi atau suplai itu lebih dominan dibandingkan kontribusi dari sisi permintaan akibat perang maupun pandemi," ujarnya. (*)

Baca Juga:

Sanksi Embargo Minyak Rusia Gagal, Presiden Ukraina Sindir Uni Eropa

Kanal
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Korut Alami Peningkatan Angka Kematian Karena COVID-19
Dunia
Korut Alami Peningkatan Angka Kematian Karena COVID-19

Para ahli mengatakan Korea Utara tampaknya tidak memiliki kapasitas untuk menguji puluhan ribu pasien bergejala tersebut.

Inflasi Tinggi Bukti Pelemahan Ekonomi Sudah Terjadi
Indonesia
Inflasi Tinggi Bukti Pelemahan Ekonomi Sudah Terjadi

Tekanan terhadap inflasi dan melemahnya nilai tukar rupiah akan menyebabkan harga bahan baku naik

Menteri Haji dan Umrah Arab Sebut Jamaah Asal Indonesia Jadi Prioritas
Indonesia
Menteri Haji dan Umrah Arab Sebut Jamaah Asal Indonesia Jadi Prioritas

Kedua belah pihak juga akan terus melakukan komunikasi secara intensif

PDIP Sosialisasikan Cegah Stunting pada 500 Ibu Hamil
Indonesia
PDIP Sosialisasikan Cegah Stunting pada 500 Ibu Hamil

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto mengatakan, partainya menyadari pentingnya membangun kesadaran masyarakat secara luas terhadap pencegahan masalah gizi kronis pada anak atau stunting.

Menelisik Akar Budaya Rusia-Ukraina, Kakak Beradik yang Kini Terlibat Perang
Indonesia
Menelisik Akar Budaya Rusia-Ukraina, Kakak Beradik yang Kini Terlibat Perang

Serangan militer Rusia ke Ukraina sejak 24 Februari lalu merupakan konflik antarsaudara kandung.

Risiko Meningkat, OPEC Menurunkan Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Global
Indonesia
Risiko Meningkat, OPEC Menurunkan Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Global

Kelompok produsen minyak itu juga memperkirakan bahwa permintaan minyak global akan mencapai rata-rata sekitar 100 juta barel per hari (bph).

Garuda Indonesia Tekor Karena Ingin Tersohor Dunia
Indonesia
Garuda Indonesia Tekor Karena Ingin Tersohor Dunia

PT Garuda Indonesia Tbk akan bergabung dengan Holding BUMN PT Aviasi Pariwisata Indonesia/Aviata (Persero) pada 2023.

Gempa Magnitudo 6,2 Guncang Maluku Barat Daya
Indonesia
Gempa Magnitudo 6,2 Guncang Maluku Barat Daya

Gempa berkekuatan magnitudo (M) 6,2 terjadi di Maluku Barat Daya pada Rabu (2/2), sekitar pukul 02:25 WIB dini hari.

NasDem Sambut Baik Anies Siap jadi Capres 2024
Indonesia
NasDem Sambut Baik Anies Siap jadi Capres 2024

“Alhamdulillah. Jadi kalau Anies sudah menyatakan bersedia ya terima kasih. Alhamdulillah karena memang dia salah satu yang dicalonkan oleh NasDem selain nama Ganjar dan Andika,” ujarnya

Densus 88 Tangkap 16 Terduga Teroris di Sumbar
Indonesia
Densus 88 Tangkap 16 Terduga Teroris di Sumbar

Jumat (25/3) kemarin, Densus berhasil menangkap belasan terduga terorisme di wilayah Sumatera Barat (Sumbar).