Dampak Deklarasi 'Ronde 2' Kemenangan Prabowo Tak Bisa Dianggap Enteng, Potensi Krisis? Pengamat politik Muhammad AS Hikam (MP/Ponco Sulaksono)

MerahPutih.Com - Pengamat politik dan akademisi Muhammad AS Hikam memperingatkan dampak deklarasi 'ronde 2' kemenangan Prabowo dalam konteslasi politik Tanah Air.

Menurut mantan menteri era Gus Dur ini, klaim kemenangan 62 persen Prabowo-Sandi sebelum perhitungan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) selesai, merupakan sebuah strategi politik yang direncanakan.

"Saya, sebagai pengamat politik, cenderung mengatakan bahwa langkah atau manuver politik PS-SU ini bukan tidak dipikirkan dan direncanakan dengan perbagai pertimbangan yang menurut mereka sudah valid dan efektif untuk meyakinkan bahwa merekalah sang pemenang Pilpres 2019," kata Hikam di Jakarta, Jumat (19/4).

Dosen President University Lippo Cikarang itu menambahkan, keputusan melakukan deklarasi tak bisa dilepaskan dari beberapa hal seperti rencana-rencana gelar "people power", sujud syujur massal di Masjid Istiqlal, dan tudingan adanya berbagai kecurangan dalam survei dan "quick counts" (QC) yang dilakukan berbagai lembaga survei.

Deklarasi kemenangan ronde 2 Prabowo-Sandi
Ekspresi Sandi saat dampingi Prabowo dalam deklarasi kemenangan (MP/Ponco Sulaksono)

"Deklarasi ini, sebagai sebuah manuver politik, merupakan sebuah sebuah "fait accompli" politik dan pengkondisian untuk manuver-manuver lanjutan sebelum dan pasca-pengumuman resmi KPU nanti," imbuh Hikam.

Jika melihat manuver Prabowo ini, Hikam diingatkan pada peristiwa pertarungan elite politik di Venezuela beberapa waktu lalu, ketika Presiden Nicolas Maduro (NM) ditandingi dan di "gantikan" Juan Guiado (JG) yang mengklaim sebagai Presiden yang 'legitimate' secara politik.

Ujung-ujungnya krisis politik pun mendera negara yang pernah dipimpin Hugo Chavez (HC) tersebut.

"Perebutan kekuasaan itu makin susah diselesaikan karena negara-negara adikuasa seperti AS dan sekutunya mendukung JG sedangkan Rusia dan beberapa negara lain di Amerika Latin lebih mendukung NM," jelas profesor Hikam.

Hikam malah berharap, semoga Indonesia pasca-Pilpres 2019 tak mengalami krisi politik. Juga tak ada konspirasi "operation Venezuella" yang diorkestrasi kekuatan luar.

"Saya berharap ini hanyalah letupan ketidakpuasan dari pihak-pihak atau pribadi-pribadi yang saling bersaing ketat, ditambah dengan kekurang sabaran mengikuti proses politik demokratis," jelas dia.

Sebab seharusnya, lanjut Hikam, sebagai bangsa layak bangga dengan proses Pilpres yang bisa dikatakan paling akbar di dunia dan berlangsung demokratis, jujur, adil, bebas, dan rahasia.

"Karena kemampuan inilah Indonesia mampu menjadi salah satu ikon berdemokrasi saat ini dan ummat manusia di seluruh dunia menjadi saksinya," tandas Muhammad AS Hikam.(Knu)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH