Daerah Minim Lakukan Pelacakan Kontak COVID-19 Ilustrasi kondisi wisma atlet. (Foto: Antara).

MerahPutih.com - Pemerintah pusat mengakui memiliki sedikit informasi tentang bagaimana pelacakan kontak (tracing) COVID-19 yang dilakukan oleh pemerintah daerah terutama tingkat kabupaten/kota.

"Kenyataannya dengan Indonesia yang besar ini, kami laporannya saja belum memiliki secara nasional untuk bisa menggambarkan tracing (pelacakan)-nya seperti apa yang dilakukan di setiap daerah," ujar Juru bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito.

Ia menegaskan, jika hanya mengandalkan Dinas Kesehatan, itu belum cukup. Karena itu, komando dari masing-masing kepala daerah menjadi penting mengingat Indonesia memiliki wilayah yang sedemikian besar dan merupakan negara kepulauan (archipelago). Kuncinya, tegas Wiku, penanganan mobilitas penduduk antardaerah.

Baca Juga:

7 Persen Pasien COVID-19 di RSD Wisma Atlet Tak Pernah Keluar Rumah

Wiku mengatakan jika hanya ima pemerintah provinsi dengan kasus COVID-19 terbanyak yaitu Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan menangani mobilitas penduduk itu dengan baik, maka penanganan COVID-19 bisa efektif.

"Itu adalah kunci, bahwa kita harus membatasi mobilitas penduduk. Karena Indonesia yang besar dan archipelago. Pemerintah daerah yang punya kendali lebih besar," kata Wiku.

Penularan virus corona semakinn masif terjadi, sehingga terjadi penambahan pasien dalam jumlah cukup tinggi. Berdasarkan data hingga Sabtu pukul 12.00 WIB, terdapat 4.168 kasus baru COVID-19 dalam 24 jam terakhir. Hal itu menyebabkan total kasus COVID-19 di Indonesia kini mencapai 240.687 orang, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020.

Test Swab
Test swab massal yang dilakukan Polisi. (Foto: Kanugrahana).

Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo menilai, berdiam di rumah saja ternyata tidak menjamin seseorang tidak terpapar COVID-19.

"Apa buktinya? 7 persen pasien yang sekarang dirawat di rumah sakit Wisma Atlet adalah mereka yang tidak pernah keluar rumah," ujar Doni, Minggu (20/9).

Hal ini bisa disebabkan karena adanya anggota keluarga yang rutin melakukan aktivitas di luar rumah. Tanpa sadar dirinya membawa virus COVID-19 sehingga menimbulkan penularan.

"Kalau di rumah itu ada orang-orang atau keluarga yang secara rutin mengikuti aktivitas di luar rumah, ketika kembali bisa menjadi carrier, menjadi pembawa virus, pembawa COVID, bisa menulari juga," jelasnya.

Baca Juga:

PBNU: Tunda Pilkada Serentak 2020


Tags Artikel Ini

Alwan Ridha Ramdani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH