Dampak Negatif Mengandalkan Media Sosial Sebagai Sumber Informasi Warganet yang cari berita di sosial media cenderung membatasi diri dari sumber berita lain. (Foto: Pexels/Magnus Mueller)

SEBAGIAN besar warganet mengandalkan media sosial sebagai sumber informasinya. Mulai dari berita tentang selebriti hingga berita seputar kesehatan.

Sangat mudah mendapatkan sebuah informasi dari berita yang melenggang secara bebas melalui feed. Dimanjakan oleh kemudahan mendapatkan berita di sosial media membuat kita enggan mencari berita yang berasal dari jurnalisme yang baik.

Baca Juga:

4 Kemampuan Penting yang Mampu Tingkatkan Literasi Media

media
Warganet merasa cukup mendapatkan informasi melalui sosial media. (Foto: Pexels/picjumbocom)

Ketika kita terbuai dengan keyakinan bahwa kita tidak perlu lagi mencari jurnalisme yang baik, kita bisa menjadi bagian dari masalah ketidaktahuan dan berujung pada jebakan hoaks. Dan kita dapat membuat penilaian etis yang kurang tepat tentang para pencari berita yang sesungguhnya.

Di tahun 2018, Newman menyebutkan lebih dari 60 persen warganet mengandalkan seluruhnya atau sebagian pada platform media sosial untuk sumber berita mereka. Banyak orang-orang itu percaya bahwa mereka memiliki "diet berita" yang baik.

Pada kenyataannya mereka terjebak pada berita keliru. Parahnya lagi, sebagian besar cenderung merasa ahli beropini atau menjadi pakar daripada pelaporan berita yang sebenarnya. Lebih lanjut, apa yang mereka lihat di feed mereka tidak dirancang untuk meningkatkan kesadaran mereka akan dunia dan lebih untuk mengawasi platform media sosial.

Menurut Bazelon, konten yang memicu emosi panas cenderung berhasil menghasilkan klik dan berbagi. Itulah yang cenderung dipromosikan oleh algoritme platform. "Penelitian menunjukkan kebohongan lebih cepat menjadi viral daripada pernyataan yang benar,” tutur Bazelon.

Media sosial menawarkan ilusi literasi berita tetapi apa yang sebenarnya diberikannya hanyalah sedikit kebenaran yang menyenangkan. Ia menjadi jendela dunia yang setengah tertutup. Ketergantungan akan media sosial kita yang berlebihan menggoda kita untuk membuat pernyataan tentang dunia, tentang jurnalisme.

Baca Juga:

Literasi Media Sebagai Pendekatan Abad ke-21

media
Warganet yang mengandalkan sosial media untuk sumber informasi sering terjebak dalam hoax. (Foto: Pexels/Andrew Neel)

Banyak warganet yang mempertanyakan, "Mengapa media tidak meliput ini?" ketika sebuah berita panas lebih cepat mencuat di sosial media. Padahal, kenyataannya, jurnalis telah meliput berita yang dipermasalahkan. Sayangnya, pekerjaan mereka tidak pernah muncul di akun media sosial atau seluruh dunia tidak mencurahkan banyak perhatian padanya.

Salah satu fakta menyedihkan yang begitu menyesatkan adalah ketika warganet mulai percaya bahwa berita apa pun yang mereka dilihat di sosial media dirasa sudah cukup dan komprehensif. "Ketergantungan saya yang berlebihan pada sosial media menimbulkan perasaan bahwa saya lebih terinformasi," ujar Gil de Zuñiga. Menurut Gil de Zuñiga, orang-orang dengan konsep berpikir demikian juga kurang termotivasi untuk memilih.

"Ini juga telah dikaitkan, secara terbatas, dengan sinisme politik," ujar pakar komunkasi lainnya, Diehl. Lebih lanjut, orang-orang yang sangat bergantung pada umpan media sosial mereka lebih rentan terhadap berita tabloid dan informasi yang salah.

Dan itu bisa dibilang bencana bagi sejumlah besar jurnalisme penting yang diproduksi setiap hari. Jika orang yang berorientasi dengan sosial media tinggi merasa tidak perlu berusaha untuk menemukannya, mereka lebih percaya diri melontarkan penilaian yang tidak tepat tentang berita yang tidak mereka lihat. Literasi berita, dengan kata lain, seringkali menjadi mata rantai yang hilang dalam etika media.

Ada alasan moral penting untuk menolak siklus kepercayaan palsu di media sosial dan untuk benar-benar mencari jurnalisme yang baik. Aristoteles mengartikulasikan kewajiban moral untuk menumbuhkan karakter yang baik sehingga kita dapat berkontribusi kepada masyarakat sebagai warga negara yang berbudi luhur. Di antara tugas yang dikatakan oleh filsuf W.D. Ross yang kita semua miliki adalah tugas untuk perbaikan diri. (avia)

Baca Juga:

Literasi Media dan Digital, Kini Jadi Keterampilan yang Sangat Dibutuhkan

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
3 Penginapan Mewah Terbaik di Walt Disney World
Fun
3 Penginapan Mewah Terbaik di Walt Disney World

Penginapan mewah di Disney World akan membuat perjalanan liburan kamu tak terlupakan.

Rekor Baru, Tamatkan Elden Ring Kurang dari 10 Menit
Fun
Rekor Baru, Tamatkan Elden Ring Kurang dari 10 Menit

Hingga April 2022, catatan tersebut menjadi rekor dunia yang amat mungkin sulit untuk dikalahkan.

Petisi Hilangkan Amber Heard dari 'Aquaman 2' Capai 2,6 Juta Tanda Tangan
ShowBiz
Suara Kayu Rilis EP Kedua Bertajuk 'Kumpulan Cerita Pendek'
ShowBiz
Suara Kayu Rilis EP Kedua Bertajuk 'Kumpulan Cerita Pendek'

Suara Kayu digawangi oleh Ingrid Tamara dan Dewangga Elsandro.

Kota Jala, Penghasil Biji Jagung Terbesar di Dunia
Hiburan & Gaya Hidup
Kota Jala, Penghasil Biji Jagung Terbesar di Dunia

Dengan tongkol yang berukuran panjang 39,5 cm.

Pemuda Nigeria Bangun Mobil Listrik Panel Surya di Bengkelnya Sendiri
Fun
Beberapa Perilaku Manusia yang Dibenci Anjing Peliharaan
Fun
Beberapa Perilaku Manusia yang Dibenci Anjing Peliharaan

Orang mengira bahwa anjing suka disayang di kepala

Pesan Moral dari Kuburan Band di Single 'Jauhi Narkoba Utamakan Keluarga'
ShowBiz
Pesan Moral dari Kuburan Band di Single 'Jauhi Narkoba Utamakan Keluarga'

Judul single ini juga merupakan salah satu moto dari Kuburan band.

Yuk, Nostalgia OST Film 'Gita Cinta dari SMA' dan 'Puspa Indah Taman Hati'
ShowBiz
Yuk, Nostalgia OST Film 'Gita Cinta dari SMA' dan 'Puspa Indah Taman Hati'

Soundrack Gita Cinta dari SMA dan Puspa Indah Taman Hati populer pada masanya.