Dalam Hal Orgasme, Siapa yang Lebih Banyak Mencapainya? Perempuan atau Pria? Ilustrasi. (Foto: pixabay.com)

SEMAKIN banyak studi yang mengungkap adanya ‘kesenjangan orgasme’, yang mengacu pada teori bahwa pria lebih sering mencapai orgasme ketimbang perempuan. Pertanyaannya, mengapa kesenjangan itu bisa terjadi dan bagaimana menyetarakannya?

Faktanya, sekitar 40 persen perempuan mengalami disfungsi seksual yang mengarah pada kesulitan untuk mencapai orgasme. Namun, kini para ahli menawarkan jawabannya.

“Semua kelompok pria, baik gay, biseksual, maupun heteroseksual, mencapai orgasme lebih sering ketimbang sekelompok perempuan,” jelas David Frederick, asisten profesor psikologi di Chapman University, yang telah mempelajari seksualitas manusia. "Wanita lesbian mencapai orgasme lebih sering daripada wanita heteroseksual. Namun, jumlah itu masih kurang sering daripada pria," imbuhnya.

Frederick menyebut yang membuat perempuan mencapai orgasme ialah fokus terhadap spekulasi yang intens. Ia juga menyebut banyaknya artikel majalah dan daring yang memberi tips bagi perempuan untuk mencapai orgasme lebih mudah. “Inilah yang menjadi fokus dari seluruh buku. Bagi banyak buku, orgasme menjadi bagian paling penting dalam hubungan seksual,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Frederick, kesenjangan kuantitas pencapaian orgasme antargender bisa saja karena faktor sosial budaya atau evolusi. "Perempuan memiliki ketidakpuasan terhadap tubuh yang lebih tinggi daripada laki-laki. Itulah yang mengganggu kehidupan seks mereka. Hal itu amat berdampak pada kepuasan seksual dan kemampuan untuk mencapai orgasme. Pasalnya, orang lebih fokus pada masalah bentuk tubuh ketimbang pengalaman seksual," jelasnya.

Ada lebih banyak stigma terhadap perempuan yang memulai hubungan seks dan mengekspresikan fantasi seksual. Selain itu, dalam sebuah hubungan heteroseksual, pihak yang menginginkan lebih banyak hubungan seks biasanya ialah kaum pria. “Oleh karena itu, mungkin seorang perempuan berhubungan seks ketika sedang tidak mood, sehingga kemungkinan untuk mencapai orgasme pun kecil sekali,” ujar Frederick.

Faktor lain yang mendukung terjadinya ‘kesenjangan orgasme’, yakni terkait dengan reproduksi. Untuk terjadinya ovulasi, pria harus mencapai orgasme. Namun, dalam hal perempuan, hubungan antara mencapai orgasme dan terjadinya ovulasi belum jelas.

"Satu teori bahwa pada zaman nenek moyang manusia, orgasme terjadi lebih mudah karena fungsinya untuk menyebabkan ovulasi terjadi. Hal ini terjadi di banyak hewan," kata Frederick. "Setelah siklus menstruasi bulanan mulai mengatur ovulasi, orgasme tidak lagi menjadi bagian reproduksi bagi perempuan. Ini menyebabkan pencapaian orgasme menjadi lebih bervariasi pada wanita, juga menjelaskan mengapa perempuan mencapai orgasme lebih jarang ketimbang pria."

Elisabeth Lloyd, seorang profesor biologi dan filsafat di Indiana University-Bloomington yang turut menulis penelitian tentang anatomi genital dan orgasme dalam hubungan seksual, menyebut beberapa perempuan mungkin memiliki anatomi yang memungkinkan mereka mencapai orgasme secara teratur.

Dalam jurnal Hormones and Behavior yang dipublikasikan pada 2011, jarak yang lebih pendek antara klitoris dan pembukaan kemih, tempat urine dilepaskan, dapat meningkatkan kemungkinan perempuan mencapai orgasme.

"Kami menemukan bahwa jarak antara klitoris dan pembukaan kemih, yang disebut CUMD, menunjukkan apakah seorang wanita cenderung mengalami orgasme lewat hubungan seksual atau tidak. Jika jarak itu di bawah 2 cm, ia kemungkinan akan mencapai orgasme lewat hubungan seksual," kata Lloyd. Namun, menurut Lloyd, jika jarak itu 3 cm atau lebih, amat mungkin perempuan itu tidak akan mencapai orgasme dalam hubungan seksual.

“Inilah temuan kami yang telah dikonfirmasi melalui tes lainnya. Artinya, jika seorang perempuan tidak mengalami orgasme dari hubungan seksual, itu bukan salahnya atau salah pasangannya. Ini bukan salah siapa-siapa. Itu mungkin karena anatomi tubuhnya,” ujar Lloyd.

Meskipun demikian, perempuan dengan disfungsi anatomi tersebut tetap bisa mencapai orgasme. Lloyd merekomendasikan untuk mencoba ‘rangsangan manual klitoris selama hubungan seksual’.

"Wanita yang memiliki hubungan seksual yang lebih baik dengan pasangan mereka juga memiliki hubungan yang lebih puas pada umumnya. Itu meningkatkan kualitas hubungan mereka," kata Lloyd. "Jadi secara umum, kehidupan seks yang lebih baik mengarah ke hubungan yang lebih baik. Hubungan yang baik mengarah ke kehidupan seks yang lebih baik. Ini semacam lingkaran," jelasnya.(*)

Baca juga Di Negara Ini, Warganya Mengaku Alami Orgasme Yang Memuaskan



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH